SHARE DAN BERBAGI DALAM KOMUNITAS SOSIAL MEDIA INDONESIA

SHARE DAN BERBAGI DALAM KOMUNITAS SOSIAL MEDIA INDONESIA

SHARE DAN BERBAGI DALAM KOMUNITAS SOSIAL MEDIA INDONESIA

SHARE DAN BERBAGI DALAM KOMUNITAS SOSIAL MEDIA INDONESIA

SHARE DAN BERBAGI DALAM KOMUNITAS SOSIAL MEDIA INDONESIA

Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

KAKURU FARE MPESA - CARA TRADISIONAL BIMA MEMILAH GABAH


Angin adalah sekumpulan udara yang bergerak karena adanya tekanan udara hingga bergerak dari suhu rendah ke suhu tinggi. Tidak jarang, tiba-tiba kekuatan angin pun sangat kencang, membentuk angin topan yang mengobrak abrik hingga melululantahkan segalanya.

Meskipun demikian, Angin juga bermanfaat banyak bagi kehidupan manusia seperti , penggerak kincir angin hingga menghasilkan energi listirik, atau penggerak perahu layar hingga bisa mengarungi luasnya samudera dan masih banyak lagi manfaat lainnya.

Tiupan angin sepoi-sepoi yang menerpa pemukiman masyarakat bisa memberikan kesejukan tersendiri dari cuaca yang begitu panas berubah menjadi sejuk bahkan tidak kalah sejuknya dengan air conditioner (AC), namun bagi masyarakat di Desa Palama, Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima NTB, Angin menjadi berkah bagi mereka, terlebih pada saat musim panen padi.

Sebagian besar masyarakat Palama yang menggantungkan hidup dari bertani, memanfaatkan angin untuk memilah gabah secara tradisional guna mendapatkan gabah pilihan, karena tidak jarang pada saat panen, gabah yang berisi bercampur dengan gabah yang tidak berisi biji padi (Mpesa) Bahasa Bimanya.

Memanfaatkan angin untuk memilah gabah cukup sederhana yaitu, Sejumlah gabah yang dijemur sudah mengering, dikumpulkan dan ditaruh dalam penampik beras yang terbuat dari bambu kemudian diangkat sejajar dengan kepala, lalu sedikit demi sedikit di tuangkan pada terpal yang sudah disediakan dibawahnya, Pada saat penuangan inillah, gabah yang tidak berisi tadi akan tertiup angin, sehingga yang tersisa hanyalah gabah-gabah yang berisi biji padi.

Walau terlihat cukup mudah, pekerjaan Kakuru Fare membutuhkan Ketelitian, Ketekunan dan Kesabaran, Jika tidak, semuanya malah menjadi berantakan. Selain itu, salah satu faktor pendukung yang menjadikan pekerjaan ini lancar adalah tiupan angin, maka tidaklah heran, asal ada angin, mereka rela berlama-lama di tengah teriknya matahari hingga pekerjaannya selesai. Lantas bagaimana kalau tidak angin?
Salah seorang Ibu, Nurjana alias Ina Janu (40) mengatakan, Kalau tidak ada angin terpaksa menggunakan kipas angin yang berarti harus mengeluarkan biaya tambahan untuk bayar listrik, padahal gabah yang dihasilkan tidak seberapa, makanya kami selalu berharap pada saat panen padi, cuaca mendukung dan selalu ada angin, Imbuhnya.

Apakah Ina Janu tidak capek melakukan Kakuru Fare?
Capek ya sudah pasti capeklah, kata dia, Namun bagi kami sudah terbiasa dan inilah tantangan hidup yang harus dijalani, Asal jangan pernah mengeluh, Cintai saja pekerjaannya maka seberat apapun pekerjaan, semua akan menjadi ringan dan mudah, kata wanita yang terlihat lebih tua dari umur yang sebenarnya ini.

Apa harapan Ina Janu pada Pemerintah?

