SHARE DAN BERBAGI DALAM KOMUNITAS SOSIAL MEDIA INDONESIA

SHARE DAN BERBAGI DALAM KOMUNITAS SOSIAL MEDIA INDONESIA

SHARE DAN BERBAGI DALAM KOMUNITAS SOSIAL MEDIA INDONESIA

SHARE DAN BERBAGI DALAM KOMUNITAS SOSIAL MEDIA INDONESIA

SHARE DAN BERBAGI DALAM KOMUNITAS SOSIAL MEDIA INDONESIA

Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan

TANAH PUTIH, BERBENAH UNTUK MENJADI JUARA


Masyarakat Tanah Putih Sape secara gotong royong dan dengan semangat yang penuh kekompakan merias desa mereka hingga terlihat Bersih, Indah dan Menawan. Kesiapan Aparat desa sangat serius, hal itu terlihat ketika Tim Penilai yang diketuai oleh Drs. Sirajuddin berkunjung ke Desa Tanah Putih, Senin (27/03/2017) disambut dengan antusias dan attraksi kesenian yang sangat meriah.

Kades Tanah Putih, Khaeruddin, S.Hut menjelaskan, bahwa Tanah Putih dengan luas wilayah 1.720 Ha, dengan jumlah penduduk sebanyak 1.444 Jiwa yang terbagi dalam 384 Kepala Keluarga, tersebar di tiga dusun.

Tanah Putih lanjut Khaeruddin, memiliki sejarah panjang dan setiap huruf dari nama desa memiliki makna tersendiri yaitu T: Taqwa, A:Amanah, N: No Narkoba, A: Aman dan H: Humanis. Sedangkan pada kata Putih adalah P: Pacu Pembangunan, U: Ulet atau tidak mudah putus Asa.T: Taat, I: Indah dan H: Hikmah atau bijaksana. Silakan Anda menggabungkannya sendiri , namun yang pasti kami ingin membangun peradaban Desa Tanah Putih sesuai makna-makna yang terkandung dalam kata-kata tersebut, imbuhnya.

Ditempat yang sama, Ketua Tim penilai, Drs Sirajuddin AP, MM menjelaskan, Sesuai Kepmendagri Nomor 81 tahun 2015, ada 14 indikator penilaian dalam lomba desa tahun 2017 ditambah dua indikator yang terbaru baru yaitu siaga bencana dan pemanfaatan tekhnologi informasi atau e government.

Lebih lanjut Sirajuddin mengatakan, Pemerintah desa dan masyarakat dituntut kesigapannya dalam menghadapi bencana, se iring dengan seringnya terjadi berbagai bencana, untuk itu kesigapan menghadapi bencana menjadi salah satu unsur penilaian. Demikian juga dengan penerapan tekhonologi informasi, mutlak diperlukan dalam rangka publikasi dan transparansi program dan kegiatan pembangunan di desa, Pungkasnya (AB)


abunawarbima@gmail.com

DESA PIONG, PENINGGALAN KERAJAAN SANGGAR BIMA NTB


Perpaduan birunya laut dengan hamparan hijaunya dedaunan dari aneka ragam pepohonan yang rindang dipesisir pantai Desa Piong, Kecamatan Sanggar, Kabupaten Bima NTB menyajikan pesona alam yang indah dan sangat menakjubkan.

Desa Piong memiliki aneka potensi alam seperti nener, rumput laut, Mutiara, Peternakan Sapi, Rusa, Madu dan sebagainya. Maka tidaklah heran sebagian besar masyarakatnya cukup terkenal dengan keahlian berburu rusa atau pawang Madu.

Sayangnya potensi alam yang cukup menjanjikan di Desa bekas kerajaan Sanggar ini, tidak didukung dengan pengembangan maupun perbaikan infrastruktur yang memadai, misalnya sepanjang Piong dan Labuan Kananga, jalanannya rusak parah, Sarana komunikasipun tidak ada.

Alokasi Dana Desa (ADD) untuk Desa yang berada di pesisi utara dan timur Gunung Tambora ini terus meningkat. Tahun 2015 mendapatkan alokasi Rp 1,1 miliar, 2016 Rp 1, 28 miliar dan tahun 2017 Rp 1, 48 miliar. Dana yang cukup besar, namun sarana dan prasarana masih jauh dari yang diharapkan. Mengapa?

Kepala Desa Piong, Mokhdalil HB mengakui, Desa Piong termasuk salah satu desa tertinggal, dan mendapatkan ADD tertinggi dari sejumlah desa lainnya yang ada di Kecamatan Sanggar, dengan jumlah penduduk 2.144 jiwa, yang terdiri dari empat dusun.

Sebagian besar penduduk menggantungkan hidup dari bertani, beternak, nelayan, mencari madu dan berburu rusa. Faktor cuaca menjadi penentu kelancaran hidup, jika cuaca terus menerus memburuk, dapur kamipun tidak bisa mengepul, barangkali itulah penyebabnya desa ini terus tertinggal, imbuhnya.

Jalur Akses Menuju Desa Piong.

Untuk akses ke Desa Piong, Bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua (Motor) dari Kota Bima, jarak tempuh sekitar satu setengah jam atau menggunakan Bus menuju Kore yang menghabiskan waktu sekitar dua jam lebih, dengan ongkos Rp.20 ribu/orang.

Dalam perjalanan menuju Kore pun tidak akan membosankan, sebab sepanjang perjalanan terpajang hamparan berbagai keindahan alam yang cukup mempesona, Lelah yah tetap lelah memang, tapi semuanya akan terobati setelah tiba di Desa Piong, segera nikmati gurihnya daging rusa plus minuman khusus dari Madu, Segala kepenatan yang dirasa, segera pulih kembali (AB)


abunawarbima@gmail.com

KALATE NDIRA, WISATA ALAM BIMA YANG MENAKJUBKAN


Jika anda petualangan alam sejati, Wisata Alam ‘Kalate Ndira’ pastinya anda akan tertantang untuk segera mengunjunginya, Tempatnya yang tersembunyi dan terpencil, sehingga banyak masyarakat Indonesia bahkan masyarakat Bima sendiri belum banyak yang mengetahuinya. Pesona alam yang masih alami menjadi daya tarik tersendiri, sehingga banyak wisatawan lokal maupun mancanegara memburunya.

Wisata alam yang masih tergolong perawan ini, memiliki medan jalan yang sangat berat dan anda harus menempuh perjalanan panjang dan melelahkan karena kondisi jalan masih belum bagus, apalagi musim hujan banyak yang tergelincir karena jalan yang licin, tetapi rasa lelah dan capek anda semuanya akan terbayar begitu tiba di lokasi, karena anda akan disambut serta dimanjakan dengan hamparan pesona alam yang sungguh menakjubkan membuat anda betah berlama-lama disini.

Berdasarkan cerita Masyarakat setempat, Kalate berarti batu besar sedangkan Ndira berarti rata jika digabungkan Kalate Ndira memiliki makna batu besar yang berbentuk rata, dan memang, di tempat ini banyak bebatuan alami dan juga terdapat air terjun yang meluncur dari ketinggian 10 meter, dan tepat dibawah titik air terjun tersebut terbentuk sebuah kolam alami yang luas dengan air yang sangat jernih, memancing anda untuk segera berenang sembari menikmati merdunya kicauan burung dari rindangnya berbagai pohon sekitarnya.

Jika anda tertarik mengunjungi Wisata alam yang berada di Desa Sie, Kecamatan Monta, Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) ini, Bisa ditempuh dari Kota Bima menuju Desa Sie, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Dusun Diha. Selanjutnya dari Dusun Diha anda harus berjalan kaki sembari menikmati indahnya pemandangan sawah sekitarnya dan semangat anda pun akan terus bertambah karena dari tempat ini sudah terdengar suara gemuruh air terjun sehingga memancing anda untuk segera tiba di lakasi.

Wisata Alam ‘Kalate Ndira” Adalah salah satu Wisata yang sangat menjanjikan dan patut untuk dikembangkan karena pesona alamnya yang menakjubkan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan berkunjung ke Daerah Bima, Untuk itu Pemerintah Daerah Bima harus lebih serius menangani prasarana atau faktor pendukung lainnya agar akses menuju Wisata alam ini lebih lancar, Colek Pemda Bima.

Abunawar Bima

abunawarbima@gmail.com

WISATA UNIK DI PANTAI HODO - DOMPU NTB


DOMPU cukup dikenal sebagai penghasil Susu Kuda Liar dan Madu, Selain itu juga dikenal sebagai daerah yang kaya akan keragaman genetik hewan seperti kerbau rawa atau kerbau lumpur (Sahe dalam bahasa Dompu) yang selama ini belum diketahui persis tingkat keragaman genetiknya dengan kerbau-kerbau di daerah lain.

Keberadaan kerbau inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi sejumlah peneliti dan juga wisatawan lokal maupun wisatawan manca negara yang sengaja datang ingin melihat secara langsung tingkah laku kerbau yang jinak ini dan hampir setiap hari selalu berkubang di sekitar pesisir Pantai Hodo - Dompu NTB.

