SHARE DAN BERBAGI DALAM KOMUNITAS SOSIAL MEDIA INDONESIA

SHARE DAN BERBAGI DALAM KOMUNITAS SOSIAL MEDIA INDONESIA

SHARE DAN BERBAGI DALAM KOMUNITAS SOSIAL MEDIA INDONESIA

SHARE DAN BERBAGI DALAM KOMUNITAS SOSIAL MEDIA INDONESIA

SHARE DAN BERBAGI DALAM KOMUNITAS SOSIAL MEDIA INDONESIA

Tampilkan postingan dengan label Sejarah Bima. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Bima. Tampilkan semua postingan

UPACARA HARI JADI KOTA BIMA KE 374, BERLANGSUNG KHIDMAT

Hari jadi Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat yang jatuh setiap tanggal 5 Juli selalu digelar dengan kemeriahan dan sejuta aksi dari masyarakat. Upacara memperingati hari jadi dilaksanakan di di Paruga Na’e Woha. Selain dilaksanakan di Paruga Na’e Woha, juga dilaksanakan upacara disetiap kecamatan. Hal ini didasarkan agar masyarakat dapat menghadiri upacara dan tidak perlu terlalu jauh untuk menghadiri upacaradi Paruga Na’e Woha.

Peringatan Hari Jadi

Penanggalan hari jadi didasarkan pada peletakan dasar agama Islam serta puncak dari kesultanan pada tahun 1640. Penetapan hari jadi memiliki beberapa alasan politik. Agar para pemuda Kabupaten Bima mengetahui dasar hari jadi Kabupaten Bima berdasarkan Islam bukan berdasarkan yang lain.

Peringatan hari jadi dilakukan dengan menggelar khataman massal. Masyarakat Bima yang terkenal akan religius sangat berantusias mengikuti khataman massal yang diselenggarakan pemerintah Kabupaten Bima. Pada tahun-tahun sebelumnya peringatan ulang tahun Kabupaten Bima selalu bergandengan dengan Kota Bima.

Namun sejak tahun 2011, Kabupaten Bima menggelar hari jadinya sendiri yang dipusatkan dibeberapa kecamatan di Kabupaten Bima. Puncak perayaan hari jadi dimeriahkan dengan pawai budaya, olahraga, panggang ikan, dan parade perahu nelayan.

Khataman Massal

Budaya masyarakat Kabupaten Bima yang agamis sesuai dengan visi dan misi Kabupaten Bima, menjadikan khataman massal sebagai upaya meningkatkan iman masyarakat Bima. Pemuda pemudi Kabupaten Bima menjadi terget sasaran kegiatan khataman massal.

Khataman massal ini dihadiri oleh santri dan santriwati dari 1000 TPA atau TPQ yang tersebar diseluruh Kabupaten Bima. Agar mereka menjadi masyarakat yang tidak hanya cerdas, namun juga memiliki pondasi yang kuat untuk menjalankan kehidupannya. Pondasi yang kuat itu dibentuk dari kuatnya keimanan yang mereka miliki.

Tawuran antar pelajar serta permusuhan beberapa kelompok akan hilang dengan dibentuknya jalinan silaturrahim yang kuat antar masyarakat. Budaya hidup berdasarkan Islam akan lebih membuat hati menjadi tenang dan dapat menjalani kehidupan dengan harmonis.

CLIP RAWA MBOJO



DORO MA LENGGO "GUNUNG SANGIANG"



Sejarah kawasan

Cagar Alam Pulau Sangiang ditunjuk berdasarkan SK Menhutbun No. 418/Kpts-II/1999 tanggal 15 Juni 1999 dengan luas 7.492,75 Ha. Secara astronomis terletak diantara 119o15’ – 119o40’ BT dan 8o5’ – 8o30’ LS. Secara administratif kawasan Cagar Alam Pulau Sangiang terletak di Kecamatan Wera Kabupaten Bima Propinsi Nusa Tenggara Barat.

Kawasan ini dibatasi oleh Laut Flores di sebelah utara, di sebelah selatan dibatasi dengan Laut Indonesia, di sebelah timur dengan Laut Sape dan di sebelah barat dengan Kabupaten Dompu.


Profil

Gunung api sangiang api (1986 MDPL) adalah suatu pulau gunung api yang terletak di bagian timur laut pulau Sumbawa yang memiliki luas +/- 215 km2 dan termasuk dalam wilayah desa sangeang, kecamatan wera, kabupaten bima, nusa tenggara barat. Secara geografis berada pada 80 11’ LS dan 1190 3,5’ BT.



Untuk menuju lokasi gunung sangeang api dari mataram dapat dicapai dengan menggunakan perjalaan darat dan pesawat udara, Perjalanan Darat dari Mataram sampai dengan Bima menelan waktu selama ±12 Jam perjalanan, kemudian dilanjutkan dengan kendaraan roda empat menuju desa sangeang api dalam waktu 3 jam, perjalanan dilanjutkan dengan menyeberabngi selat dari sangeang darat ke sangenag pulau menuju sori fanda yang letaknya di bagian selatan pulau sangiang dengan menggunakan perahu motor selama 2 jam. Untuk menuju puncak gunug api sangiang api harus ditempuh dengan berjalan kaki, diantaranya dari arah selatan dimulai dari Sori Fanda menyusuri Sungai Kering Bekas Aliran Lahar, kemudian keluar melalui Jalur Ilalang dan Punggungan yang di tumbuhi puluhan pohon sejenis Flamboyan, dengan waktu tempuh selama ± 9 Jam,  kemudian dilanjutkan dengan menyusuri parit kecil dan bekas aliran lahar dengan kondisi medan yang berpasir dan berkerikil menuju lembah antara Puncak sangiang Api dan Puncak Doro Ma ntoi. Lokasi pendakian menuju puncak sangiang Api dimulai dilembah ini dengan melewati padang Ilalang dan pasir halus serta bebatuan yang mudah Longsor, untuk mencapai Puncak Sangiang Api, Pendaki harus berjalan di atas bibir kawah kemudian turun ke Lembah Kawah mati dan dilanjutkan dengan pendakian menuju PUNCAK Sangiang Api dari arah utara Bibir kawah.



Topografi



Kondisi topografi merupakan daerah ± 90% bergelombang dan berbukit-bukit hingga bergunung-gunung dengan puncak tertinggi adalah Gunung Sangiang (1986 MDPL). Kondisi geologi terdiri dari tanah berdebu dan ditumbuhi oleh vegetasi yang lebat. Di dalam kawasan terdapat dua buah sungai yang mengalir sepanjang tahun yaitu sungai Sori Sola dan Sori Feto dan ada sumber-sumber air dekat dengan pantai.

Iklim

Berdasarkan klasifikasi iklim dari Schmidt-Ferguson kawasan Cagar Alam Pulau Sangiang bertipe iklim E. Jumlah curah hujan 283 mm dengan jumlah hari hujan 18 hari.

Sejarah Letusan


Berikut catatan letusan yang pernah terjadi :
  • 1512 letusan terjadi di salah satu atau kedua kawah pusatnya
  • 1715 kegiatan letusan teramati tanggal 23 maret 1812 oleh reinwardt.
  • 1860 menurut Reiche letusan terjadi sejak tgl 11 september hampir satu bulan.
  • 1911 letusan eksplosif, keluar asap hitam sehingga turun hujan abu di sebelah utara. Pada tanggal 13 februari 1911 hembusan asap di puncak terus menerus.
  • 1927 eksplosif normal (keterangan lebih lanjut tidak ada)
  • 1953 letusan terjadi tanggal 9 maret dengan pusat doro api, sebelumnya diawali terasa gempa bumi terasa diikuti letusan yang menyebabkan gelap sekitar 3 hari akibat jatuhan piroklastik (abu sampai lapili) di sekitar pulau sangeang. Hasil letusan lainnya berupa aliran lava di hulu Sori Oi (bagian barat) dan endapan lahar sekitrar Sori Oi hinga pantai membentuk endapan selebar 2 km serta dio Sori Miro juga sampai [pantai membentuk tanjung kecil. Akibat letusan tersebut penduduk di Joro Sangenag (Pusat perwakilan Sdesa Sangenag Darat) dan Toro Ponda yang jumlahnya sekitar 1250 jiwa diungsikan ke sangeang darat.
  • 1964 letusan terjadi tanggal 29 januari dengan pusat Doro Api diawamli oleh gempa bumi kemudian kepulan asap, bara api dan aliran lava yang mengalir ke arah barat daya (Sori Oi dan Hulu Sori Mbere,) serta kle arah tuimur laut (Soir Berano) penduduk yang bermukim di pulau Sangenag pada saat itu seluruhnya diunsikan ke sangeang darat.
  • 1985 letusan terjadi tanggal 30 Juli dengan pusat Doro Api menghasilkan enpdapan piroklastik (abu – lapili) ke atrah selatan dan membentuk aliran lava ke arah Sori Mbere (selatan). Penduduk yang mengungsi dari pulau sangenag ke sangenag darata sekitar 263 KK yang bersal dari Kp. Joro Sangenang, Toro Ponda, dan Donggo.
  • 1997 letusan terjadi tangal 24 Januari sdengan pusat Doro Api, menghasilkan enndapan pirolasitik (abu – lapili) ke arah timur dan membentuk aliran lava ke arah Sori oi (barat) menutupi lava 1985 dan ke arah Sori Berano (timur laut) menutupi lava 1964, sedangkan endapan awan panas mengisi lembah Sori Berano dan Sori Isu. Mankin ke muara endapan awan panas ini berangsur – angsur menjadi lahardan di muara Sori Isu lebarnya mencapai 300 m. Da bagian puncak Doro Api terdapat kawah baru hasil letusan tahun 1997 dengan diameter sekitar 60 meter kedalaman sekitar 15 m dari dasar kawah dan masih terus tumbuh, mengalir dan gugur ke lembah Sori Berano dan Sori Oi. Penduduk yang diubngsikan setelah terjadi letusan Januari 1997. seluruhnya sekitar 110 kk terutama bersal dari kampung Joro Sangngeang, toro Ponda, dan Donggo.
Gunung api sangiang termasuk dalam gunung aktif tipe A. Gunung api ini terbentuk strato dengan beberapa kawah, kubah dan sekitar 6 (enam) buah kerucut, yaitu : Doro Ondo (1846,71), Doro Monggo ( 1332, 44 mdpl), Doro Mantoi ( 1795,86 mdpl), Dewa Mboko (1462,71mdpl), Doro Ego (1547,34 mdpl) dan Doro Sangeang atau Doro Api (1986 MDPL). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa hasil pada kompleks gunung api sangenag api telah terjadi beberapa kali lertusan. Pusat kegiatan gununug api saat ini terletak di puncak Doro Api yang dikenal dengan nama gunung sangeang api.