Sebenarnya kami tidak ingin terjebak dengan cengkaraman para tengkulak dan kami sadar dari segala sebab dan akibatnya tetapi bagaimana lagi? Tengkulak itu bagai dewa penolong tapi semuanya hanya sesaat dan selebihnya mereka menari-nari diatas penderitaan kami, Untuk itu kami mengharapkan pemerintah turun tangan, tidak sekedar wacana atau janji-janji, tetapi berbuatlah yang nyata dengan mengelola hasil panen kami entah bagaimanapun caranya, agar kami bisa menikmati hasil panen, cukup setimpal dengan jerih payah yang kami kerahkan, Pungkasnya. (AB)

Abunawar Bima

abunawarbima@gmail.com

BAGAI KACANG LUPA KULITNYA


Peribahasa ‘Bagai Kacang Lupa kulitnya’ memang hanyalah sebuah peribahasa, namun dalam kehidupan sehari-hari, banyak fakta dan nyata terjadi. Ibarat Kacang yang lupa akan kulitnya adalah sebuah ungkapan ditujukan pada seseorang yang ber-prilaku sombong sehingga melupakan asal usul atau latar belakangnya setelah menunai kesuksesan.

Sehebat apapun kesuksesan yang diraih, semuanya berpangkal dari adanya orang lain, tak mungkin ada kata ‘Hebat’, jika disekelilingmu tidak ada orang lain, karena yang menyoraki hingga dapat menyandang titel ‘Hebat’ toh orang lain. Jika menganggap diri sendiri adalah yang terhebat tanpa seorangpun disekitarmu, lantas dimana letak kehebatan itu?

Dalam perjalanan hidup, seringkali dalam kondisi bahaya dan kritis, ditolong oleh seseorang yang belum pernah dikenal. Umpamanya, saat kecelakaan dan terkapar tidak sadarkan diri di jalan raya, entah siapa yang telah berbaik hati, dengan tulus ihlas menolong, memopong mebawa ke rumah sakit untuk dirawat hingga sehat kembali. Peristiwa itu bisa dijadikan pelajaran hidup, bahwa sejatinya berbuat baik itu tidak sia-sia walaupun orang yang di tolong, sama sekali tidak tahu siapa yang menolong.

Intinya adalah, sekecil apapun pertolongan orang lain, apalagi bila ada orang yang telah berbaik hati membantu menemukan jalan menuju kepada kesuksesan, jangan menjadi seperti kacang lupa pada kulitnya. Mungkin kita tidak dapat membalas kebaikan orang yang sama, tapi kita dapat mengaplikasikan rasa terima kasih, dengan menerapkan hidup saling mensuport agar orang lain pun menunai kesuksesan, Jangan merasa sukses sendirian.

Tidak ingin berlama-lama, Saya mengundang Ine Sinthya, menyanyikan sebuah lagu kesayanganku ‘Kacang Lupa Kulitnya’

Lupa kini engkau telah lupa, dikala susah berdua...
Bagaikan kacang lupa kulitnya, setelah engkau hidup didalam kemewahan
Dulu pernah berjanji setia, selagi engkau hidup didalam kekurangan
Walaupun matamu terbuka tetapi hatimu buta
Betapa kau tega melupakan aku
meninggalkan aku dengan kekasihmu yang baru
Bagai kacang lupa kulitnya, kesetiaanku kini t'lah kau sia siakan
Masih terbayang dimataku, saat kepergianmu dulu
kau pinta padaku setia selalu, menanti sampai kau kembali
Dari ibukota yang indah, kembali kedesa tercinta
tapi kau tak lagi menganggap diriku, sebagai kekasih hatimu
Betapa teganya kau padaku, setelah berhasil segalanya.


Terima Kasih, Ine Sinthya
Abunawar Bima

abunawarbima@gmail.com

MEMAKNAI RASA BERSYUKUR


Nasib kita dalam kehidupan kita di dunia berbeda-beda. Ada yang kaya ada yang miskin. Ada yang berkdudukan, ada yang tidak berkedudukan, ada yang menjadi atasan dan ada yang menjadi bawahan, dan ada pula yang menjadi pemerintah dan ada pula yang menjadi yang diperintah.

Ada yang berusaha dengan sungguh-sungguh, tetapi hasilnya kurang, ada yang berusaha dengan sungguh-sungguh hasilnya banyak. Ada pula yang berusaha sungguh-sungguh, tetapi hasilnya biasa saja. Demikianlah hidup manusia ini. Nasib kita tidak ada yang tahu dan tidak ada yang bisa mengatur kecuali Allah swt.

Sementara manusia selalu menginginkan agar nasibnya baik, agar dia selalu sehat, agar dia selalu sukses, dan dia selalu beruntung. Dalam perjalanan hidup manusia, kadang kala yang diharapkan tidak terwujud dalam kenyataan, apa yang menjadi cita-cita, tidak terwujud sesuai dengan harapan.