Pantai Hodo sendiri adalah salah satu objek wisata di Kabupaten Dompu, yang saat ini semakin populer dikalangan wisatawan akan keunikannya. Unik karena, Sejatinya pesisir pantai dipenuhi orang-orang untuk bersantai, berenang dan sebagainya namun, jangan heran di pantai ini anda akan menjumpai segerombolan kerbau-kerbau yang jinak dan tidak merasa terusik jika anda potret atau dijadikan obyek untuk foto selvi.

Di kawasan pinggir Pantai Hodo memang ada mata air tawar yang terus menerus mengalir hingga ada beberapa yang membentuk menjadi beberapa kubangan, Bahkan ada yang terbentuk kubungan besar yang bisa menampung puluhan kerbau untuk mandi, santai atau sekedar berkubang menghindari teriknya sengatan matahari.

Pantai Hodo masih asri dengan hamparan pasir hitam dan air laut yang jernih memancing anda untuk segera berenang namun harap hati-hati melangkahkan kaki menuju bibir pantai agar tidak terjebak dan terjebur di kubangan kerbau. Pantai yang tidak dipungut biaya masuk ini, kian hari kian ramai dikunjungi karena selain untuk ber-wisata pantai andapun bisa secara langsung menyaksikan atau mengamati tingkah laku kerbau yang sedang berkubang dan disarankan agar berkunjung di pantai ini antara pagi hingga sore hari, karena pada waktu itulah kerbau datang untuk berkubang.

AKSES MENUJU PANTAI HODU

Untuk akses ke Pantai ini dari pusat Kota Dompu, bisa melalui penerbangan Jakarta - Lombok, kemudian dari Lombok dilanjutkan dengan jalan darat sekitar 17 jam, menariknya, anda juga punya waktu luang, sekitar 4 jam untuk melihat-lihat pemandangan laut di atas kapal penyeberangan (Fery) dari pada Anda hanya duduk-duduk saja dalam kendaraan. Akan tetapi jika Anda mabuk laut, disarankan menggunakan alternatif lain.

Alternatifnya, Dari Jakarta transit di Lombok atau Denpasar Bali kemudian meneruskan penerbangan ke Bima. Dari Kota Bima dilanjutkan perjalanan darat menuju Dompu dengan waktu tempuh sekitar 4 jam. Alternatif ini cukup mudah dan hemat waktu, maka tidak heran, pada waktu Peringatan Seabad Meletusnya Gunung Tambora tahun lalu, banyak yang menggunakan alternatif ini. (AB) - 


Abunawar Bima
abunawarbima@gmail.com

KEHIDUPAN RAMAH LINGKUNGAN DI DESA CALABAI DOMPU NTB



Jika Anda selama ini dimanjakan dengan kehidupan modern, di desa ini Anda dapat merasakan suasana yang berbeda. Listrik di kawasan desa ini masih terbatas. Penduduk setempat hanya dapat menikmati listrik mulai pukul 6 sore sampai pukul 6 pagi.

Pada siang hari, listrik tidak ada. Dengan demikian, Anda dapat merasakan suasana kehidupan desa yang memiliki keindahan alam yang luar biasa. Lokasi desa yang terletak di sebelah utara semenanjung Tambora ini membuat Desa Calabai memiliki pemandangan alam yang luar biasa. Hampir di setiap titik Anda dapat melihat kecantikan alami dari alam.


Di sisi barat, Anda dapat melihat keindahan laut biru yang mempesona. Di sebelah timur berdiri gagah gunung Tambora yang dikenal dengan kaldera terluasnya. Di saat pagi, Anda dapat melihat matahari terbit dengan indah dari balik gunung ini.

Saat berjalan - jalan di pantai, Anda dapat mencoba ikut nelayan mencari ikan. Selain mencari ikan dari atas perahu, nelayan tersebut juga mencari ikan dengan menggunakan benda semacam parang dan memanah ikan yang diburu sambil menyelam. Hal ini tentu cukup sulit, apalagi jika belum terbiasa. Namun, Anda dapat mencobanya untuk menambah pengalaman liburan Anda.


Calabai terletak di kecamatan Pekat, Dompu, Sumbawa, NTB. Letaknya cukup jauh dari kota sehingga memerlukan waktu perjalanan yang cukup lama untuk mencapai desa ini. Dari Dompu, perjalanan darat memerlukan waktu sekitar 4,5 - 5 jam.

Anda dapat menyewa kendaraan untuk sampai di desa ini. Namun, jika Anda ingin lebih hemat, Anda dapat menggunakan bus jurusan Dompu - Calabai. Bus ini hanya berangkat 2 kali dalam sehari yaitu pada pukul 6 pagi dan 2 siang.

Tetapi jika Anda berada di Bima, tidak ada bus yang langsung ke desa ini. Anda harus mencari bus terlebih dahulu menuju Dompu, baru mencari bus tujuan Calabai. Lama perjalanan dari Bima ke Desa  Calabai sekitar 6 jam dan sekitar 8 jam perjalanan dari Sumbawa Besar.

Jika Anda di kota Mataram yang berada di pulau Lombok, perjalanannya memang lebih lama. Namun ada bus yang langsung menuju ke Calabai. Anda bisa naik bus Sari Rejeki rute Mataram - Calabai dari Terminal Bertais.

Bus ini hanya berangkat sekali dalam sehari yaitu pada pukul 9 pagi. Anda harus menyeberang pulau Lombok menuju ke Sumbawa dan melanjutkan perjalanan darat sampai di Calabai. Biasanya bus ini akan sampai di Calabai pukul 6 pagi.

DESA SEMBALUN LAWANG, PINTU GERBANG MENUJU PUNCAK RINJANI


Sembalun Lawang merupakan sebuah desa di kaki Gunung Rinjani. Desa kecil ini menawarkan pemandangan alam yang indah dan merupakan salah satu jalur populer pintu gerbang pendakian ke Gunung Rinjani.

Desa Sembalun Lawang menjadi favorit untuk mulai pendakian karena waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke puncak Gunung Rinjani jauh lebih singkat. Untuk sampai ke sini memerlukan waktu perjalanan sekitar 4 jam dari Mataram.

Selain menyuguhkan hijaunya pepohonan dan vegetasi pegunungan, Desa Sembalun nyaris dikelilingi oleh tebing – tebing batu yang megah dan kemiringannya mencapai 90 derajat. Selain itu, udara segar pegunungan juga akan membuat Anda semakin nyaman di sini.

Sebagai pintu gerbang pendakian ke Gunung Rinjani, Desa Sembalun Lawang menjadi tempat untuk singgah bagi pendaki sekaligus melakukan persiapan. Di sini terdapat Posko Rinjani Information Center Sembalun yang menjadi pusat informasi sekaligus tempat pendaftaran untuk para pendaki.

Di sini juga banyak terdapat penginapan. Jika tidak yakin mendaki sendiri, porter handal yang bisa merangkap sebagai koki selalu siap untuk mengantarkan Anda ke Pundak Rinjani atau Danau Segara Anak.



Desa Sembalun Lawang terletak di ketinggian 1156 meter dpl. Desa ini adalah titik permulaan pendakian ke Rinjani dan Danau Segara Anak. Jarak tempuh melewati jalur ini sekitar 2 jam. Di sepanjang jalur, Anda harus melewati savanna dan jalan setapak naik turun yang berliku. Anda juga harus menyeberangi jalur lahar dingin beberapa kali.

Pos 1 terletak di ketinggian 1300 meter dpl. Pos ini berupa pondok tanpa lantai yang berada di tengah padang rumput. Di sini tidak adasumber air. Perjalanan dari Pos 1 ke Pos 2 memerlukan waktu sekitar 1 jam. Di jalur ini, Anda akan melewati padang rumput, aliran lahar, dan sungai kering dengan kondisi jalan mulai menanjak.


Plawangan Sembalun – Puncak Rinjani

Plawangan terletak di ketinggian 2639 meter dpl yang berupa dataran yang cukup luas. Tempat ini juga biasa digunakan untuk mendirikan tenda sebelum sampai di puncak Rinjani. Dari sini pemandangan Danau Segara Anak terlihat jelas.

Jalur ini dapat ditempuh sekitar 3 jam melewati tanjakan yang curam. Saat mendekati puncak, tanah yang berpasir membuat jalur ini licin dan berdebu.

Sumber : www.yukpegi.com

AIR TERJUN MADAKARIPURA PROBOLINGGO


Air Terjun Madakaripura adalah salah satu air terjun di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.  Air terjun ini memiliki ketinggian sekitar 200 m dan berbentuk ceruk yang dikelilingi tebing-tebing yang menjulang tinggi yang meneteskan air membentuk tirai pada seluruh bidang tebingnya seperti layaknya sedang hujan, 3 di antaranya bahkan mengucur deras membentuk air terjun lagi. Ada sekitar lima terjunan air di lokasi ini dengan air terjun utama berada di ujung sebuah ruangan berbentuk lingkaran berdiameter sekitar 25 m. 