Berdasar pada beberapa literatur (Kusukamdinata, 1979) sebelum periode letusan 1953 kaldera Gunug Sangeang api masih utuh di bagian utara dan timur, sisanya terdapat di sebelah barat –barat daya (Doro Monggo) dan sedikit di sebelah selatan (Doro Mantoi), sedangkan bagian selatan terbukla sama sekali, hingga pinggir sungainya menyerupai sebuah sepatu kuda. Setelah peristiwa pembentukkan kaldera maka di dasarnya terbentuk 3 (tiga) buah kerucut utamayaitu : Doro Ondom, Doro Api, dan Doro Mantoi. Doro Ondo dan Doro Api lahir di dalam kaldera, tetapi Doro Mantoi mungkin juga pada pematang lingkaran atau di luarnya (Keunen, 1953).


Doro Ondo merupakan kerucut tertua, tetapi mana yang lebih dulu terbentuk, Doro Api atau Doro Mantoi masih menjadi pertanyaan. Dilihat dari sejarah letusan terdahulu sampai dengan pemantauan tanggal 16 – 27 September 1998 (Heryadi & Rahmat, dkk) pusat aktifitas guung sangiang api terletak di Doro Api.


Berdasar pada sejarah erupsinya, gunung api Sangeang Api aktif meletus sebelum dan sesudah tahun 1953. setelah 1953 tercatat paling sedkit 5 kali dan dari letusan tersebut yang paling utama adalah letusan 1953, 1964, 1985, 1997 dan 1998 yang menghasilkan beberapa kawah, kubah lava, endapan awan panas, lahar disertai munculnya hembusan solfatara dan fumarolla pada dasar dan lereng kawah/kubah. Peningkatan kegiatan sebelumnya terjadi pada tahun 1512,1715,1860,1911,dan 1927.



Potensi


Kawasan Cagar Alam Pulau Sangiang mempunyai potensi flora dan fauna yang cukup penting diantaranya Kesambi (Schleicera oleosa), Maja (Crypterania puniculata), Bidara (Merrimis sp), dan Imba (Azodirachta indica). Sedangkan beberapa jenis fauna yang ada yaitu Rusa (Cervus timorensis), Raja Udang (Alcedo caerulies cens), Koakiau (Philemon buceroides) dan Elang (Haliastur indus).


Dikarenakan wilayah ini merupakan wilayah perlindungan, ekttifitas yang memungkinkan dilakukan adalah pendidikan. Namun di luar potensi tersebut, di Pulau Sangiang juga terdapat makam dua orang syech yang menyebarkan agama Islam pada jaman dahulu kala, yang terletak di Oi Kalo (Syech Syamsuri) dan Puncak Doro Ondo (Syech Syamsuddin). Di sekitar kedua makam ini merupakan daerah yang sangat kental nuansa religiusnya (keramat).

Sosial Ekonomi

Sebagian besar penduduk disekitar kawasan bermata pencaharian sebagai petani dan sebagian lagi berkebun, berdagang, nelayan dan PNS.


Bagaimana mencapai ?

  • Mataram – Bima, perjalanan Darat (12 Jam)
  • Bima – Wera (Ambalawi), kendaraan darat (3½ jam)
  • Wera –Sangiang Darat, kendaraan Darat (45 Menit)
  • Sangiang Darat – Pulau Sangiang, Perahu Boot (2 Jam)

Sumber : rumahilalang (informasi tentang alam)

SEJARAH DAN POTENSI WISATA DAERAH BIMA

Bima itu Mbojo mengandung makna bahwa orang-orang yang merasa dilahirkan dan dibesarkan dari peradaban tanah ini harus bersatu padu membangun daerah tanpa harus dipisahkan oleh sekat-sekat birokrasi, kepentingan politik maupun wilayah yang telah dimekarkan. 

Mbojo adalah sesuatu yang bulat dan utuh yang dihasilkan melalui kesepakatan para Ncuhi sebagai cikal bakal terbentuknya wilayah ini. Dengan Kata lain, bahwa Orang-Orang Mbojo atau Dou Mbojo adalah orang-orang yang bersatu, memegang teguh amanat, ulet dan pekerja keras. Untuk itu lah, Bima itu Mbojo memberikan gugahan makna kebersamaan, persatuan dan kesatuan serta persaudaraan yang kental seluruh elemen di Dana Mbojo. Terpanggil untuk memperkenalkan daerah Bima/ Mbojo kepada Masyarakat Luar dan lebih-lebih kepada Dou Mbojo itu sendiri agar tidak merasa asing akan daerah Bima / Dana Mbojo. 
Berikut ini kami coba sajikan secara acak berbagai Sejarah, Tradisi, Wisata / potensi wisatanya yang kami rangkum dari berbagai tulisan dan narasumber sebagai berikut :

BENTENG ASA KOTA

Di Pintu masuk Kota Bima, tepatnya di teluk Bima sebelah utara terdapat sebuah benteng. Masyarakat Bima menyebutnya dengan Benteng Asa Kota. Karena letaknya tepat di laut sempit yang menjadi pintu masuk Bima lewat jalur laut.Benteng ini penuh dengan romantika sejarah.

Bagaimana Sejarah Benteng ini ?

Karena tidak setuju terhadap isi perjanjian Bongaya, Sultan Abdul Khair Sirajuddin bersama Panglima perang Makassar Karaeng Popo meninggalkan Makassar dan membentuk kekuatan armada angkatan laut Bima. Bagi Abdul Khair Sirajuddin mentaati perjanjian Bongaya sama dengan bunuh diri dan tunduk pada Kompeni.

Selama pelariannya dari Makassar dua pendekar itu menyerang, merampas dan menenggelamkan kapal-kapal Kompeni karena kesal atas trik dan siasat adu domba Kompeni yang memaksa iparnya Sultan Hasanuddin harus menandatangani perjanjian Bongaya yang syarat dengan ketidak adilan. Di dalam perjanjian tersebut terdapat lima pasal yang berhubungan dengan Bima. Dan salah satu pasalnya adalah menangkap Abdul Khair Sirajuddin hidup atau mati.

Benteng ini dibangun pada sekitar tahun 1667 di sebuah pulau kecil yang diberinama Nisa Soma. Tepat dipintu masuk teluk Bima yang diberinama ASA KOTA( Asa= Mulut, Kota = Kota). Jadi Asa Kota merupakan pintu masuk menuju Bima dengan melewati Teluk Bima yang indah, tenang dan damai. Benteng Asa Kota dibangun dari tumpukkan batu-batu besar dan kecil yang disusun rapi mengelilingi Nisa Soma seluas lebih dari 1 hektar.

Pembangunan Benteng Asakota dihajatkan untuk mengintai dan menghalau kapal-kapal Kompeni yang memasuki wilayah Bima dan merupakan basis pertahanan armada Angkatan Laut kerajaan Bima yang bernama Pabise. Bila ari laut surut, maka benteng Asa Kota dengan daratan di sekitarnya terlihat menyatu. Penduduk sekitar sering mendaki bukit di Nisa Soma ini untuk mencari kayu bakar.

Benteng Asa Kota adalah peninggalan berarti dari perjalanan sejarah Dana Mbojo dan merupakan salah satu benda cagar budaya yang dilindungi undang-undang. Benteng ini kondisinya sekarang cukup memprihatinkan dan membutuhkan renovasi dan rekonstruksi sesuai bentuk aslinya sebagai sebuah kenangan sejarah untuk generasi mendatang.

ASI MBOJO ( ISTANA BIMA )













Museum Asi Mbojo (Bima)

Bima-Raba adalah ibu kota kabupaten yang selalu menjadi tempat persinggahan dan menghubungkan daerah timur,tengah dan barat dari Indonesia. Dengan mengunjungi Istana Kesultanan terlebih dahulu kita akan ditunjukkan barang-barang bersejarah yang menarik, seperti mahkota kesultanan dan beberapa keris yang bersarung emas dengan tangkai yang terbuat dari gading.


Bangunan yang dulunya merupakan pusat Kesultanan Bima dan pusat Pemerintahan Kabupaten Bima pada tahun 1950 masih berdiri dengan kokoh dan tegap yang merupakan symbol Dana Mbojo (Bima), atau lebih dikenal dengan nama Asi Mbojo. Dan kini oleh Pemerintah setempat dijadikan sebagai Museum, awal dibangunya Asi Mbojo (Istana Bima) pada tahun 1927 oleh arsitek Belanda yang bernama Obzicshteer Rehata dan sebagiannya juga di desain oleh sultan sendiri yaitu Muhammad Salahuddin (sulthan Bima yang terakhir).