Ajaran Islam memberikan resep hidup yang sangat ampuh untuk menghadapi nasib yang tidak teratur itu, nasib yang berbeda-beda itu, nasib yang tidak sesuai dengan harapan itu. Resep itu adalah syukur.

Orang yang senantiasa bersyukur atas nikmat Allah, tidak akan pernah sombong dengan kenikmatan Allah yang berlimpah padanya. Ketika dia kaya, dia bersyukur atas kekayaannya, ketika menduduki jabatan yang tinggi, dia bersyukur atas jabatannya itu. Ketika dia berada di atas, dia bersyukur atas keadaan itu.

Semuanya diterimanya dengan penuh syukur. Sebab, kalau tidak bersyukur kepada Allah dengan kelebihannya, maka dia akan mudah memnjadi manusia yang sombong, angkuh, dan ujub. Terimalah semua kelebihan dengan rasa syukur. Syukurmu akan menjaga dan membentengi kamu dari keangkuhan, kssombongan, dan ketakaburan.

Demikian pula halnya ketika engkau berada di bawah, ketika engkau tidak memiliki kelebihan, tidak memiliki kekayaan, tidak memiliki kedudukan, dan tidak memiliki kelebihan apa pun. Terimalah semua kekuarangan yang kamu miliki itu, terimalah nasibmu yang ada pada saat itu dengan segal kesyukuran sambil berusaha memperbaiki diri dan memperbaiki tencana dan usaha untuk meraih kekebihan di masa akan datang.

Kalau engkau tidak meiliki rasa syukur ketika engkau tidak memiliki kelebihan itu, maka engkau akan merasa kesal, kecewa, dan putus asa, menyesali apa yang kamu terima, dan bahkan mungkin engkau akan bunuh diri. Banyak orang yang tidak bersyukur menerima nasibnya dengan melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya.

Syukur dalam keadaan demikian akan menjadi benteng, penjaga, dan tameng bagi dirimu untuk menghindarkan diri dari putus asa itu. Jangan kesal dan putus asa terhadap nikmat Allah, sebab kesal itu akan mengantarkan kamu kepada kehancuran.

Kuncinya adalah bersyukurlah saat senang, saat lapang, dan saat kaya dan syukur pula pada saat kamu mengalami kekuarangan, kesulitan. Sebab syukur itu menjadi benteng bagi dirimu untuk semua kondisi kehidupan.

Semoga kita semua menjadi manusia yang pandai bersyukur dalam keadaan apa pun kita berada. Aamiin. Wallaahu a'lam bi al-shawab. Tasuhiyah ditulis dlam perjalanan dari kediamaan di Matraman menuju Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam az-Ziyadah (STAIZA) Jakarta, Sabtu pagi, tanggal 11-3-2017.

Penulis : Ahmad Thib Raya
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

SELO YANG KEREN, MENGANGKAT KEARIFAN LOKAL NTB MENJADI TREND


Kain tenun tidak serta merta hanya untuk bahan pakaian, namun ditangan-tangan kreatif, ceritanya akan menjadi lain contohnya, 4 (empat) Mahasiswa Universitas Mataram (Unram) NTB, Rosmalia, Annisa, Sulton dan Firdaus berkarya dengan inovasi baru dengan membuat sepatu dari bahan tenunan asli Lombok.

Berawal dari kumpul-kumpul diantara mereka dalam membahas perlombaan "Essay" tercetus ide dalam tulisan ilmiahnya mengangkat sepatu yang desainnya di kombinasikan dengan tenun, sesuai tema lomba "Internasionalisasi Kearifan Lokal Indonesia" yang diadakan oleh Universitas Negeri Semarang dan siapa sangka mereka menyabet juara II tingkat Nasional dalam ajang lomba tersebut.

Wakil Rektor III Unram bidang kemahasiswaan M. Natsir mengatakan, apa yang diraih mahasiswa ini adalah bukti kreativitas mahasiswa dalam Inovasi mengembangkan kearifan lokal daerah dalam bentuk desain sepatu. “Kami tetap minta mahasiswa untuk terus mengembangkan kemampuan,” katanya.

Sepatu dengan model yang simpel tetapi terlihat cukup elegan karya Mahasiswa ini diberi label SELO (Sepatu Etnic Original) dengan tujuan mengangkat kearifan lokal daerah sehingga menjadi trend di kalangan Kampus Unram, Remaja dan Masyarakat pada umumnya bahkan Dunia, jelasnya.