Di balik air terjun utama terdapat sebuah goa dimana untuk mencapainya sangat sulit karena harus melewati kolam air seluas 25 m2 yang ada tepat di bawah air terjun tersebut.  Kedalaman kolam ini sekitar 7 m dan memiliki arus air yang sangat deras.

Menurut penduduk setempat nama Madakaripura berarti ‘tempat terakhir’ yang diambil dari cerita pada jaman dahulu, konon Patih Gajah Mada menghabiskan akhir hayatnya dengan bersemedi di lokasi air terjun ini (di sebuah goa di air terjun utama tersebut).  Cerita ini didukung dengan adanya arca Gajah Mada di tempat parkir area tersebut.


Lokasi : Terletak di Desa Sapeh, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, Propinsi Jawa Timur. 
Peta dan Koordinat GPS: 7° 51' 18.00" S  113° 0' 25.71" E

Aksesbilitas : 
Berjarak sekitar 5 km dari lintas jalan raya menuju Bromo atau sekitar 45 menit waktu tempuh dari lokasi wisata Gunung Bromo ke arah Probolinggo (ke Utara).  Jika dari pusat kota kabupaten Probolinggo sekitar 30 km. Lokasi air terjun ini bisa dicapai dengan kendaraan pribadi atau mobil sewaan (dari Probolinggo menyewa Panther Rp 150.000,- pp + supir, 12/2003) dengan kondisi jalan berkelok kelok dan sudah beraspal muluis akan tetapi sedikit sempit.

Jika perjalanan datang dari arah Probolinggo maka sesampai di Desa Sukapura akan ditemui pertigaan yang ditandai dengan plang besar.  Jika ke ke kiri ke arah Gunuing Bromo dan yang ke kanan ke arah lokasi Air Terjun Madakaripura.  Jarak dari pertigaan ini masih sekitar 4 km hingga tiba di pintu masuk lokasi air terjun. Sebelumnya masih ditemui pertigaan lagi sebelum tiba di pintu masuk dan ambil belokan ke kanan. 

Sesampainya di pintu gerbang dan masuk ke area parkir perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki kurang lebih 1 km melewati jalan setapak yang sebagian sudah cor sebagian tidak karena hilang terbawa longsor, dan menyeberangi sungai.  Untuk menuju kesana sebaiknya menggunakan jasa pemandu, hal ini dikarenakan jalan menuju kesana cukup berat medannya.  Di tambah lagi di lokasi ini sering terjadi banjir dan longsor.  Para pemandu ini, umumnya penduduk lokal, banyak ditemui di area sekitar parkiran dan mereka biasanya langsung menawarkan diri,  Ongkos pemandu sekitar Rp 50000 sekali jalan.

Mendekati lokasi air terjun akan ditemui beberapa warung penjual makanan dan minuman serta penyewaan payung.  Bagi yang tidak ingin berbasah basahan akibat terkena siraman guyuran air terjun dapat menyewa payung ini.



GREEN CANYON CIJULANG CIAMIS



Nama Green Canyon mirip dengan Grand Canyon, tapi ini bukan di Amerika. Ini Green Canyon yang terletak di Kecamatan Cijulang, Ciamis. Bikin penasaran ya.

Tempat ini menawarkan pemandangan yang sangat indah sekaligus menantang. Green Canyon merupakan aliran sungai Cijulang yang menembus sebuah gua dengan pemandangan mempesona.

Gua tersebut memiliki stalagtit dan stalagmit yang sangat indah. Aliran sungai di Green Canyon diapit oleh dua bukit yang terdiri atas bebatuan dan pohon-pohon hijau. Di bagian atas tampak stalagtit-stalagtit cantik dengan tetesan air tanah.

Di sisi kiri dan kanan terdapat air terjun kecil-kecil yang mempesona. Jika terus berenang hingga ujung jalan katanya akan menemukan gua dengan banyak kelelawar di dalamnya. Wow alangkah indahnya.

MENIKMATI KEINDAHAN ALAM DI PULAU MOYO SUMBAWA NTB



Pulau Moyo "Great Escape" para Bintang & Selebritis dunia.



Pulau Moyo adalah satu pulau terindah dari sekian banyak pulau di Indonesia, Travelers dan Wisatawan dalam negeri mungkin belum banyak yang mengetahui keberadaan Pulau Moyo. Namun untuk wisatawan mancanegara, Pulau Moyo ini sangat dikenal oleh mereka bahkan menjadi Destinasi impian mereka untuk berlibur dan menyendiri. Pulau Moyo ini terletak di utara Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). sebagian besar Travelers yang saya tanya tentang Pulau Moyo ini beranggapan kesini sangat mahal karena selama ini Pulau Moyo identik dengan Amanwana Resort, sebuah Resort berbintang lima dengan fasilitas yang sangat mewah menjadikan incaran liburan para selebriti kelas dunia dan mempunyai Rate 1000 dollar permalam.

Selanjutnya jangan sampai anda lewatkan tempat-tempat Wisata terindah berikut ini :

Desa Labuan Aji.


Desa ini ditempati oleh Suku Bima, mereka datang kesini untuk berkebun dan bertani. yang menarik disekitar desa ini adalah aktivitas penduduk desa dan rumah panggung Tradisional yang masih terjaga. masyarakat dan penduduk dusun Labuan Aji ini sangat ramah, sehingga terasa betah dan ingin sekali rasanya berlama lama didusun ini.

Anda jangan heran jika anda berkunjung ke desa ini, akan di sapa dengan ramah dalam bahasa Bima, Sumbawa dan dikit2 sih bisa Bahasa Inggris. karena desa ini sering dikunjungi turis mancanegara.

Air Terjun Mata Jitu.


Pulau Moyo tidak hanya Pantai, disini juga terdapat Air Terjun yang sangat indah. Air terjun Mata Jitu ini dapat ditempuh dari desa Labuan Aji dengan sepeda motor atau ojek sekitar 25 menit dengan membayar ongkos ojek dan kontribusi ke dusun Labuan Aji. sepanjang perjalanan menuju air terjun, kita dapat menikmati pemandangan alam seperti rumah tradisional Masyarakat Bima, peternakan sapi, perkebunan jambu mete dan hutan. di Air Terjun ini mengalir air yang sangat jernih, bahkan selama saya mengelilingi Indonesia baru kali ini saya menemukan sungai yang sangat sangat jernih. kita bisa melihat dasar sungai yang punya kedalaman lebih dari 3 meter. Air Terjun Mata Jitu salah satu destinasi yang wajib dikunjungi jika ingin menikmati Pulau Moyo. oiya Putri Diana dan Petenis Maria Sharaprova pernah mandi disini lho.

Pantai Oi Wontu.


Dinamakan Oi Wontu diambil dari Bahasa Moyo yaitu Air Mendidih, dinamakan seperti ini karena air di Pantai ini sangat jernih dan riak riak kecil membuat menjadi seperti air mendidih saking indahnya, landscape dilokasi ini juga sangat menawan sehingga kita bisa puas memotret.

Pantai Labuan Aji.


Pantai ini merupakan pantai paling ramai, karena letaknya di depan dusun Labuan Aji Moyo. lokasi ini merupakan tempat favorite saya, selain pantainya yang indah kita bisa melihat aktivitas nelayan para penduduk desa, banyak aktivitas nelayan yang sangat bagus untuk difoto. disini kita juga bisa menikmati sunset dan mengabadikan siluet yang indah.

Pantai Tanjung Pasir.


Pantai Tanjung Pasir terletak diujung selatan Pulau Moyo. Di tanjung pasir ini terdapat beberapa bale yang belum selesai terbangun. Pantai Tanjung Pasir ini merupakan spot Snorkling terbaik di Pulau Moyo, keanekaragaman karang dan ikan yang berwarna warni sangat disarankan untuk snorkling disini. sayangnya dipantai ini banyak sekali sampah, dan kurang diperhatikan oleh Pemda Setempat.di Pantai Tanjung Pasir ini biasa juga dijadikan tempat beristirahat bagi para nelayan sebelum kembali ke daratan, sehingga kita bisa memotret pantai dengan objek perahu perahu nelayan. Untuk mencapai Tanjung Pasir, kita dapat pergi melalui Sumbawa Besar dengan perahu motor nelayan sekitar 1,5 jam. Tempat yang paling dekat untuk mencapai Tanjung Pasir adalah dari desa Ai Bari dengan hanya menempuh perjalanan kurang dari 30 menit dengan menggunakan perahu motor nelayan. Desa ini dapat ditempuh dengan kendaraan dari Sumbawa Besar sekitar 1 jam.

Pantai Poto Jarum.