Museum Asi mbojo diserahkan kepada NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) oleh Sultan Muhammad Salahuddin pada tahun 1951, dan tahun 1989 resmi dijadikan Museum oleh pemerintah kabupaten Bima hingga sekarang. Museum ini di kelola oleh pemerintak Kabupaten Bima dan di kepalai oleh Bapak Ridwan Maman, S.Ag (40) dengan 24 Pegawainya.

Isi dari beberapa koleksi Museum Asi Mbojo antara lain Benda-benda Pusaka peninggalan Kerajaan dan kesultanan Bima, dan yang paling terpopuler dari Koleksi Museum yaitu “Gunti Rante” sebuah parang yang sangat menakjubkan di ukir pada Zaman Majapahit dan Mahkota Sulthan yang terbuat dari Emas. Koleksi – koleksi Benda Pusaka, pengunjung Museum dapat melihatnya di ruangan Galeri Benda Pusaka di lantai satu, di lantai satu juga terdapat ruangan galeri benda-benda perkakas dan baju-baju peninggalan masyarakat pada zaman kerajaan dan kesultanan, di lantai satu ini dulu merupakan kantor pusat pemerintahan Kabupaten Bima 1951 hingga 1960. Bangunan – bangunan di lantai satu dan dua masih asli dan tidak pernah di Renovasi hingga sekarang.

Bila pengunjung juga ingin melihat Kamar tempat menginapnya Bung Karno (Ir. Soekarno) pengunjung dapat melihatnya di lantai 2, di lantai 2 pengunjung juga bisa melihat kamar – kamar Sulthan, putra Mahkota, dan kamar Putri. Ibu Nurhaini (45) Pegawai Museum yang bertugas untuk menemani para pengunjung untuk berkeliling kepada kami (Solud) bercerita “ bahwa dulu istana Asi yang pertama pernah di Bom pada masa peperangan sehingga di bangun Asi Kontu (istana belakang) untuk sementara, dan bangunan Museum saat ini adalah bangunan Asi yang kedua setelah yang pertama di bom” begitulah yang diceritakan oleh ibu Nurhaini.

Kamar tidur Ir. Soekarno saat mengunjungi Kesultanan Bima

Bila ingin berkunjung ke Museum Asi Mbojo pasti tidaklah sulit menemukannya, karena letaknya yang strategis pas di sebelah alun-alun Kota Bima, karcis untuk masukpun sangat murah untuk Dewasa atau Umum hanya Rp. 2000, anak- anak Rp. 500, Turis Rp. 3000, dan Pelajar dan Mahasiswa Rp. 1000.
Menurut kepercayaan Masyarakat Bima bahwa Museum Asi Mbojo masih memiliki Aura mistisnya, banyak kejadian-kejadian aneh dan hal-hal gaib yang terjadi di Museum ini, karena Asi (Istana) masih dijaga oleh para leluhur. Karakter bangunan Museum Asi Mbojo dalam pandangan Masyarakat Bima pada umumnya sangat Religius, dulu merupakan tempat semua masyarakat belajar Islam pada zaman Kesultanan Bima.

DESA DONGGO

Donggo, dengan jarak 40 Km adalah desa tertua di Bima, penduduk desa ini memiliki pakaian dan tradisi yang berbeda dari desa-desa lainnya. Mereka memelihara tradisi etnik uniknya dengan selalu memakai pakaian hitam, masih mempertahankan tingkatan hierarkinya dan membangun rumah tradisional mereka sendiri.

Donggo adalah sebuah Desa yang terletak di atas pegunungan Soromandi sebelah barat Kota Bima dengan ketinggian 1200 Meter, Donggo mempunyai keistimewaan dari Desa lain yang berada di Bima yaitu berbagai macam legenda rakyat dan tempat-tempat peninggalan sejarah berada di Donggo, salah satu Legenda rakyat yang terkenal yaitu kisah Putri La Hila.

La Hila adalah nama Putri cantik anak dari raja Donggo dahulu kala, La Hila mempunyai rambut sepanjang 7 buah bambu dan paras cantiknya sangat menggoda para Raja yang melihatnya, kejadian yang melegenda dari La Hila yaitu dia dikubur hidup-hidup karena dia tidak ingin menerima lamaran dari salah satu Raja Bima, setelah kuburannya di buka ternyata jasad La Hila telah hilang, hingga sekarang masyarakat Donggo mempercayai bahwa La Hila sering menampakkan diri dengan wujud wanita cantik.

Di Donggo masyarakatnya masih menjada adat istiadat leluhurnya sehingga masih terdapat rumah yang dulunya bertempat tinggal kepala suku atau di sebut Ncuhi Donggo yang terdapat di Donggo Mbawa, ada dua agama yang dianut oleh masyarakat Donggo yaitu Kristen Katolik dan Islam, penganut agama Katolik di Donggo yang uniknya yaitu mereka memakai nama Islam akan tetapi agamanya Katolik.

Ada cerita rakyat yang menarik lagi di Donggo yaitu dahulu kala sebelum terbentuknya kerajaan Bima, Raja dari Pulau Jawa yang dulu pernah berjanji akan mengirim anaknya untuk memimpin tanah Mbojo (sebutan tanah Bima dahulu kala), sang Raja mengirim kedua anaknya ke Bima dengan sebatang bambu, kemudian di pinggir pantai Donggo hiduplah sepasang suami istri yang sudah tua renta dan belum mempunyai anak, tiap malamnya mereka berdua mendengarkan bunyi gendang yang sangat besar, dan mereka berdua pun memeriksa dari mana asal suara gendang tersebut tetapi mereka tidak menemukan sumber suara tersebut.

Ke esokkan harinya Ompu (panggilan sang suami) pergi kepinggir laut untuk mencari kayu bakar, dan dia menemukan sebatang Bambu kemudian Ompu mengambilnya membawa pulang kerumahnya, malam harinya suara gendang tersebut masih ada Ompu beserta istrinya sangat penasaran dari mana suara gendang tersebut. Pagi harinya Ompu akan membelah kayu yang dia kumpulkan dengan sebuah kapak, kemudian pas Ompu ingin memotong Bambu yang dia temukan di pinggir pantai, mengeluarkan suara yang melarang memotong bambu tersebut dan keluarlah dua pangeran bersaudara dari Bambu tersebut yang merupakan anak dari Raja Pulau Jawa yang datang untuk memimpin Bima seperti yang dijanjikan. Kemudian salah satu saudara tertua dari kedua bersaudara itu menjadi Raja Bima yang bernama Indra Zambrud yang menjadi asal usul Raja-raja Bima.(Fahrurizki)

PANTAI  LAWATA

Pantai Lawata adalah berupa sebuah “tonjolan” ke teluk Bima. Di Lawata terdapat sebuah bukit kecil yang memiliki beberapa buah gua kecil.Lawata memang sudah sejak dulu menjadi sebuah obyek wisata atau tempat piknik bagi masyarakat Bima. 

Lawata terletak hampir di luar kota Bima. Pantainya bukanlah tempat yang bagus untuk bermain air, namun air (laut)nya bisa dibilang cukup jernih walaupun kadang berlumpur dan banyak batu-batu yang berserakan. Karena historinya, Lawata kemudiandibangundibuatkan banyak “cottage” yang berderet di sepanjang pantainya. Setiap cottage memiliki bagian “ dalam yang bisa digunakan untuk lesehan, bagian luar/depan yang bisa digunakan untuk memandang ke arah laut/teluk, dan tempat berbeque di sebelah luar/belakang. Tampaknya, setiap cottage cukup untuk sebuah keluarga atau rombongan yang lebih dari 10 orang.

M  O  N  T  A

Kecamatan Monta terdiri dari beberapa desa yakni : baralau, monta, sakuru, tangga, sie, simpasai, pela dan waro. Sebelum menggalami penggembangan wilayah kec.parado termasuk kedalam kec.monta.Umumnya masyarakat dikecamatan ini mengantungkan mata pencahriannya pada sektor pertanain khusunya bawang.

Masyarakat Monta juga mulai membudi dayakan Kacang Koro yang dinilai mempunyai kualitas Ekspor keluar negeri yang sangat menjanjikan, budi daya kacang koro ini dinilai suatu perubahan tradisi menanam masyarakat setempat dari Padi dan Bawang, untuk mencoba menanam kacang koro di area tanah mereka. 
Kecamatan Monta sebenarnya memiliki potensi pariwisata untuk dikembangkan karena prospeknya sangat menjanjikan seperti Pantai wane yang menjanjikan potensi pemandangan laut yang begitu indah dan alami dengan ombaknya yang besar sangat cocok untuk tempat berselancar.

SOROMANDI

Wisata Alam Soromandi Bima adalah salah satu kota kecil yang terletak di ujung timur Propinsi NTB (Nusa Tenggara Barat), di bumi Ngaha Aina Ngoho ini tersimpan banyak sekali aset-aset alam yang menyimpan sejuta pesona yang masih belum terjamah, dan perlu untuk di gali dan dijadikan sebagai objek wisata.

Aset alam ini bisa dijadikan sebagai daya tarik para wisatawan domestik maupun asing. Gambar ini ambil dari hasil jepretan komunitas pecinta alam bima "KOPA MBOJO" (untuk komunitas kopa mbojo maaf sudah mengambil hasil jepretan anda tanpa ijin, tujuan kita  hanya semata memperkenalkan Dana Mbojo / bumi Ngaha Aina ngoho yang kita cintai.