Rencananya, lanjut M. Natsir, sepatu ini selain dipasarkan dikalangan kampus, juga akan dipasarkan ke toko-toko sepatu di seluruh daerah Nusa Tenggara Barat (NTB). Untuk hak patennya sendiri, masih dalam proses, “Sehingga nantinya tidak bisa diklaim orang atau daerah lain,” tukas Guru Besar Fakultas MIPA ini.

Rosmalia mengatakan, Untuk tahap awal, Karena di Kota Mataram tidak ada industri sepatu, produksinya masih dilakukan di Surabaya. Produksi pertama bulan Februari dan sudah mulai dipasarkan dan direspon cukup baik oleh pasar. Buktinya sudah ada sekitar 100 pasang sepatu yang laku. ”Alhamdulillah hasil kerja kami diterima masyarakat termasuk yang dari luar daerah hingga luar negeri,” terangnya.

Annisa menambahkan, untuk saat ini motif kain tenun yang dipakai masih menggunakan tenun berkwalitas hasil kerajinan masyarakat Lombok Timur, Sukarare Lombok Tengah dan juga Tenunan Bima Motif Renda . Motif Renda sedang tahapan produksi, Ia pun meyakinkan bahwa bahan kain tenun yang dipakai kualitasnya terjamin dengan harga yang relatif terjangkau, ungkapnya.

Berapa sih harga sepatunya?
Kami jual dengan harga cukup murah, kecuali untuk sepatu yang mengggunakan kain tenun khusus, harganya juga khusus. ”Harga mulai dari Rp160 ribu sampai Rp260 ribu,” Kalau soal model, jangan khawatir, semua pastinya keren dan trendy, Pokoknya model masa kinilah, pungkasnya.

Abunawar Bima​

ALAN...! TANPANG REMAN, HATI MALAIKAT


Berbadan besar, rambut gondrong, dan tampang sangar terkadang bisa menipu orang. Tampang boleh sangar, tapi M Saleh Yusuf memiliki hati lembut.

Sekilas tidak ada yang mewah dari laki-laki kelahiran Desa Mawu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini. Sehari-harinya, pria yang akrab disapa Alan itu bekerja sebagai sopir bus malam AKAP dengan rute Bima-Mataram.

Siapa sangka, di balik penampilannya yang garang, Alan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Berawal dari keprihatinan menyaksikan anak-anak di desanya yang tidak bersekolah dan kurangnya pengetahuan akan agama, sebuah ide membuat sekolah terlintas di benaknya. Dengan tekad kuat dan dukungan keluarga, Alan berhasil membangun sekolah tingkat taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD) di desanya.

Guna mewujudkan tekadnya, pria berusia 42 tahun itu menyisihkan penghasilannya dari profesi yang digelutinya selama 20 tahun terakhir.

Berdasarkan pengalamannya melewati beberapa wilayah di Indonesia, ia sadar desanya tertinggal jauh. “Pada waktu itu saya melihat perbandingan kualitas hidup beserta pendidikan selama saya menyetir bus dari Bima ke Jakarta. Saya melihat anak-anak di sekolah dan kampung saya perlu mengubah pola pikirnya. Saya melihat perbandingan itu dan saya sadar kualitas hidup di kampung saya sangat jauh tertinggal,“ ungkapnya.

Pada 2008, ia mendirikan sekolah gratis bernama Madrasah Ibtidaiyah Swasta Darul Ulum di desa kelahirannya di Dusun Tololai. Meski hanya terbuat dari kayu dan bilik, madrasah itu sangat dirasakan manfaatnya bagi warga sekitar, terutama anak-anak. Kini, Madrasah Darul Ulum telah memiliki 100 siswa dan 15 staf pengajar.

Di sini mereka dapat sekolah tanpa mengeluarkan biaya alias gratis. Seluruh biaya dan fasilitas sekolah bahkan gaji guru ditanggung Alan.

Seiring dengan berjalannya waktu, Alan memiliki mimpi agar madrasah yang dibangunnya itu dapat terus berkembang dan dapat membantu lebih banyak warga di tanah kelahirannya. Harapannya hanya satu, yaitu melalui pendidikan itu saya berharap agar anak-anak Desa Tololai tumbuh menjadi anak-anak cerdas dan bisa meraih segala mimpinya.

Inspirasi Alan membuka Mata Dunia.