Sebuah pantai di Pulau Moyo dan merupakan pantai Privat, tapi orang lain boleh kok kesini. Poto Jarum yang artinya Ujung Jarum adalah sebuah kawasan lindung di Pulau Moyo. Kawasan ini memiliki pantai yang begitu indah dengan berpasir putih. Pantai nya sangat cocok untuk beraktivitas snorkeling atau berjemur. Tips yang ingin kesini bisa berjalan ke ujung pantai, disini anda akan menemukan batu bebatuan yang sangat indah untuk difoto. puas memotret nah baru deh snorkling dan berjemur.

Air Terjun Diwu Mbai.


Diwu Mba'i adalah air terjun yang terletak di dusun Brang Rea. Air Terjun ini dekat dari dusun Labuan Aji sehingga banyak masyarakat terutama anak anak mandi disini, Di air terjun ini ada sebuah ayunan diatas air terjun nya sehingga kita bisa berayun-ayun di atas air terjun dan lompat ke dalam air yang segar. untuk menuju ke Air terjun ini bisa dicapai dengan jalan kaki atau sekitar 20 menit dengan motor dari dusun Labuan Aji.

BUNGA YANG MELAMBANGKAN KEABADIAN ADA DIGUNUNG RINJANI



Gunung Rinjani, Syurganya Bunga Edelweiss, Ada apa di sana? Selain alamnya yang indah, gunung yang bisa dikategorikan sebagai primadona para pendaki itu menyimpan satu kekayaan alam yang elok untuk dilihat, yakni hamparan bunga edelweiss. Gunung setinggi 3.726 mdpl ini ini menyimpan begitu banyak keindahan di mana bunga edelweiss adalah satu di antara keindahan yang akan ditemui di Gunung Rinjani.



Selain gunung Rinjani, bunga edelweiss sebenarnya juga dapat dilihat di Tegal Alun (Gunung Papandayan), dan Alun-alun Surya Kencana dan Mandalawangi (Gunung Gede Pangrango). Bunga tersebut dijuluki sebagai bunga abadi karena tetap tumbuh di atas gunung yang tingginya ribuan meter di atas permukaan laut. Bunganya kecil berwarna putih, dan bunga keringnya dapat bertahan lama dan melambangkan keabadian.

Untuk mendapati hamparan bunga edelweiss di Gunung Rinjani, para pendaki perlu melewati jalur Sembalun Lawang. Bunga edelweiss akan mulai terlihat dari sekitaran Pos 3 Pada Balong ketinggian sekitar 1.800 Mdpl. Semakin mendekati camp area di Plawangan Sembalun, bunga ini akan semakin banyak ditemui. Mengingat adanya pemandangan yang indah, perjalanan turun dari Puncak Rinjani sebaiknya dilakukan saat hari telah benar-benar terang sehingga nantinya dapat melihat hamparan keindahan bunga Edelweiss yang indah.

Mengagumi keindahan alam Gunung Rinjani Lombok


Gunung Rinjani merupakan gunung yang berada di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Gunung Rinjani, Lombok merupakan gunung berapi tertinggi kedua yang berada di Indonesia dengan ketinggian mencapai 3.726 m dpl. Gunung ini merupakan gunung favorit bagi pendaki Indonesia karena memiliki pemandangan yang sangat indah. Secara administratif gunung ini berada dalam wilayah tiga kabupaten yaitu Lombok Tengah, Lombok Timur danLombok Barat. Gunung Rinjani di sekelilingi oleh Hampir lebih dari 20 desa, dan tentunya memiliki bayak sekali rute menuju gunung tersebut. Namun, pintu masuk utamanya adalah melalui sembalun lawang dibagian timur dan senaru di bagian utara.

Gunung yang meiliki Suhu udara rata-rata sekitar 20°C; terendah 12°C adalah gunung yang banyak dikunjungi dan didaki oleh para pencinta alam, Penduduk lokal, serta mahasiswa. Umumnya para pendaki ini ramai mengunjungi gunung Rinjadi pada bulan juni sampai dengan agustus. Orang-orang Lombok percaya jika dipuncakn gunung ini ada tempat bersemayam Dewi Anjani Ratu Jin dan penguasa rinjani. Di sebelah selatan timur puncak gunung ini terdapat hamparan debu yang dinamakan segara muncar yang katanya adalah istana gaib Ratu Dewi Anjani dan para pengikutnya, akan tetapi mereka adalah para jin yang baik.

Selain mendaki sampai puncak, tempat yang banyak di kunjungi yaitu Segara Anakan, sebuah danau kawah yang ada di ketinggian 2.000 mdpl. Jika ingin mencapai lokasi ini anda dapat mendaki dari desa Sembalun Lawang atau desa Senaru. Danau segara anakkan adalah danau yang sangat luas terlihat seperti laut biru. Nama segara anak sendiri memiliki arti anak laut. Danau ini di percaya banyak menyimpan berbagai misteri dan kekuatan gaib. karena banyaknya arwah-arwah yang misterius yang mendiami tempat di sekitar danau ini umunya orang-orang akan merasa senang jika tinggal berlama-lama di tempat ini. Penduduk setempat percaya jika danau terlihat luas dari kejauhan itu tandanya mereka hidup lebih lama tetapi jika danau terlihat sempit dari kejauhan itu tandanya mereka berumur pendek. Di area danau ini sangat dilarang untuk melakukan hubungan seksual, berkata kotor atau marah.

Di gunung Rinjani ini terdapat berbagai tumbuhan diantaranya yaitu local strawberry dan edelweis atau bunga ke abadian. local Strawberry merupakan Jenis tanaman yang tumbuh disepanjang jalan menuju rinjani, tanaman ini memiliki buah berwarna merah dan berduri seperti mawar. Buah ini seperti strawberry rasanya manis dan sedikit asam . buah ini baik untuk di konsumsi untuk para pendaki yang kehausan atau kelaparan. Sedangkan tumbuhan Edelweis atau Bunga Keabadian adalah Tanaman dan bunga yang tidak boleh untuk di petik atau di bawa pulang, karena tumbuhan ini hanya tumbuh di sekitar taman dan di alam kerajaan roh gaib. Bunga tidak akan pernah layu dan tua karena terisi oleh arwah misterius maka dari itu di namakan bunga ke abadian.

Kunjungan Turis ke Rinjani Akan Terus Meningkat


Wisatawan yang mendaki Gunung Rinjani (3.726 meter di atas permukaan laut) diperkirakan terus meningkat, meskipun Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) sempat mengeluarkan larangan mendaki gunung tersebut, 10 Januari hingga 31 Maret 2013 lalu.

Kepala Tata Usaha Balai TNGR, mengatakan Gunung Rinjani merupakan salah satu obyek wisata andalan Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Setiap tahun gunung itu selalu ramai dikunjungi wisatawan mancanegara maupun nusantara.

Ia mengatakan, jumlah wisatawan minat khusus yang berkunjung ke Gunung Rinjani selama 2011 tercatat 15.020 orang, sebanyak 8.778 orang di antaranya wisman dan 6.252 orang wisnus, sedangkan pada 2012 tercatat lebih dari 16.000 orang.

Setiap bulan wisatawan yang berkunjung ke Gunung Rinjani telah mencapai 1.660 orang. Dalam setahun gunung tertinggi ke dua di Indonesia setelah Gunung Kerinci di Sumatera Barat (3.800 meter dpl) hanya bisa didaki selama sembilan bulan. Hal ini diberlakukan oleh pengelola wisata untuk menjamin keselamatan para pendaki dari ancaman cuaca buruk.

TEMPAT TERPENCIL DENGAN RAGAM KEGANJILAN



Hari sudah menjelang tengah malam di bukit luas Firmihin, tempat tumbuhnya hutan suji darah (Dracaena cinnabari). Rembulan yang berusia sehari setelah purnama membanjiri bentang alam yang tidak rata dengan cahaya peraknya nan indah. Di dalam perkampungan gembala yang dikelilingi dinding batu, lidah api menerangi wajah empat orang yang duduk bertelanjang kaki me­ngelilingi api unggun, menikmati seteko teh panas yang dicampur susu kambing segar.

Neehah Maalha mengenakan sarung yang disebut fouta; istrinya Metagal mengenakan rok panjang dan kerudung senada berwarna ungu. Mereka membicarakan kehidupan di pulau Suqutra, dalam bahasa yang asal-usulnya sudah lama dilupakan.

Meskipun keduanya buta huruf, mereka tahu bahwa rambu baru di kaki bukit menyatakan Firmihin sebagai suaka alam. Orang asing ber­datangan ke desa mereka, katanya, untuk memotret pohon suji darah dan mawar gurun serta bunga mishhahir (Caralluma suqutrana). Para ilmuwan berdatangan dan membalik-balik bebatuan, mengaku sedang mengumpulkan serangga dan kadal. Tetapi, apa sebenarnya yang mereka cari?

Suqutra, yang berjarak 350 kilometer dari wilayah Yaman yang bergolak di seberang Laut Arab, pernah menjadi tempat legendaris. Dewasa ini, keragaman hayati Suqutra yang kaya menyebabkan berdatangan para penjelajah baru, yang berharap dapat menyingkap rahasia­nya sebelum kehidupan modern meng­ubahnya untuk selamanya.