DESA CAMPA

Campa adalah salah satu desa kecil yang letaknya di kabupaten Bima, NTB, khususnya di kecamatan Madapangga.

Letaknya memang jauh dari keramaian, tetapi campa juga menyimpan keindahan alam yang mungkin banyak orang yang belum tahu akan hal ini.

Contohnya seperti wana wisata OI TABA, kalo yang ini mungkin sudah banyak yang tahu, tetapi ada satu tempat yang belum orang tahu letaknya yaitu AIR TERJUN, kalau dilihat air terjun ini bisa dikelola untuk dijadikan sebagai wahana wisata dan bentuk wahana wisata ini adalah semacam tempat meluncur tapi bedanya tempat meluncur terbentuk oleh alam, jadi suasananya sangat extrim dan alami.

PANTAI  KALAKI

Pantai Kalaki adalah pantai berpasir yang cukup landai, terletak di sebelah selatan kota Bima. Dari kota Bima, melewati Lawata menuju ke arah Lapangan Terbang Palibelo. Di Kalaki, pengunjung bisa bermain air laut yang dangkal, atau piknik sambil menikmati pemandangan laut teluk Bima. Pengunjung Pantai Kalaki umumnya berasal dari kota Bima dan dari kecamatan Woha dan Belo/Palibelo.

Pada waktu liburan seperti saat Aru Raja (Lebaran), pantai Kalaki ramai sekali. Para pedagang jauh-jauh hari sudah mendirikan tenda-tenda di pinggir jalan sepanjang pantai. Sebenarnya, pantai Kalaki tidaklah terlalu bagus. Pasirnya bercampur lumpur sehingga kalau dilalui akan menjadi keruh. Di samping itu terdapat banyak batu-batu yang cukup tajam jika diinjak, dan tentu sangat tidak nyaman karena bisa menyandung. Pantai juga terlalu landai sehingga untuk mendapatkan kedalaman yang cukup untuk berenang atau menyelam, pengunjung harus masuk jauh ke dalam laut.

Jika air laut surut, pemandangan menjadi tidak sedap lagi karena air menjadi sangat jauh ke dalam sementara daratan yang ditinggalkannya tampak penuh batu yang berserakan. Pemda Kabupaten Bima yang menjadi “pemilik” pantai Kalaki tampak sudah melakukan beberapa “pembangunan” di pantai tersebut, berupa beberapa shelter yang bisa digunakan oleh pengunjung untuk berteduh dan duduk-duduk. Namun jumlahnya tentu tidak mencukupi saat pengunjung ramai seperti ketika Aru Raja. Pengunjung akhirnya menggelar tikar dan berkelompok di kebun orang di seberang pantai. Mereka umumnya mengadakan acara berbeque atau “bakar-bakar” di tempat itu. Biasanya, yang dibakar adalah ayam dan ikan laut. Pantai Kalaki, sekali lagi, menjadi pilihan masyarakat untuk piknik karena tidak banyak pilihan yang lebih baik lagi. Pantai di teluk Waworada (sebelah timur Karumbu) yang lebih indah dengan view pantai selatan sangat jauh dan fasilitas jalan juga belum memadai. Dalam hal ini, Pemda Kabupaten Bima masih harus berperan lagi dalam menata obyek wisata yang dibutuhkan oleh masyarakat

Kegiatan Festival Teluk Bima 2011 dipusatkan di pantai wisata Kalaki


Kalaki Kabupaten Bima minggu (24/7). Warga kota Bima maupun kabupaten Bima berjubel mengunjungi areal wisata itu untuk menyaksikan berbagai mata lomba yang digelar di event yang baru pertama kali dilaksanakan di Bima itu. Sejak pukul 8 pagi areal pantai kalaki mulai ramai dikunjungi warga untuk berwisata sekaligus menyaksikan festival Teluk Bima.

M. Irfan dari bima Kreatif selaku panitia pelaksana mengemukakan bawhwa festival Teluk Bima merupakan salah satu upaya untuk mempromosikan pariwisata Bima sekaligus mendukung program Visit Lombok and Sumbawa 2012. “ kegiatan-kegiatan yang kita lakukan antara lain pawai budaya, lomba dayung tradisional dari pantai Lawata menuju Kalaki, lomba perahu hias, lomba mendongeng untuk para pelajar, lomba menangkap bebek, pagelaran kesenian, serta penganan ikan sepanjang 1 KM.” urai Irfan di celah-celah kegiatan festival.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bima H. Nurdin, SH menyambut baik kegiatan festival yang digagas Forum Bima Kreatif bekerja sama dengan Dinas Budpar, Dinas Kelautan Dan 
Perikanan, Basarnas, Perhubungan,Kepolisian dan Instansi terkait lainnya. “Kita berharap event ini akan terus menjadi agenda tahunan untuk kita benahi pelaksanaannya kedepan. “ Harap Nurdin.
Kegiatan itu cukup menyedot perhatian masyrakat baik di kota maupun Kabupaten Bima.Kegiatan festival berakhir hingga menjelang magrib dengan agenda terakhir penarikan Door prize dari panitia.

OI WOBO, DESA MARIA KECAMATAN WAWO

Obyek wisata yang satu ini merupakan obyek wisata alam sekaligus sejarah. Karena tempat ini juga di kenal dengan pesanggarahan (Tempat Peristirahatan) para pejabat Belanda dan dibangun pada masa kolonial. Jaraknya hanya sekitar 20 menit perjalanan dari Kota Raba-Bima.

Suasana sejuk dengan jernihnya air dari kolam renang yang merupakan ciri khas obyek wisata ini. Oi Wobo terletak di desa Maria kecamatan Wawo.

Setiap akhir pekan Oi Wobo selalu dikunjungi wisatawan domestik. Obyek wisata ini sering pula digunakan oleh Jajaran Pemerintah Kabupaten Bima untuk rapat dan menggelar berbagai kegiatan.

Menurut Legenda, adanya mata air Wobo ini berawal dari keinginan Putera Mahkota Kerajaan Bima untuk melakukan perjalanan dan petualangan ke arah Matahari Terbit. Ketika di tengah hutan mereka kelaparan dan kehausan. Sementara bekal mereka sudah habis. Akhirnya Putera Mahkota mengeluarkan tongkatnya dan Wobo (Bima : Cambuk). Putera Mahkota memukul bebatuan di sekitar hutan itu, maka keluarlah mata air dari celah bebatuan. Alangkah girangnya semua pengikut Putera Mahkota itu. Mereka meminum sepuas-puuasnya.

Pada perkembangan selanjutnya mata air itu mengalir menuju ke segala lini. Masyarakat mendekati tempat itu dan mendirikan perkambungan yang hingga saat ini dikenal dengan Rasa Wawo ( Kampung Atas). Karena lokasinya memang di daerah pegunungan dengan cuaca yang dingin dan sejuk. Pada masa kolonial di sekitar mata air ini dibangun sebuah tempat peristirahatan yang dikenal dengan Pesanggarahan. Di Bima ada dua bangunan bersejarah yang dibangun semacam ini, yaitu di Wawo dan Donggo. Keduanya memang berada di daerah pegungungan yang dingin dan sejuk.

Pesanggrahan dan Kolam Renang Oi Wobo adalah salah satu situs sejarah dan sumber PAD bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Bima. Biaya masuk ke lokasi ini sebesar Rp.5000 untuk kendaraan roda 4 dan Rp.1000 per orang. Perlu penataan dan pengelolaan yang lebih professional dalam rangka memanfaatkan obyek wisata ini demi meningkatkan Pendapatan Asli Daerah.

S A M B O R I

Sambori merupakan salah satu dari lima desa di lereng gunung Lambitu di sebelah tenggara kota Bima.
Ada dua fersi tentang nama Sambori. Fersi pertama mengemukakan asal mula kata Sambori adalah SAMBORE (Palu), yang berarti adanya ketetapan hati dan keputusan untuk tetap tinggal di lereng Lambitu dan tidak lagi berpindah-pindah. Hal itu didasari kespekatan bersama dalam satu musyawarah sehingga jatuhlah Sambore(Palu) kesepakatan itu.



Fersi kedua, Sambori berasal dari kata SAMPORI yang dalam bahasa Bima berarti melepaskan diri. Karena setelah membangun pemukiman dan menemukan cara bercocok tanam yang menetap dengan kondisi lereng Lambitu yang subur, mereka memutuskan untuk melepaskan diri dari komunitas lainnya.

Sebelum pemekaran kecamatan pada tahun 2006, Sambori dan sekitarnya masuk dalam wilayah kecamatan Wawo. Orang-orang Bima sering menyebut dengan nama Wawo Tengah. Sambori dan desa-desa di sekitarnya terletak di ketinggian 700 Meter di atas permukaan laut. Memandang Sambori dari kejauhan seperti negeri yang menggantung menyelinap dalam awan dan kabut. Dibalut keluguan dan keramahan warganya, Sambori adalah pelepas rindu akan nyanyian alam yang syahdu bersahaja.

Desa Sambori berbatasan dengan Desa Renda kecamatan Belo Kabupaten Bima di sebelah barat,dan hutan tutupan Arambolo di sebelah timur. Di sebelah utara berbatasan dengan desa Teta sebagai ibukota kecamatan Lambitu, dan di sebelah utara bersebelahan dengan desa Kawuwu kecamatan Langgudu. Desa Sambori terdiri dari dua dusun yaitu Dusun Lambitu yang dihuni 222 Kepala Keluarga dan Sambori Bawah (Dusun Lengge) yang dihuni 930 Jiwa serta 223 Kepala Keluarga.