Mendadak wajah cemas Metagal berganti menjadi senyuman geli. Dia menghilang ditelan kegelapan, lalu muncul lagi dan menawarkan paket kecil yang dibungkus kertas. Apakah saya ingin membeli kemenyan? Neehah mengambil sejumput kecil, lalu menaruhnya di atas bara api. Asap membubung berkepul-kepul, dan kami menghirup aroma wangi yang dulu pernah mengharumkan acara pemakaman para firaun Mesir dan kuil para dewa Yunani.

Bangsa Mesir, Yunani, dan Romawi KUNO memanfaatkan kekayaan alam Suqutra: getah aromatis seperti kemenyan, sari lidah buaya yang berkhasiat, dan getah merah darah dari pohon suji darah, yang digunakan sebagai obat dan bahan pewarna karya para seniman. Para petualang berdatangan untuk menjarah kekayaan pulau, meskipun konon pulau itu dijaga oleh ular-ular raksasa penghuni sejumlah gua di situ.

Nilai kemenyan dan suji darah mencapai puncak­nya pada masa pemerintahan Kekaisaran Roma. Selanjutnya, pulau itu berperan terutama sebagai pos persinggahan para saudagar dan se­lama berabad-abad relatif terpencil dari dunia luar. Dari generasi ke generasi, penduduk Suqu­tra hidup seperti nenek moyang mereka: bangsa Badui di pegunungan memelihara kam­bing, penduduk pantai menjadi nelayan, dan semuanya memanen kurma. Sejarah pulau itu dikisahkan secara turun-temurun melalui puisi, yang dibacakan dalam bahasa Suqutri.

Selain lokasinya yang strategis, dulu tidak ada hal lain yang menarik dunia luar tentang Suqutra. Tetapi, keadaan itu sekarang berubah.

Penelitian pada akhir abad ke-20 membukti­kan bahwa pulau tropis ini, meskipun hanya sedikit lebih luas daripada Pulau Madura, menduduki salah satu peringkat tertinggi di dunia sebagai pusat keanekaragaman hayati, menggabungkan unsur dari Afrika, Asia, dan Eropa dengan cara yang masih tetap mem­bingungkan para ahli biologi. Jumlah spesies tanaman endemik (yang tidak ditemukan di tempat lain) per kilometer persegi di Suqutra dan tiga pulau kecil terpencil lainnya merupakan keempat terbanyak di gugus kepulauan di muka Bumi—setelah Seychelles, Kaledonia Baru, dan Hawaii. Pegunungan Hajhir, gunung granit bergerigi yang menjulang hampir setinggi 1.500 meter di tengah pulau, kemungkinan besar di­tumbuhi tanaman endemik yang densitasnya ter­tinggi di Asia Barat Daya. 

Pada suatu siang yang terik, saya berjalan-jalan di dekat kota Hadibu yang berdebu, ber­sama ahli botani Lisa Banfield, pakar tentang Suqutra. Kami mendaki lereng bukit berbatu dan berhenti di samping tumbuhan yang pasti cocok berada dalam lukisan Salvador Dalí—benda pendek dan lebar yang terlihat seperti bonsai yang meleleh dalam cuaca panas. Bunganya yang berwarna merah muda mengilhami nama lazimnya, mawar gurun.

“Ini contoh masyhur tentang kiat tumbuhan Suqutra yang berevolusi agar dapat bertahan dari terjangan musim kering yang ganas di sini,” kata Banfield. “Ini Adenium obesum sokotranum. Tumbuhan ini juga tumbuh di daratan Arab dan Afrika, tetapi di sana ukurannya jauh lebih kecil daripada yang terdapat di Suqutra. Batangnya menyimpan air, dan tumbuh dalam bentuk yang aneh dan indah sehingga dapat menempelkan diri ke bebatuan. Sebagian orang menyebutnya jelek, tetapi bagi saya pohon ini sungguh menawan hati.” Salah seorang pe­ngunjung dari abad ke-19 mengatakan mawar gurun ini “pohon paling jelek di dunia.”

Kami melangkah beberapa meter menuju tum­buhan yang pasti merupakan juara tum­buhan aneh di tempat lain, tetapi tidak di Suqu­tra. Batangnya yang membengkak men­julang tinggi di atas kepala, di bagian atas­nya tampak dahan berdaun rimbun yang bermunculan tak beraturan seperti rambut gimbal.

“Pertumbuhannya sangat mirip dengan Adenium,” kata Banfield, “tetapi sebenarnya ini Dendrosicyos suqutrana—pohon mentimun.”

Mentimun?

“Ya, inilah satu-satunya spesies pohon dalam keluarga Cucurbitaceae, keluarga tumbuhan yang biasanya tumbuh mendaki atau merambat dengan liar. Tetapi di sini dapat kita lihat yang ukurannya sangat besar, dengan batang besar. Seperti tumbuhan dari negeri antah berantah.”

Meski demikian, bentuk unik pohon endemik lain, suji darah, yang menjadi lambang Suqutra, bahkan mirip uang koin. Sebagai kerabat tanaman rumah dari genus Dracaena, suji darah tumbuh di dataran dan pegunungan hampir di seluruh pulau. Hutan suji darah yang paling luas terdapat di Firmihin dan di situlah saya menghabiskan malam hari bersama Neehah dan Metagal. Esoknya, Banfield dan rekannya Ahmed Adeebd yang berasal dari Suqutra mengajak saya mendaki di seputar Firmihin.

Bentang alamnya berupa batu gamping ber­serakan yang terkikis menjadi bentuk setajam pisau. Padang tandus kecokelatan di sana-sini diselingi bunga berwarna merah cemerlang dari tanaman sukulen mishhahir. Di sekitar kami tampak kumpulan pohon suji darah yang dahannya menyeruak ke atas, tampak seperti payung terbuka. Beratus-ratus pohon suji darah menyebar ke semua penjuru, tetapi Banfield mengemukakan hal yang merisaukan: Hampir tidak ada tunas yang tumbuh dari bebatuan di bawah pohon dewasa. 

Banyak tumbuhan di sini mengandalkan kabut untuk mendapatkan air. Beberapa di antara tumbuhan endemik yang langka di Suqutra tumbuh di tebing terjal di pegunungan dan di sekitar tepian pulau, dan di situ mereka menyerap lembap yang terhimpun saat kabut mengembun di bebatuan. Cabang suji darah yang menyeruak ke atas itu sesungguhnya merupakan adaptasi yang berlangsung amat lambat untuk mengumpulkan lembap yang berharga dari kabut di udara—dan saat ini jumlah air semakin menyusut. 

Jika perubahan iklim itulah yang menyebab­kan tidak terjadinya regenerasi suji darah dan tumbuhan langka lainnya, mungkin tidak akan ada solusi jangka pendek. Sementara itu, Banfield dan para pakar pelestarian alam lain­nya sama-sama prihatin akan ancaman manusia.

Sebelum 1999, tidak ada bandara bagus di Suqutra dan tidak ada jalan beraspal. Namun, sejak tahun itu, laju pembangunan sangat pesat. Perubahan yang di tempat lain berlangsung selama puluhan tahun dipadatkan menjadi beberapa tahun saja di sini. Semakin banyak kendaraan melintasi pulau di jaringan jalan raya yang terus tumbuh.

Meski pergolakan politik belum lama ini membatasi kedatangan wisatawan asing, selama dasawarsa yang lalu pantai yang molek, pegunungan yang bergerigi, keragaman hayati yang unik, dan budaya purba pulau ini menarik wisatawan dengan kenaikan jumlah yang mencengangkan—dari 140 wisatawan asing pada tahun 2000 menjadi hampir 4.000 orang pada 2010. Para pencinta Suqutra meng­khawatirkan bahwa ketidaksabaran pemerintah Yaman dalam mengubah pulau ini menjadi pulau abad ke-21 mungkin telah menimbulkan kerusakan yang tak dapat dipulihkan pada ber­bagai hal yang justru membuat orang tertarik untuk mendatanginya.

Ahli biologi Belgia Kay Van Damme pertama kali mengunjungi Suqutra pada 1999 sebagai anggota suatu ekspedisi ilmiah. Sebagai pakar udang air tawar, dia masih ingat bahwa dia dan rekan-rekan kerjanya menemukan be­berapa spesies baru hanya dengan berjalan di jalan setapak atau menyusuri sungai kecil, me­­ngumpulkan kadal, keong, serangga, tum­buhan, dan makhluk hidup lain—kadang ber­hasil menemukan beberapa spesies yang tadi disebutkan dalam satu hari saja.

Saat dia kembali ke Suqutra tahun demi tahun, tujuan Van Damme yang sepenuhnya ilmiah berubah menjadi keprihatinan men­dalam akan nasib pulau itu dan budayanya. “Kami diundang ke rumah penduduk, dan baru tahu bahwa penduduk Suqutra memiliki hubungan kuat dengan lingkungannya,” katanya. “Saya sadar bahwa semua spesies itu mampu bertahan selama ini hanya karena berbagai cara tradisional yang digunakan penduduk untuk melindungi pulau mereka.”