Sebagai daerah puncak yang berjarak sekitar 44,3 KM, Sambori potensial untuk pengembangan tanaman Bawang Putih, Jeruk , Alphokat, Rambutan, Mangga, Pisang, Sawo, Jambu Batu serta tanaman lainnya.Di lereng Sambori terdapat 275 pohon Jeruk, 300 pohon Alpukat, 450 pohon Mangga, 300 pohon kelapa, 200 pohon pinang serta aneka pepohonan lainnya.

Di sector peternakan, kawasan Sambori sejak dulu memang telah dikenal sebagai areal pengembalan ternak seperti kuda, kerba, Sapi dan Unggas. Namun yang paling dominan digeluti warga Sambori dan sekitarnya adalah tanaman padi dan Bawang Putih serta ternak Kerbau, Sapi, kambing dan jenis unggas. Berternak memang telah menjadi tradisi turun temurun warga Sambori dan sekitarnya. Hal itu dibuktikan dengan prototype Uma Lengge yang di lantai dasarnya memang diperuntukkan untuk penyimpanan dan pemeliharaan ternak.

Desa Sambori memiliki luas sekitar 1.802 Ha atau sekitar 33,58 % dari luas wilayah kecamatan Lambitu. Sekitar 1.260 Ha adalah lahan Sawah dan tegalan.Sisanya diperuntukkan untuk pemukiman dan prasarana umum, perkebunan rakyat dan kawasan lindung seluas 736 Ha.Topografi wilayah Sambori dan sekitarnya berbukit-bukit dan datar yang menyebar di sepanjang lereng Gunung Lambitu. Suhu udara di Sambori rata-rata antara 20 hingga 25 C.

Berdasarkan Sensus Penduduk dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Bima Tahun 2010, Jumlah penduduk desa Sambori sebanyak 1786 jiwa dengan jumlah penduduk Laki-laki sebanyak 895 jiwa dan penduduk perempuan sebanyak 891 Jiwa. Jumlah kepala keluarga sebanyak 440 KK yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani dan peternak.

Ladang Pengembangan Apotik Hidup

Berada di ketinggian 500 sampai 700 Meter Di atas permukaan Laut, Sambori dan Sekitarnya sangat cocok untuk budidaya tanaman-tanaman obat seperti Jahe, Kunyit, Lengkuas, Mengkudu, Temulawak, Kumis Kucing, Kencur, Bangle, Tempuyang dan lain-lain. Tanaman ini disamping tumbuh secara liar di pegunungan Lambitu, juga diupayakan dan dikembangkbiakkan oleh masyarakat. Yang paling banyak dikembangkan warga disamping bawang putih dan padi adalah Kunyit dan Tempuyang.

Sejak dulu, orang-orang Sambori memang terkenal sebagai penjual Kunyit dan Tempuyang bahkan sampai di kota Bima dan Dompu. Sekitar 20 Hektar lahan tegalan di Sambori dimanfaatkan warga untuk menanam kunyit. Ada juga sekitar 7 Hektar lahan yang dimanfaatkan untuk menanam Tempuyang. Proses produksi dan pemasaran warga Sambori terhadap tanaman obat ini masih sangat sederhana dan tradisional yaitu dengan menjajakan dari kampung ke kampung, disamping dimanfaatkan untuk kebutuhan pribadi.(*alan)

RUMPUT LAUT

Budidaya Rumput Laut disamping untuk kesejahteraan masyarakat bisa juga berpotensi untuk tujuan wisata. Budidaya rumput laut ini dikembangkan Di Kecamatan Sape, Lambu, Langgudu dan Wera dengan rata-rata produksi per tahun mencapai 171 Ton. Pengolahan yang baik dapat meningkatkan produksi. Budidaya rumput laut akan tetap dikembangkan guna menjawab tantangan pasar yang permintaannya terus mengalami peningkatan setiap tahun. Potensi pesisir yang cocok untuk rumput laut merupakan peluang untuk terus meningkatkan produksi rumput laut di Kabupaten Bima guna memenuhi permintaan ekspor yang terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Di Kota Bima juga terdapat areal pembudidayaan Rumput Laut yang dalam Bahasa Bima disebut KAHAO. Lokasinya adalah di sekitar pantai So Nggela, Bonto hingaa Toro Rui Londe di kecamatan Asa Kota.

KOPA  AHE  DI  TENTE

Bagi warga Bima, Menu Kopa Sahe merupakan salah satu menu pilihan untuk berbuka puasa. Yah, Kopa Sahe hanya dikenal di desa Tente kabupaten Bima. Seperti apa menu makanan khas Bima yang satu ini ? Berikut, Kru Sarangge melaporkan untuk anda.

Desa Tente kecamatan Woha Kabupaten Bima sudah lama dikenal sebagai urat nadinya perekonomian di daerah ini. Bisa dikatakan Tente merupakan pusat perdagangan dan perbelanjaan masyarakat dari berbagai pelosok pedalaman di kabupaten Bima seperti dari Langgudu, Parado, Monta, Belo dan Palibelo.


Disamping itu, di desa ini juga terdapat satu tempat pemotongan hewan yang dikenal dengan BANTE. Pemotongan hewan seperti kerbau, Sapi dan Kambing dilakukan setiap hari.

Ada satu makanan khas dari desa ini yaitu Soto Kaki Kerbau atau yang dikenal dengan Kopa Sahe. Ini adalah salah satu produk andalan Desa Tente yang cukup banyak digemari oleh berbagai kalangan, baik orang Bima sendiri maupun orang luar Bima. Kopa Sahe merupakan makanan yang berbahan dasar dari kaki kerbau. Kaki Kerbau diolah dan dimasak dengan bumbu yang telah di tentukan jenis dan porsinya. Salah satu pedagang Kopa Sahe Rohana Ahmad yang telah lama melakoni profesi ini mengatakan Kopa Sahe cukup diminati. Kisaran hasil yang diperolehnya setiap hari adalah 300-400 ribu rupiah. Namun menurutnya hasil tersebut belum mampu digunakan untuk modal mengembangkan usahanya tersebut. Harapnya Pihak Pemerintah memperhatikan pedagang-pedagang kecil agar dapat mengoptimalkan pemanfaatan prodak daerah sehingga kian diminati dan dilirik khalayak ramai.
Hanya saja, penjualan dan pemasaran makanan ini masih dilakukan secara tradisional dengan dijajakan dari kampung ke kampung. Belum ada satupun pedagang Kopa Sahe yang menjual di di depan jalan utama Tente atau di warung-warung di pasar Tente. Justru yang banyak dijumpai di depan jalan-jalan utama Tente adalah warung dan rombong Bakso, Nasi campur dan soto serta Sate Kambing. Ini tentunya menjadi PR bersama untuk mendorong para pedagang Kopa Sahe menjual makanan ini di depan jalan-jalan utama Tente agar mudah dilihat dan dikunjungi daripada berada di dalam kampung seperti yang dilakukan selama ini.
Desa Tente letaknya tidak jauh dari Bandar Udara Muhammad Salahuddin Bima. Jika menggunakan kendaraan bermotor cukup menghabiskan waktu sektar 10 menit. Secara geografis desa ini berdaratan rendah dan diapit oleh sawah. Sebalah Selatan berbatasan dengan Desa Naru, sebelah Utara berbatasan dengan Rabakodo, Sebelah Barat berbatasan dengan Samili dan sebelah Timur berbatasan dengan Desa Cenggu Kecamatan Belo. Baru-baru ini Tente dimekarkan menjadi dua bagian yaitu desa Nisa dan desa Naru. Dengan jumlah penduduk sebanyak 3.383 orang dan 878 Kepala Keluarga, sumber mata pencaharian masyarakat Desa Tente beragam, diantaranya pedagang, petani, pelaut dan PNS.

DESA SAMBORI

Rumah Solud – Desa Sambori adalah sebuah desa yang berada di atas dataran tinggi pegunungan Lambitu dan termasuk wilayah Kecamatan Lambitu Kabupaten Bima, Desa Sambori hanyalah sebuah Desa yang sangat kecil dengan kehidupan yang masih tergolong Tradisional. Masyarakat Sambori rata-rata bekerja sebagai Petani dengan penduduk 800 jiwa ± dan di kepalai oleh seorang Kepala Desa, mereka bercocok tanam sejak zaman nenek moyang mereka berada.

Jarak Desa Sambori dari Bima hanya 400 KM, tetapi sekarang kendaraan tidak lagi susah untuk ke Sambori karena pemerintah setempat sudah membuat jalan yang baru dan di Aspal.




Kebiasaan masyarakat Sambori yaitu makan daun sirih karena suhu dan udara di Desa sambori sangat dingin sehingga untuk menghilangkan kedinginan, mereka makan daun sirih yang di campur dengan beberapa ramuan sehingga badan mereka jadi hangat. Ada satu keunikan dari masyarakat Desa Sambori yaitu mereka masih mempergunakan bahasa yang lain dari bahasa Bima dan sekitarnya, banyak orang mempunyai anggapan dan persepsi masing-asing bahwa bahasa Sambori adalah bahasa asli Suku Bima atau bahasa nenek moyang, yang hingga sekarang masih dipergunakan oleh masyarakat Desa Sambori.