Lebih dari 600 desa, kebanyakan hanya berupa kumpulan rumah yang dihuni oleh keluarga besar, tersebar di seluruh Suqutra, masing-masing dipimpin oleh seorang muqaddam, atau tetua yang dihormati. Selama berabad-abad, penduduk Suqutra mengembangkan cara praktis yang menyangkut kegiatan merumput, memanen kayu, pertikaian kepemilikan lahan antar­suku, penggunaan sumber daya air, dan berbagai masalah yang serupa. Suqutra tidak seperti Yaman daratan yang kerap terjadi perseteruan sengit antarsuku dan pemandangan lelaki bersenjata yang membawa-bawa jambiya (belati upacara). Penduduk Suqutra terbiasa menyelesaikan masalah secara ke­keluargaan dalam rapat di antara desa-desa yang bertetangga. Pelestarian sumber daya merupakan satu-satunya pilihan untuk bisa bertahan hidup di lingkungan pulau yang ganas. Hal itulah yang melindungi keragaman hayati yang istimewa di Suqutra.

Van Damme telah meneliti dengan cermat pengaruh pembangunan di pulau lain, dan yang disaksikannya membuatnya risau. “Habitat hilang, tercerai-berai, spesies menjadi ganas, keragaman hayati menyusut,” katanya.

Ancaman terhadap lingkungan Suqutra amat menumpuk, meskipun setidaknya untuk sementara dapat dihindari karena masalah ke­amanan. Salah satu pantainya yang elok di­rencanakan untuk dijadikan pe­labuhan besar, meskipun tidak ada yang tahu apa perlunya ada pelabuhan itu. Ketika saya ber­kunjung, penduduk mencabut rambu yang menyatakan pem­bangunan pelabuhan itu. Kabar burung di warung kopi amat beragam, mulai dari yang tampak­nya benar (politikus Yaman membeli lahan untuk dijadikan pesanggarahan) hingga yang diragukan kebenarannya (militer AS akan men­dirikan pangkalan).

Suatu hari, saya dan Banfield bergegas men­daki tebing di dekat desa Qulansiyah, di ujung barat Suqutra. Di bebatuan merah di sini, dia menunjukkan Dorstenia gigas yang aneh, pohon ara berbentuk bulat, myrrhs, dan lidah buaya langka, serta sederet tumbuhan endemik lainnya. Tebing Maalah dan dataran di dekatnya, kata Banfield, merupakan tempat ditemukannya keragaman hayati terbesar kedua di Suqutra, setelah Pegunungan Hajhir—bukan hanya tumbuhan dan invertebrata, melainkan juga reptil, yang 90 persen di antaranya hanya terdapat di pulau ini.

Namun, tepat di bawah kami, dan yang tak terlihat di atas kami, terdapat sejumlah gua yang diratakan untuk dijadikan jalan yang akan langsung melintasi kawasan hayati yang kaya ini; kawasan tebing tidak terjamah karena para pengembang tidak memiliki keahlian tek­nis untuk me­ratakannya. Di kawasan dataran rendah lain, di Iryosh, petroglif (tatahan huruf) di bebatuan datar mungkin berisi petunjuk tentang permukiman purba di Suqutra. Namun, pada 2003, pemerintah menghancurkan sedikitnya 10 persen petroglif itu dengan mem­bangun jalan melintasi kawasan tersebut.

Pembangunan seperti itu membuka kawasan baru untuk dibangun, dan jika pariwisata meraih kembali momentumnya, akan muncul tekanan untuk menjual lahan kepada para investor asing. Di pulau yang menganut tradisi kepemilikan bersama, klaim atas lahan yang dipertikaikan dan kemungkinan diraihnya keuntungan kilat telah memecah belah desa, bahkan keluarga. Sekarang jalan baru berlika-liku dibangun di pinggiran Suqutra dan hotel serta pertokoan baru sedang dibangun di Hadibu, sebagian besar milik orang yang bukan penduduk pulau itu.

Namun, di Pegunungan Hajhir, cara lama tampaknya tetap bertahan. Para tetua desa bangun di waktu subuh dan bernyanyi kepada kambing mereka. Penduduk desa juga masih meminta bantuan dukun yang membakar kulit mereka guna mengusir penyakit. Kabut malam menghilang bersama terbitnya matahari, burung starling suqutra (Onychognathus frater) melayang-layang di antara pohon suji darah, dan bunga misterius mekar di lereng bukit yang masih belum terjamah manusia.

Menjelang akhir perjalanan, saya bersama Van Damme, Banfield, dan para pemandu me­nuju Dataran Tinggi Momi. Kawasan ini berupa deretan bukit batu gamping dan semak yang tersebar di atas gua besar-besar, dipenuhi udang air tawar dan invertebrata endemik yang langka. Tatkala kami mulai melangkah, seorang lelaki tua berjanggut putih bergegas menghampiri dan berseru, mengapa kami berada di lahannya? Kami harus pergi! Katanya, jika dia mengizinkan kami berada di situ, artinya akan lebih banyak wisatawan berdatangan meracuni kalajengking.

Kalau kami memberinya sepuluh dolar, kata­nya dia bersedia memandu kami di lereng bukit menuju tebing curam di bawah. Dia berjalan dengan kaki telanjang melintasi bebatuan tajam. Kami mendaki tebing yang memiliki tinggi hampir 600 meter di atas Laut Arab, dan ketika kembali, lelaki tua itu menggunakan syal hijaunya untuk menyatukan seikat besar dahan pohon, memanggul beban berat itu di punggung untuk dibawa pulang ke gubuknya.

Setelah tiba kembali di desa, Van Damme berkata akan menunjukkan benda aneh dan misterius yang di­temu­kannya tidak jauh dari situ. Van Damme meyakini benda itu milik ular ajaib yang menjadi penjaga gua. Dia mengambil sehelai kain putih dari lipat­an sarung miliknya. Di dalam­nya tampak se­butir kelereng—berwarna cokelat melingkar yang kerap dimain­kan oleh anak-anak, tetapi di dunianya, benda ini sungguh menakjubkan.

“Suqutra relatif masih murni,” ujar Van Damme. “Tetapi gelombang peradaban dan pem­bangunan ini merupakan bahaya terbesar yang me­ngancam keragaman hayati Suqutra. Warga Suqutra telah mempraktikkan pelestarian me­lalui tradisi mereka, namun sekarang ter­gantung pada kita untuk menjaga agar tradisi ini dapat terus berlanjut, dan kuat menghadapi berbagai ancaman. Suqutra adalah salah satu tempat terakhir di muka Bumi dengan lingkungan unik yang sebetulnya dapat kita lin­dungi, dan di sini kita masih dapat melakukan sesuatu yang positif sebelum terlambat.

KOTA DAMAKUS TUA BENTENG BUDAYA SURIAH



Di halaman Masjid Umayyah, jantung kota Damaskus Tua, kaum wanita berbusana hitam tengah duduk mengobrol di lantai batu berwarna krem​​. Lantai itu terpoles halus oleh jejak kaki manusia selama sekian generasi. Anak-anak berkejaran ke sudut yang teduh, sementara merpati menukik dan melesat naik lagi, karena, menurut kaum wanita berbusana hitam tadi, tertarik oleh kesucian tempat ini.

Pada dasarnya, di dalam tembok masjid yang dibangun pada zaman Romawi itu ter­dapat perpaduan antara keagungan kuno, ke­tenangan, dan hiruk pikuk yang berlangsung setiap hari. Masjid tetap tidak terganggu hingga kini, walau terdengar gemuruh tembakan di ke­jauhan—kegaduhan akibat perang saudara yang meluluhlantakkan pinggiran kota. Saat me­langkahkan kaki keluar dari gerbang masjid, kita akan menyadarinya. Kota Tua Damaskus, meski sebagian besar tidak rusak secara fisik, kini telah berubah.

Di bawah sisa-sisa barisan pilar Romawi, Mohammad Ali, 54, memotret foto keluarga ber­wajah muram yang sejenak mengasingkan diri dari suasana kota Aleppo yang dilanda perang. Para kliennya sudah lama menghilang. Di pusat kota, lelaki bersenjata tampak ber­patroli di jalanan. Me­reka merupakan anggota milisi yang terus ber­tambah banyak dan di­percayai oleh sejumlah warga, tetapi juga di­takuti warga lainya. Dalam keadaan bersiap-siap menghadapi hal yang tak terduga, Kota Tua itu kini meringkuk di balik tembok kuno, yang memperoleh kembali peran aslinya sebagai benteng per­lindungan bagi warga kota. Di luar tembok itu, pos pemeriksaan militer menciptakan penghalang lain, menjaga pemberontak agar tidak masuk ke dalam pusat Damaskus yang dikuasai pemerintah.