Kehidupan masyarakat Desa Sambori sangat sederhana, iu tampak dari bentuk dan perabotan yang ada dirumah mereka, Masyarakat Desa Sambori bisa dibilang masih tergolong terbelakang mengenai Tekhnologi maupun perkakas untuk keseharian mereka yang berkembang disaat ini, hingga mereka banyak yang masih menggunakan peralatan dan perkakas yang masih Tradisional, Panci untuk masak mereka masih menggunakan panci yang terbuat dari tanah liat, dan yang lebih menarik lagi di Sambori bila hujan turun mereka tidak menggunakan payung pada umumnya, akan tetapi mereka menggunakan sebuah kulit pohon atau daun Pandan maupun Rotan yang di buat untuk menjadi payung, masyarakat setempat menyebutnya “WAKU” dan orang Bima mengenalnya dengan nama “LUPE”.

Masyarakat Desa Sambori Banyak yang memeluk Agama Islam, karena ada sebuah cerita sejarah lama yang diyakini oleh Masyarakat Sambori yaitu sejak berdirinya Kerajaan Bima, Islam pertama kali masuk di Kerajaan Bima melalui dataran tinggi yaitu di Sambori oleh seorang Ulama dari Ternate yang bernama “Syekh Subuh”, karena Beliau tiba di Sambori saat Subuh, kemudian Syekh Subuh menyiarkan ajaran Islam di Sambori, makam Syekh Subuh berada di atas Puncak Gunung Sambori, atau di sebut kuburan keramat.

RUMAH  LENGGE  DI WAWO

Dari kejauhan tampak sebuah gubuk yang meruncing segitiga yang terlihat banyak yang atapnya terbuat dari jerami, itulah Rumah Lengge, rumah tradisional masyarakat Wawo yang mempunyai gaya arsitek yang unik , dengan bahan bangunannya kayu dan bambu beratapkan jerami. Dan Rumah Lengge merupakan rumah asli Pribumi suku Mbojo (Bima).

Ternyata rumah Lengge ini berdiri diatas batu kali sebagai dasar rumah, yg hanya empat kaki tanpa semen, rumah lengge ini hanya memakai paku yang terbuat dari kayu dan yang lebih menarik lagi untuk mengikat bambunya tali yang terbuat dari kulit pohon. Rumah Lengge ini juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan padi di atasnya dan ruang tidur dibawah yang mirip saung yang berukuran atau luasnya hanya 8×4 meter.

Rumah Lengge ini ternyata juga rumah anti tikus, dimana tikus maupun kucing tidak dapat masuk dirumah Lengge karena dasar batu rumah dan tiang-tiangnya mempunyai siku yang berbentul huruf L sehingga tikus maupun binatang merayap lainya susah untuk masuk kerumah Lengge.

Masyarakat di desa Wawo saat sekarang masih menggunakan rumah Lengge sebagai tempat penyimpanan Padi ataupun hasil pertanian mereka. Di Wawo tepatnya di Desa Maria masih berjejer rumah Lengge dan Jompa (rumah yang serupa dengan Lengge), dan dijadikan tempat untuk kunjungan wisatawan yang ingin melihat rumah Lengge dan kehidupan tradisional masyarakat setempat

KADODO DARI DESA NUNGGI  WERA

Dodol atau yang dalam bahasa Bimanya disebut Kadodo telah dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat Bima sejak nenek moyang. 

Di Bima makanan ini telah secara turun temurun dibuat oleh masyarakat di kecamatan Wera. Meskipun pembuatan Dodol semacam ini juga banyak dibuat oleh masyarkat di wilayah lainnya, tapi dodol yang terkenal adalah Kadodo Wera. Ada satu desa di kecamatan Wera yang orang-orangnya sangat ahli membuat Kadodo yaitu di desa Nunggi.


Pada masa lalu, pembuatan Kadodo hanya dilakukan pada saat ada hajatan seperti perkawinan, khatam Al-qur’an, khitanan dan lain-lain. Pembuatan Kadodo dilakukan secara gotong royong oleh warga diiringi musik tradisional Bima seperti Biola dan Gambo, Rawa Mbojo serta atraksi Gantaong. Sambil menonton dan menikmati musik dan permainan itu, para pembuat Kadodo memaruk kelapa, mengumpulkan kayu bakar, menggali Rubu (semacam tungku perapian yang digali terlebih dahulu untuk dimasukan kayu-kayu bakar). Sambil berpantun dan bersyair para pembuat Kadodo mengaduk Kadodo dengan Kayu Kosambi sepanjang satu meter yang memang telah disiapkan sebagai pengaduk Kadodo.

Menurut Halimah (58 thn), salah seorang pembuat Kadodo asal desa Nunggi bahan pembuatan Kadodo Wera untuk sebuah perayaan dibutuhkan 10 kg tepung beras ketan, 50 batang gula merah, 30 butir kelapa, gula pasir, garam, dan bawang Goreng. Untuk membuat dodol yang bermutu tinggi cukup sulit karena proses pembuatannya yang lama dan membutuhkan keahlian. Dalam tahap pembuatannya, bahan-bahan dicampur bersama dalam Kuali yang besar dan dimasak dengan api sedang. Dodol yang dimasak tidak boleh dibiarkan tanpa pengawasan, karena jika dibiarkan begitu saja, maka dodol tersebut akan hangus pada bagian bawahnya dan akan membentuk kerak.

Oleh sebab itu, dalam proses pembuatannya campuran dodol harus diaduk terus menerus untuk mendapatkan hasil yang baik. Waktu pemasakan dodol kurang lebih membutuhkan waktu 4 jam dan jika kurang dari itu, dodol yang dimasak akan kurang enak untuk dimakan. Setelah 2 jam, pada umumnya campuran dodol tersebut akan berubah warnanya menjadi cokelat pekat. Pada saat itu juga campuran dodol tersebut akan mendidih dan mengeluarkan gelembung-gelembung udara.Untuk selanjutnya, dodol harus diaduk agar gelembung-gelembung udara yang terbentuk tidak meluap keluar dari kuali sampai saat dodol tersebut matang dan siap untuk diangkat. Yang terakhir, dodol tersebut harus didinginkan dalam periuk yang besar. Untuk mendapatkan hasil yang baik dan rasa yang sedap, dodol harus berwarna coklat tua, berkilat dan pekat. Setelah itu, dodol tersebut bisa dipotong dan dimakan.

Selama ini pembuatan Kadodo Wera masih bersifat tradisional terutama pada saat hajatan saja. Pemasarannya pun nyaris tidak pernah dilakukan di luar kecamatan Wera. Perlu upaya pendekatan, fasilitasi dan sentuhan pemberdayaan terhadap para pembuat Kadodo Wera agar produk warisan leluhur ini mampu menerobos pasar. Seperti Dodol Garut dan dodol-dodol lainnya di tanah air.

BUDIDAYA   MUTIARA

Bima terletak pada gugusan kepulauan sunda kecil yang sekarang kita sebut dengan Nusa Tenggara Barat. Posisinya sangat penting dalam perspektif Nusantara. Tak heran jika Bima dalam sejarahnya menjadi bagian daerah pelabuhan penting dalam merangkai keutuhan wilayah Nusantara. Pada masa colonial, Belanda menjadikan Bima sebagai daerah transit menuju belahan timur Indonesia baik itu dalam kepentingan penjajahannya maupun dalam regulasi perdagangannya.




Letak Bima yang sangat strategis ini tidak lain adalah pemberdayaan potensi wilayah yang terkait dengan kelautan. Akibatnya, Bima menjadi daerah yang dikenal dunia luar.
Salah satu potensi Bima yang sudah dikenal luas adalah Mutiara. Usaha Budidaya Mutiara sudah berlangsung lama dan berlangsung di beberapa wilayah kecamatan seperti di Lambu, Wera, Sanggar dan Langgudu. Yang terkenal adalah PT. Bima Sakti Mutiara Di kecamatan Lambu. Tidak tertutup kemungkinan kerang mutiara dijumpai di sejumlah wilayah pesisir di Bima selain wilayah-wilayah kecamatan yang disebutkan di atas. Mutiara merupakan komoditas unggulan perikanan budidaya yang perlu ditingkatkan produksinya. Karena hampir seluruh produksinya ditujukan untuk diekspor keluar negeri. Para pembeli mutiara di Jepang telah banyak yang mengetahui bahwa mutiara tersebut berasal dari Indonesia terutama Bima, sehingga akan lebih baik bila membeli secara langsung dari Indonesia. Memang pengembangan usaha budidaya mutiara masih banyak mengalami hambatan baik yang bersifat teknis maupun non teknis. Walaupun saat ini kondisi keamanan dapat dikatakan lebih kondusif, tetapi masih sulit bagi perusahaan budidaya mutiara yang telah hancur untuk bangkit kembali. Untuk membangkitkan kembali usaha budidaya mutiara sekaligus menciptakan iklim usaha yang kondusif, perlu serangkaian langkah dan kebijakan untuk betul-betul mendorong usaha budidaya mutiara ini. Sehingga dikemudian hari melalui usaha ini akan dapat menyerap tenaga kerja dan sekaligus menjadi sumber PAD daerah.

Mutiara adalah suatu benda keras yang diproduksi di dalam jaringan lunak (khususnya mantel ) dari moluska hidup. Sama seperti kulit moluska, mutiara terdiri dari kalsium karbonat dalam bentuk kristal yang telah disimpan dalam lapisan-lapisan konsentris. Mutiara yang ideal adalah yang berbentuk sempurna bulat dan halus, tetapi ada juga berbagai macam bentuk lain. Mutiara alami berkualitas terbaik telah sangat dihargai sebagai batu permata dan objek keindahan selama berabad-abad, dan oleh karena itu, kata “mutiara” telah menjadi metafora untuk sesuatu yang sangat langka, baik, mengagumkan, dan berharga.