Di sepanjang jalan bergaya Prancis, di pasar sayur yang hiruk pikuk, di klub malam yang sebagian besar kosong, terasa suasana yang mencekam. Selongsong mortir semakin sering mendarat di pusat kota Damaskus, serangan yang dituduhkan pemerintah ke pihak pemberontak. Gunung Qasiyun, latar belakang kota yang berkelap-kelip di malam hari, adalah tempat para sejoli berpesta menikmati buah-buahan di kafe yang menghadap ke Damaskus. Kini, gunung itu menjadi benteng yang ditempati pasukan pemerintah untuk menghamburkan tembakan ke pihak musuh.

Banyak yang hilang. Namun, budaya Damaskus, yang dipandang berabad-abad lamanya di dunia Arab sebagai mercusuar ke­indahan dan pera­daban, menawarkan salah satu dari sedikit harapan untuk menyelamatkan Suriah. Bagi penduduk Suriah, Damaskus pa­ling mencerminkan gambaran nasionalisme yang dirasakan bersama. Selama berabad-abad, aliran Sunni, Syiah, Kristen, dan Yahudi berniaga, bekerja, dan tinggal bersama di sini. Mereka tidak terbebas dari konflik, tetapi memiliki keinginan yang sama untuk menjalani kehidupan dan berbisnis di kota. Kemudian, setelah tahun 1970, gelombang kaum Alawi, datang ke Damaskus. Mereka tertarik oleh peluang baru di bawah kekuasaan keluarga Presiden Bashar al Assad, yang juga berasal dari sekte mereka, cabang Islam Syiah.

Mereka yang tinggal di Damaskus dan sangat menyukai kota itu bersatu-padu dalam hasrat untuk mempertahankannya. Namun, pandangan warga Damaskus masih terbagi dua tentang pihak mana yang paling mengancam dunia mereka. Tepat di bawah gumpalan rasa takut-pada pemberontak, pemerintah, intervensi asing, dan kekacauan gelembung pandangan politik begitu bermacam-macam. Sulit membayangkan bagaimana kesenjangan ini dapat dijembatani. (Tidak mengherankan, hanya sedikit warga kota yang bersedia nama lengkapnya dicantumkan untuk artikel ini.)

"Setiap batu merupakan warisan, langit biru di atas tampak berbentuk persegi panjang juga." kata Ghazi H., seorang Kristen sekuler berusia 30-an yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di Kota Tua. Teman-teman sekolahnya dari semua agama menggunakan halaman Masjid Umayyah sebagai ruang belajar. Saat masih remaja, dia kerap menjelajahi daerah Muslim yang baru dibuka untuk dunia luar: Kafe tumbuh subur, anak lelaki dan perempuan berjalan bersama dengan riang—meskipun orang tua menaruh curiga. Namun, cara orang mendefinisikan warisan Kota Tua tergantung pada pandangan politik mereka. Ghazi berujar, "Semua orang menggunakan sejarah untuk membuat kesimpulan masing-masing."

TELUK ST. LWAWRENCE DARI SAMUDRA ATLANTIK




Teluk st. lawrence adalah tempat berkumpul bagi semua yang mengalir ke hilir. Di teluk ini bermuara banyak sungai yang hulu­nya berjarak ratusan kilo­meter—di kota-kota seperti Montreal serta hutan perawan di Negara Bagian New York. Muara endapan, air limpasan, maupun kapar tumbuhan, selalu berubah, bergolak, dan mem­buncah. Semuanya membentuk massa yang berkilau, berenang, dan terapung, yang keragamannya tidak kalah dengan tempat lain di Bumi.

Dari sudut pandang geologis, teluk ini masih berusia muda. Sembilan belas ribu tahun yang lalu, seluruh teluk tertutup es hampir setebal dua kilometer. Seiring naiknya tanah dan pencairan es, teluk itu terisi air dan kehidupan. Ikan air tawar bermigrasi dari St. Lawrence; ikan laut, bulu babi, bintang laut, plankton, dan paus datang dari Atlantik.

Pulau Cape Breton mengalingi tepi selatan Teluk St. Lawrence dari Samudra Atlantik. Di timur pulau itu, airnya dingin dan berombak. Sementara di barat airnya lebih hangat, dan lebih tenang. Penghuni awal Cape Breton adalah nenek moyang suku Mi‘kmaq (dibaca migmaw), salah satu penduduk asli Provinsi Maritim Kanada. Mereka datang ke sini setidaknya 9.000 tahun yang lalu, menyebar ke seantero Nova Scotia dan Newfoundland saat ini, dan mencari hasil alam yang mereka sukai dan butuhkan: anjing laut, telur burung, ikan salem, sturgeon, terubuk, dan bahkan paus.

Sejak 1500-an, nelayan Prancis, Basque, serta Portugis datang dan berdagang dengan masyarakat setempat. Kemudian, sebagian pendatang Eropa ada yang menetap di dekat permukiman kaum pribumi, karena mereka juga bergantung pada hasil teluk dan mengikuti perubahan musimnya. Saat musim ikan cod tiba, perahu pun bermunculan. Ketika sampai musim walrus, para pemburu pun berdatangan.

Bagi orang Eropa yang sudah hampir ke­habisan ikan di negeri asalnya—di sana banyak spesies yang sudah langka apalagi mamalia besarnya—kehidupan bahari di teluk ini tampak berlimpah. Namun, penemuan kekayaan alam ini memicu gelombang eksploitasi, penangkapan skala-industri pertama di Dunia Baru. Ribuan, lalu laksaan, dan tak lama kemudian jutaan ekor ikan ditangkap. Pada abad ke-17, berton-ton ikan cod, paus, dan hewan lainnya dikeduk dari teluk ini dan dikirim ke Eropa, melebihi nilai emas dan perak yang diangkut dari Teluk Meksiko. Di bawah tekanan seperti itu, populasi ikan pun mulai berkurang. Tentu saja, yang tampak tak terbatas itu senantiasa ada batasnya.

Besarnya dampak yang dialami spesies hewan teluk akibat penangkapan orang Eropa bergantung pada ukuran ikan yang ditangkap dan irama hidup spesies tersebut. Paus, walrus, dan sturgeon semuanya tumbuh dengan lambat, jarang kawin, dan berumur panjang. Hewan inilah yang pertama merasakan dampaknya. Baru-baru ini, beberapa populasi paus mulai pulih, namun sangat perlahan. Walrus tetap lenyap dari teluk, kecuali beberapa yang tersasar dari Samudra Arktika. Sturgeon tetap bertahan, sebagaimana dalam puluhan juta tahun terakhir, tetapi jumlahnya sangat sedikit.

Banyak ikan yang tumbuh lebih cepat, ber­kembang biak lebih sering, dan pulih lebih cepat daripada mamalia besar, sayangnya kelompok ini pun tidak luput dari ancaman. Ikan beranak-pinak, dari dua menjadi banyak, tetapi tidak cukup cepat untuk memberi makan kawanan manusia yang menggantungkan nasib pada ketersediaannya. Ikan cod sekarang sudah langka, dan di beberapa tempat berada di ambang kepunahan.

Meskipun populasi cod dan ikan predator lainnya menurun drastis, jumlah lobster justru meningkat. Beberapa spesies lain, termasuk banyak ikan pemakan-dasar, juga menjadi target tangkapan, tetapi pada lobsterlah se­karang kebanyakan orang menggantungkan nasib. Ke­limpahan lobster tentu ada batasnya, tetapi setidaknya untuk saat ini krustasea tersebut berkembang biak di sini.

Teluk ini telah mengalami perubahan dan akan terus berubah. Andaipun penangkapan ikan dihentikan, populasinya akan tetap naik turun seiring perubahan iklim, yang dapat mem­buat teluk itu menjadi lebih hangat dan kurang asin. Sejauh ini, dari generasi ke generasi, kita memilih untuk mengurangi manfaat dan keindahan teluk ini serta kehidupan di dalam­nya. Contohnya: Kita makan semua cod yang besar, sehingga yang tersisa terpaksa matang pada usia lebih dini dan ukuran yang lebih kecil, agar dapat berkembang biak sebelum ukurannya dianggap cukup besar untuk jadi santapan manusia.


Selama ribuan tahun, teluk ini menjadi tempat memanen hasil alam dari perairan yang melimpah. Tetapi, kini zaman telah berubah. Sekarang yang datang bukan hanya pria dan wanita bersampan, tetapi termasuk para eksekutif minyak. Mereka berencana mengebor sumur minyak besar pertama di teluk ini, di daerah yang bernama Old Harry.

Pemerhati lingkungan memandang minyak sebagai tragedi baru yang berbeda dari tragedi yang dialami teluk ini sebelumnya. Pandangan seperti itu sah-sah saja. Namun, kita juga dapat memandangnya sebagai salah satu babak dalam pemilihan kekayaan alam yang hendak kita eksploitasi. Kita menangkap ikan cod sebagai sumber makanan. Sementara minyak menyalakan lampu industri.