Mutiara berharga terdapat di alam liar, tapi dalam kuantitas yang sangat jarang. Mutiara budidaya atau mutiara yang berasal dari tiram merupakan mayoritas dari mutiara-mutiara yang dijual di pasaran. Mutiara laut dihargai lebih tinggi dari mutiara air tawar. Mutiara palsu juga banyak dijual dengan harga murah, tetapi kualitasnya biasanya jelek – dan secara umum, mutiara buatan dapat dengan mudah dibedakan dari mutiara asli. Mutiara banyak dibudidayakan terutama untuk digunakan sebagai perhiasan , namun di masa lalu mutiara juga digunakan sebagai hiasan pada pakaian-pakaian mewah. Mutiara juga bisa dihancurkan dan digunakan dalam kosmetik, obat-obatan, atau dalam formula cat.

MPA'A   GANTAO

Dalam seni Tari Bima, semua jenis tari rakyat, disebut “mpa’a ari mai ba asi” atau tari di luar pagar istana (ASI). Hal ini berarti bahwa atraksi kesenian ini tumbuh dan berkembang di luar lingkungan istana, yang lazim disebut dengan Tari Rakyat. Biarpun tari rakyat tumbuh dan berkembang di luar istana, namun sultan melalui para seniman istana, tetap mempertahankan pertumbuhan dan perkembangan tarian rakyat, dengan demikian mutu tari tetap terpelihara dan terpacu pada nilai dan norma agama dan adat yang islami.



Mpa’a Gantao adalah salah satu tarian rakyat yang telah tumbuh sejak zaman kesultanan Bima. Atraksi keseniaan ini diperkirakan ada sejak masa pemerintahan Sultan Abdul Khair Sirajuddin( 1648-1685).Atraksi kesenian ini cukup popular bagi masyarakat Bima, karena hingga saat ini masih tetap eksis dan dipertunjukkan dalam berbagai acara dan hajatan baik di lingkup Pemerintah Daerah maupun masyarakat. Biasanya Gantao dipertunjukkan pada acara hajatan pernikahan maupun sunatan.



Mpa’a Gantao dimainkan oleh dua orang penari, ragam geraknya sama dengan ragam gerak silat, tetapi dimainkan dalam irama gerak yang cepat, begitu pula musik pengiringnya tidak jauh berbeda dengan irama musik Mpa’a sila(Silat), hanya iramanya lebih cepat. Alat music pengiringnya adalah dua buah gendang, Tawa-Tawa, Gong serta alunan Serunai Khas Mbojo yang disebut “ Sarone”. Dalam satu group Gantao terdiri dari lima orang pemain music dan 2 orang pemain Gantao.

Atraksi ini tergolong masih tetap eksis keberadaannya hingga saat ini. Meskipun hanya beberapa sanggar seni saja yang tetap menekuninya. Persoalan mendasar yang dihadapi para seniman adalah minimnya pembinaan dan bantuan peralatan serta kostum. Disamping itu, proses regenerasinya sangat lamban. Peniup Sarone saja semakin langka, aplagi penabuh gendang. Diperlukan pembinaan dan proses regenerasi untuk mengajak para pemuda bergelut di seni budaya tradisional Mbojo dalam rangka upaya pelestariannya.

KETIKA PANEN GAROSO MBOJO

Antara bulan Pebruari hingga April buah Garoso melimpah di kabupaten dan Kota Bima. Pada musim-musim seperti ini para pedagang Garoso berjejer untuk menjual Garoso di sepanjang jalan dari Desa Panda hingga memasuki kota Bima. Di pasar-pasar Bima pun bermunculan pedagang Garoso.

Ina Amnah salah seorang penjual Garoso yang ditemui di pinggir jalan di pantai Oi Niu mengemukakan, bahwa dirinya sebenarnya penjual ikan dan sayuran. Namun ketika Musim Garoso tiba ia dan anak-anak serta keluarga beralih profesi untuk sementara waktu dengan menjual Garoso baik yang berasal dari kebunnya maupun yang didapat dari pemilik kebun lainnya di sekitar Gunung Panda dan Oi Niu. “ Alhamdulillah nak, di musim Garoso ini adalah sedikit rejeki untuk uang sekolah anak-anak.” Ujarnya sambil melayani para pembeli yang biasanya ramai mengunjungi pinggir-pinggir pantai teluk bima di sore hari.

Ketika ditanya berapa yang laku tiap hari, sambil tesenyum Ina Amnah menjawab bahwa penghasilannya sehari dari menjual Garoso bisa mencapai 100 ribu rupiah terutama ketika hari minggu dan hari libur. Warga yang biasa berdatangan di tempat itu adalah warga Kabupaten dan Kota Bima, Dompu bahkan tamu-tamu yang datang dari Mataram dan Jakarta.

Garoso adalah sejenis buah Srikaya termasuk pohon buah-buahan kecil yang tumbuh di tanah berbatu, kering, dan terkena cahaya matahari langsung. Tumbuhan yang asalnya dari Hindia Barat ini akan berbuah setelah berumur 3-5 tahun. Srikaya sering ditanam di pekarangan, dibudidayakan, atau tumbuh liar, dan bisa ditemukan sampai ketinggian 800 m dpi.

Perdu atau pohon kecil ini mempunyal tinggi 2-5 m, kulit pohon tipis berwarna keabu-abuan, getah kulitnya beracun. Daun bertangkai, kaku, ietaknya berseling. Helaian daun bentuk lonjong sampai jorong menyempit, ujung dan pangkai runcing, tepi rata, panjang 6-17 cm, lebar 2,5-7,5 cm, permukaan daun warnanya hijau, bagian bawah hijau kebiruan, sedikit berambut atau gundul. Bunga 2-4 kuntum (berhadapan), keluar dan ujung tangkai atau ketiak daun, warnanya hijau kuning. Buahnya buah semu, bentuk bola atau kerucut, permukaan berbenjol-benjol, warnanya hijau berserbuk putih, penampang 5-10 cm, jika masak, anak buah akan memisahkan diri satu dengan lainnya. Warnanya hijau kebiru-biruan. Daging buah berwarna putih, rasanya manis. Biji masak berwarna hitam mengkilap.

Ina Amnah dan ratusan orang yang berjualan di pinggir jalan di kota dan kabupaten Bima adalah bagian yang tidak terpisahkan ketika Musim Garoso tiba. Mereka adalah pedagang musiman yang memiliki profesi lain sebelum maupun setelah musim Garoso. Inilah romantika Bima yang tetap menjadi icon setiap tahun antara bulan Pebruari hingga April.

Sumber : www.kapung-media.com *Alan

Mengintip Masa Lalu Lewat Bangunan Bersejarah di Bima

Syekh Abdulgani Bima (Al-Bimawi).

Puncak musim panas di Bima biasanya berlangsung sampai November. Terkadang berkepanjangan hingga awal Desember. Dalam kurun waktu itu udara di siang hari menyengat. Kota Bima selain lewat udara, dapat juga dicapai lewat darat dari Poto Tano, Sumbawa dan jalur laut. Perjalanan dengan mobil dari lapangan terbang Sultan Muhammad Salahuddin hanya sekitar 20 menit menuju Kota Bima. Jarak antara lapangan terbang dan pusat kota sekitar 20 kilometer. Di barat ada pelabuhan laut, jaraknya sekitar satu kilometer dari pusat kota.

Tidak banyak pemandangan menarik di sepanjang perjalanan selama musim panas, kecuali alunan ombak pantai Teluk Bima. Selebihnya gunung-gunung yang diapit pantai dan bukit-bukit gundul. Beberapa kilometer sebelum memasuki kota, kita menjumpai pelabuhan dan depot minyak Pertamina dan tempat rekreasi, Pantai Lawata. Pantai tersebut panjangnya lebih kurang setengah kilometer yang dinaungi oleh bukit berbatu. Ada beberapa bangunan di atas bukit di dekat pantai. Pada hari-hari libur, tempat tersebut banyak didatangi masyarakat. Lawata ibarat sebuah gerbang “selamat datang”, memberi isyarat bahwa perjalanan akan segera memasuki Kota Bima. Di mulut kota terdapat sebuah terminal bus yang bernama Terminal Dara. Dinamakan demikian karena terletak di Desa Dara.

Juga tidak banyak hal menarik yang ditemui di dalam kota, kecuali sebuah bangunan kuno Istana Bima atau akrab dikenal dengan Asi Mbojo, bangunan berlantai dua hasil perpaduan arsitektur asli Bima dan Belanda. Istana ini menggantikan bangunan sebelumnya yang dibangun pada abad ke-19, yang bergaya Portugis. Ukurannya jauh lebih kecil dibanding istana sekarang. Kini bangunan Istana Bima menjadi museum dengan nama Museum Asi Mbojo.

 
Memandang Museum Asi Mbojo sekarang, kita seperti pergi ke masa lalu, ketika Kerajaan Bima berjaya. Bangunan yang pernah menjadi istana raja-raja Bima itu mampu bercerita banyak tentang masa lalu moyang orang Bima yang legendaris. Di sebelah timur areal istana berdiri Masjid Agung Bima. Dulu namanya Masjid Agung Al-Muwahidin. Sebelah barat adalah lapangan taman kota yang dulunya adalah lapangan sepak bola. Selebihnya adalah toko-toko, losmen-losmen dan pelabuhan laut. Kotoran kuda-kuda penarik “Benhur“, kendaraan tradisional Bima, bertebaran di jalan-jalan beraspal. Di musim panas kotoran itu menjadi debu yang menyapu kota.