Untungnya kita masih bisa memilih—mau alga atau paus, mau bakteri pemakan minyak atau anjing laut. Kita harus memilih, karena sekarang teluk ini masih penuh dengan ke­hidupan, serta berjuta harapan dan impian. 

POPULASI IKAN KRAPU GOLIATH ATLANTIK



Di lepas pantai Florida barat daya, 30 meter di bawah permukaan laut, terdengar bunyi debum menggaung. Lalu disusul debum lainnya, laksana ledakan kembang api di kejauhan. Suara ini berasal dari sebuah bangkai kapal. Di dalam lambungnya yang pecah, ada belasan ikan yang amat besar—dan sangat gaduh.

Inilah ikan kerapu goliath atlantik. Hewan tersebut berkerumun di bangkai kapal dan karang untuk makan dan berkumpul. Ikan yang memiliki bobot 360 kilogram dengan panjang hampir tiga meter ini mencanangkan kehadirannya kepada makhluk yang mendekat dengan menciutkan gelembung renangnya, kantong udara yang membantunya mengapung. Bum. Bum. BUM!

Kerapu goliath dulu banyak jumlahnya dan tersebar. Ada puluhan ribu ekor yang hidup di perairan Amerika Serikat bagian selatan, perairan Karibia, dan Brasilia. Sayangnya, setelah bertahun-tahun ditombak dan dipancing besar-besaran, jumlahnya menyusut hingga tingkat yang amat rendah—angka pastinya belum diketahui, mungkin di bawah seribu. Populasi kerapu di Florida kini mulai pulih, dan nelayan, ahli biologi, serta pejabat lokal mulai angkat bicara soal apakah hewan ini telah cukup pulih sehingga tidak perlu lagi dilindungi.

Chris Koenig dari Florida State University sudah puluhan tahun menangkap ikan ke­rapu goliath, tetapi bukan untuk makanan atau hiburan. Dia memancing kerapu dan meng­angkatnya ke perahu kecil untuk mengukur, memotong tulang rawan sirip untuk tes DNA, dan mengetahui usianya. Ia mengambil sampel isi perut untuk mengetahui makanannya, serta memeriksa organ reproduksi untuk melihat tanda pemijahan. Setiap ikan diberi tanda di bawah kulit sebelum dikembalikan ke laut. Koenig berhasil mengumpulkan informasi tentang tempat dan waktu kemunculan hewan ini serta kondisi kesehatan masing-masing. Bersama istri merangkap rekannya, Felicia Coleman—yang membantu mengelola data yang membludak—dia berharap dapat mengetahui secara jelas status Epinephelus itajara tersebut.

Perilaku ikan kerapu juga turut berperan dalam penurunan populasinya. “Biasanya ikan ini tak berpindah sedikit pun; menempel terus ke karang,” yang menyediakan tempat tinggal dan makanan berlimpah, kata Koenig.

Inilah yang menjadikannya sasaran empuk. “Kami dulu biasa menombak kerapu sepanjang waktu,” kata Frank Hammett, 86 tahun. Ia menghabiskan sebagian besar masa mudanya saat berusia 20-an dengan menombak ikan. “Di Palm Beach kami bisa melihat ikan ini diam di dasar laut sedalam 30 meter. Terumbu karang penuh dengannya. Mungkin ada seratus ekor di satu tempat saja. Saya menombak satu dua ekor, menjualnya satu rupiah per kilogram. Saya mengerjakan hal ini selama 15 tahun atau lebih.”

Saat itu penangkapan komersial kerapu masih bersifat regional—di Florida Keys, kerapu goliath yang dimasak dengan kacang hitam dan beras merupakan makanan favorit—tetapi ketika tangkapan ikan lainnya menyusut pada awal 1980-an, ikan kerapu mulai dihidangkan di mana-mana. Ikan itu juga merupakan favorit olahraga memancing; orang sangat menyukai sensasi menaklukkan raksasa satu ini. Ribuan ekor menemui ajalnya untuk dipajang sebagai trofi. Spesies yang berumur panjang dan lambat dewasa ini terdesak ke ambang kepunahan.

Untungnya hal itu tidak terjadi. Pada 1990 kerapu goliath dinyatakan berstatus terancam punah dan mendapat perlindungan hukum di Amerika Serikat bagian tenggara. Sejak itu populasi ikan tersebut perlahan mulai pulih—dan menarik penyelam scuba, yang sangat suka berenang bersama ikan besar yang tidak buas tersebut. Pemulihan terbesar—mungkin sebanyak ribuan ikan—terjadi di lepas pantai Florida barat daya tempat hutan bakau, habitat anak kerapu, masih tumbuh dengan lebat.

Seperti yang biasa terjadi dalam dunia kon­ser­vasi, ada dua kubu dalam masalah kerapu goliath. Karena masih dinyatakan berstatus kritis di sebagian besar kawasannya, kerapu di Florida tidak boleh ditangkap. “Dukungan politik bagi perlindungan sedemikian menggebunya sehingga, jangankan menyentuh, melihat ikan itu saja tak boleh,” kata Komisioner Key West Tony Yaniz. “Lebih baik tertangkap membawa sekarung ganja daripada seekor ikan ini.”

Padahal menurut banyak nelayan, jumlah ikan ini sekarang amat banyak. Mereka me­ngeluh ikan besar itu mengganggu bisnis mereka. “Berulang kali ikan kerapu goliath men­curi kakap dan kerapu yang boleh kami tangkap,” kata nelayan komersial dan pemandu Jim Thomas. “Dia makan lobster juga. Sangat me­rugikan.” Pria ini termasuk salah satu yang menginginkan penangkapan kerapu diizinkan—walau hanya beberapa ekor setahun. Bisa diatur agar menguntungkan kedua belah pihak, tambah Yaniz. Bukankah kita bisa melibatkan nelayan untuk memecahkan masalah pelestarian dengan memberikan data mengenai jumlah dan ukuran ikan? “Merekalah yang tiap hari melaut, memelototi yang terjadi di sana. Mereka bisa membantu kita mencari tahu.”

Pihak pelestari menganggap pandangan kaum nelayan itu keliru. Koenig dan pihak non-nelayan lain yang “memelototi lautan” me­nyangkal keras pernyataan bahwa ikan kerapu merebut tangkapan nelayan. Penelitian berulang kali menunjukkan bahwa sebagian besar mangsa ikan kerapu yang lamban adalah hewan yang kecil dan lambat (separuh makanannya adalah kepiting, bukan lobster).

Koenig mengatakan bahwa pemberian izin menangkap kerapu di Florida yang jumlahnya meningkat bisa menghambat pemulihan secara keseluruhan. Ikan ini kebanyakan menetap di terumbu dangkal, pantai curam berbatu, dan kapal karam. “Kerapu betah di sarang,” jelasnya, “dia enggan pindah ke tempat lain.” Jadi, jika kita mengurangi populasi di daerah yang paling padat, ikan yang tersisa justru semakin tidak berminat untuk pindah ke tempat yang tidak ada kerapunya. Dan itu berarti pemulihan tidak akan meluas seperti yang diharapkan.

Koenig dan Coleman menemukan bahwa se­kali-sekalinya ikan kerapu menempuh perjalan­an jauh adalah saat pemijahan. “Tatkala musim kawin tiba, ikan ini melakukan perjalanan jarak jauh menuju tempat pemijahan, bahkan hampir 500 kilometer,” kata Koenig. Ikan dari berbagai penjuru, mungkin dari seluruh pesisir Atlantik, berkumpul di lepas pantai di dekat bangkai kapal dan karang, berenang dengan berisik sambil melepaskan sperma dan telur, membangun generasi berikutnya.

Sayangnya, sesukses apa pun perkawinannya, mustahil populasi kerapu kembali seperti sebe­lumnya. Koenig menyatakan, kan­dungan air raksa dalam air laut menyebabkan “dampak beracun tersembunyi. Ikan dewasa mengidap patologi nyata—lesi di hati—akibat tingginya kadar air raksa,” terangnya. Berarti, selain kemungkinan turut menurunkan jumlah ikan, ini membuatnya tidak aman disantap. “Apa mau dikata, semua tangkapan sepanjang lebih dari satu meter,” kata Don DeMaria, mantan nelayan komersial yang kini membantu upaya konservasi, “terpaksa kami buang.”

Masa depan kerapu juga bergantung pada hutan bakau, tempat ikan ini hidup di antara akar pohon sampai berusia sekitar lima tahun. Pembangunan pesisir, pertanian, dan pencemaran mengancam habitat perairan dangkal itu.

Pada akhirnya, baik nelayan maupun ahli bio­logi, dan bahkan pejabat pemerintah, meng­inginkan hal yang sama: populasi kerapu yang cukup besar dan kuat untuk men­datangkan pe­nyelam dan pemancing, tanpa meng­hancur­kan populasinya. Sementara perdebatan ber­lanjut, sang kerapu terus berdebum di negeri bawah air. Ikan besar ini juga ingin didengar suaranya.