Asi Mbojo di masa jayanya tidak sepi dari kegiatan sehari-hari kesultanan. Walaupun saat ini tersia-sia, pada masa lalu Asi Mbojo merupakan tempat sakral yang menjadi pusat pemerintahan, seni dan budaya, pusat penyiaran Islam dan Pengadilan Hadat. Asi Mbojo didampingi Asi Bou, sebuah rumah panggung asli Bima, merupakan tempat kediaman resmi sultan dan keluarganya. Tapi kini mereka menyendiri dan kesepian. Istana atau Asi dalam Bahasa Bima dikenal oleh masyarakat Bima pada sekitar abad ke-11 Masehi.

Istana Bima (Asi Mbojo) adalah bangunan bergaya Eropa. Mulai dibangun pada tahun 1927. Bangunan ini dirancang oleh seorang arsitek kelahiran Ambon, Rehatta, yang diundang ke Bima oleh penjajah Belanda. Ia dibantu oleh Bumi Jero. Istana yang kini telah beralih fungsi sebagai museum daerah itu adalah sebuah bangunan permanen berlantai dua yang merupakan paduan arsitek asli Bima dan Belanda. Istana tersebut resmi menjadi Istana Kesultanan Bima pada tahun 1929. Pembangunan istana dilakukan secara bergotong-royong oleh masyarakat, sedang sumber pembiayaan berasal dari anggaran belanja kesultanan dan uang pribadi sultan.

Asi Mbojo, bangunan paling indah dan megah pada masa kesultanan, memiliki halaman seluas 500 meter persegi yangditumbuhi pohon-pohon rindang dan taman bunga yang indah. Bangunan istana diapit oleh dua pintu gerbang timur dan barat yang senantiasa dijaga oleh anggota pasukan pengawal kesultanan.

Konsepsi tata letak bangunan istana tidak jauh berbeda dengan istana lain di tanah Air. Istana menghadap ke barat. Di depannya terdapat tanah lapang atau alun-alun namanya Serasuba. Di sinilah raja tampil secara terbuka di depan rakyat di saat-saat tertentu, misalnya saat diselenggarakan upacara-upacara penting atau perayaan hari besar keagamaan. Serasuba juga menjadi arena latihan pasukan kesultanan. Di sebelah alun-alun terdapat sebuah bangunan masjid, sebagai sarana kegiatan ritual keagamaan (Islam). Kini masjid itu bernama Masjid Sultan. Tanah lapang berbentuk segi empat (mendekati bujur sangkar). Satu sisi bersebelahan dengan bangunan masjid dan sisi yang lain menyatu dengan halaman istana. Jelaslah bahwa bangunan istana, alun-alun dan masjid merupakan satu kesatuan yang utuh.

Untuk memberi kesan sebagai bangunan monumental, istana bisa dipandang dari empat penjuru angin. Tampaknya pembangunan istana memperhatikan konsepsi filosofi sebuah istana yang di dalamnya mentyiratkan kesatuan unsur pemerintahan, agama dan rakyat (masyarakat). Namun, kini konsep filosofi itu telah sirna sejalan dengan dikapling-kaplingnya tanah di sekitar istana oleh segelintir orang untuk rumah dan kantor. Bukan saja istana menjadi kehilangan keanggunan dan kesan monumentalnya tapi konsep filosofinya menjadi berantakan. Masjid Raya Kesultanan, kini Menjadi Masjid Agung Bima, telah terpisah jauh dari Istana, seperti sudah keluar dari konteks. dari sini terbaca bahwa orang Bima mengalami krisis jati diri dan wawasan kebangsaan yang laten.

Bersamaan dengan berakhirnya masa kesultanan pada tahun 1952, maka berakhirlah peranan Asi Mbojo sebagai pusat pemerintahan, pusat pengembangan seni dan budaya, pusat penyiaran Islam dan pusat pengadilan hadat. Kini bangunan tersebut menjalani fungsi yang baru sebagai museum bagi barang-barang peninggalan raja-raja dan sultan-sultan Bima. Di kedua pintu gerbang tidak ada lagi anggota pasukan pengawal kesultanan. Alun-alun Serasuba telah beralih fungsi menjadi lapangan sepakbola. Halaman belakang Istana yang dulunya merupakan taman bunga yang indah, sejak tahun 1963 diperjual-belikan kepada masyarakat untuk pengembangan rumah-rumah pribadi. Ia seolah-olah harus sirna karena merupakan apa yang dikatakan — segelintir orang — sebagai lambang “feodalisme masa lalu”.

Keadaan istana betul-betul parah pada tahun 1966. Istana yang senantiasa bersih dan terawat dengan baik, berubah menjadi kotor dan beberapa bagian bangunan rusak dan runtuh. Bangunan termewah dikota Bima itu akhirnya merana. Istana kemudian beralih fungsi menjadi mess pegawai dan tentara. Usaha untuk mengembalikan keindahan istana dimulai tahun 1978. Pemerintah pusat melakukan pemugaran dan menjadikannya sebagai bangunan lama yang harus dilindungi dan dilestarikan.

 
Beberapa bangunan bersejarah bisa ditemukan di dalam lingkungan istana, yaitu pintu-pintu gerbang dan sebuah tiang bendera setinggi 50 meter. Pintu gerbang sebelah barat dan sebelah timur bernama Lare-lare merupakan pintu resmi kesultanan yaitu tempat masuknya sultan, para pejabat kesultanan dan tamu-tamu sultan. Lare-lare berbentuk masjid tiga tingkat. Tingkat atas (loteng merupakan tempat untuk menyimpan Tambur RasanaE dan dua buah lonceng. Tambur RasanaE dibunyikan sebagai tanda pemberitahuan adanya upacara kebesaran, sedangkan kedua lonceng dibunyikan untuk pemberitahuan tanda bahaya dan waktu.

Museum Asi Mbojo (Bima) dan kemistisan-nya




Museum Asi Mbojo (Bima)

Bangunan yang dulunya merupakan pusat Kesultanan Bima dan pusat Pemerintahan Kabupaten Bima pada tahun 1950 masih berdiri dengan kokoh dan tegap yang merupakan symbol Dana Mbojo (Bima), atau lebih dikenal dengan nama Asi Mbojo. Dan kini oleh Pemerintah setempat dijadikan sebagai Museum, awal dibangunya Asi Mbojo (Istana Bima) pada tahun 1927 oleh arsitek Belanda yang bernama Obzicshteer Rehata dan sebagiannya juga di desain oleh sultan sendiri yaitu Muhammad Salahuddin (sulthan Bima yang terakhir).

Museum Asi mbojo diserahkan kepada NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) oleh Sultan Muhammad Salahuddin pada tahun 1951, dan tahun 1989 resmi dijadikan Museum oleh pemerintah kabupaten Bima hingga sekarang. Museum ini di kelola oleh pemerintak Kabupaten Bima dan di kepalai oleh Bapak Ridwan Maman, S.Ag (40) dengan 24 Pegawainya.

Isi dari beberapa koleksi Museum Asi Mbojo antara lain Benda-benda Pusaka peninggalan Kerajaan dan kesultanan Bima, dan yang paling terpopuler dari Koleksi Museum yaitu “Gunti Rante” sebuah parang yang sangat menakjubkan di ukir pada Zaman Majapahit dan Mahkota Sulthan yang terbuat dari Emas. Koleksi – koleksi Benda Pusaka, pengunjung Museum dapat melihatnya di ruangan Galeri Benda Pusaka di lantai satu, di lantai satu juga terdapat ruangan galeri benda-benda perkakas dan baju-baju peninggalan masyarakat pada zaman kerajaan dan kesultanan, di lantai satu ini dulu merupakan kantor pusat pemerintahan Kabupaten Bima 1951 hingga 1960. Bangunan – bangunan di lantai satu dan dua masih asli dan tidak pernah di Renovasi hingga sekarang.




Ruangan Galeri Benda Pusaka

dan bila pengunjung juga ingin melihat Kamar tempat menginapnya Bung Karno (Ir. Soekarno) pengunjung dapat melihatnya di lantai 2, di lantai 2 pengunjung juga bisa melihat kamar – kamar Sulthan, putra Mahkota, dan kamar Putri. Ibu Nurhaini (45) Pegawai Museum yang bertugas untuk menemani para pengunjung untuk berkeliling kepada kami (Solud) bercerita “ bahwa dulu istana Asi yang pertama pernah di Bom pada masa peperangan sehingga di bangun Asi Kontu (istana belakang) untuk sementara, dan bangunan Museum saat ini adalah bangunan Asi yang kedua setelah yang pertama di bom” begitulah yang diceritakan oleh ibu Nurhaini.



Kamar tidur Ir. Soekarno saat mengunjungi Kesultanan Bima



Galeri Lantai Satu

Bila ingin berkunjung ke Museum Asi Mbojo pasti tidaklah sulit menemukannya, karena letaknya yang strategis pas di sebelah alun-alun Kota Bima, karcis untuk masukpun sangat murah untuk Dewasa atau Umum hanya Rp. 2000, anak- anak Rp. 500, Turis Rp. 3000, dan Pelajar dan Mahasiswa Rp. 1000.

Menurut kepercayaan Masyarakat Bima bahwa Museum Asi Mbojo masih memiliki Aura mistisnya, banyak kejadian-kejadian aneh dan hal-hal gaib yang terjadi di Museum ini, karena Asi (Istana) masih dijaga oleh para leluhur. Karakter bangunan Museum Asi Mbojo dalam pandangan Masyarakat Bima pada umumnya sangat Religius, dulu merupakan tempat semua masyarakat belajar Islam pada zaman Kesultanan Bima.