Kick Andy MtroTV, dalam rangka merayakan ulang tahunnya yang ke-9 dengan tema "Kick Andy Heroes" Mengundang 7 orang nominasi Kick Andy Heroes yang diseleksi secara ketat berasal dari berbagai daerah , salah satunya M.Saleh alias Alan dari Bima NTB, tidak menyangka terpilih dan berhak mendapatkan Piala Penghargaan yang diserahkan langsung oleh Menteri Perhubungan RI, Ignasius Jonan.

Acara Penganugerahan 'Kick Andy Heroes 2015' ini dihadirin pula oleh Menteri Sosial - Khofifah Indar Parawansa, Menteri Kesehatan - Nila Djuwita Moeloek, Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah - Anies Baswedan, Menteri Kelautan Dan Perikanan - Susi Pujiastuti, Menteri Perindustrian - Saleh Husin, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan - Siti Nurbaya, Gubernur DKI Jakarta - Basuki Cahyo Purnama (Ahok), Walikota Surabaya - Tri Rismaharini dan beberapa Anggota DPR RI serta Pengusaha lainnya.

"Penghargaan ini saya persembahkan untuk  murid-muridku, Guru-guru yang tengah mengabdi di MIS Darul Ulum Tololai Bima, rekan seperjuangan yang peduli dengan generasi Bangsa" Tegas Alan sambil mengangkat tingi-tinggi Piala Penghargaan Kick Andy Heroes 2015.

BUDIDAYA TANAMAN HORTIKULTURA

INSPIRASIMU SEMOGA MENJADI MOTIVASI BAGI SEMUA ORANG


Halim seorang petani muda yang saban hari waktunya dihabiskan di kebon yang ia garap dengan mode tanaman hortikultura walau pengetahuan tentang hortikultura itu sendiri masih relatif minim namun tidak mengurangi semangatnya untuk coba dan mencoba hingga membuahkan hasil seperti yang ia harapkan.

"Jangan takut gagal, katanya, karena dengan eksprimen yang gagal akan memberikan pembelajaran yang baik pada eksprimen berikutnya hingga tercipta inovasi baru yang ahirnya akan memetik hasil yang sempurna, Halim meyakinkan"

Hamparan tanaman tomat yang memenuhi kebon yang ia garap membuktikan ucapannya bahwa sesungguhnya alam ini memberi inspirasi dan menantang kita untuk memanfaatkannya dan jika mampu mengolahnya dengan baik akan menjadi sumber rejeki yang mensejahterakan kita semua, ujar Halim.

Mengelola tanaman hortikultura memang membutuhkan pengetahuan yang cukup, untungnya di era kemajuan tekhnologi saat ini, pengetahuan tentang hal tersebut sangat mudah kita dapatkan, browsing saja di-internet kemudian dipraktekin, asal kita telaten pasti bisa, tegasnya.

Tekhnologi bukan semata milik orang kota tapi sudah merambah di-pedesaan, bedanya kalau didesa masih banyak lahan yang bisa kita olah, katanya sembari menyodorkan catatan, ini lagi saya pelajari .

Catatan itu sebagai berikut :

Tanaman yang memerlukan tahap penyemaian biasanya yang mempunyai siklus panen menengah hingga panjang dan memiliki benih yang kecil-kecil. Untuk tanaman dengan siklus panen cepat seperti bayam dan kangkung, tahap penyemaian menjadi kurang ekonomis. 

Sedangkan untuk tanaman yang memiliki biji besar, sebaiknya ditanam dengan ditugal. Tanaman yang berbiji besar relatif tahan terhadap kondisi  lingkungan karena didalamnya telah terkandung zat yang berguna menopang awal pertumbuhan. Beberapa jenis hortikultura yang biasa disemaikan antara lain tomat, cabe, sawi, selada dan sebagainya.

Proses penyemaian memerlukan tempat dan perlakuan khusus yang berbeda dengan kondisi lapangan. Untuk itu diperlukan tempat persemaian yang terpisah dengan areal tanam. Tempat persemaian bisa dibuat permanen ataupun sementara. Media persemaian bisa berupa tray, tercetak, polybag atau bedengan biasa. Berikut ini tahapan-tahapan mempersiapkan media persemaian.

Menyiapkan media tanam

Hal pertama yang harus disiapkan adalah media tanam. Sebagai tempat benih/biji berkecambah media tanam ini harus terjamin dari segi ketersedian nutrisi, kelembaban dan struktur baik. Media persemaian yang alami terdiri dari campuran tanah dan bahan-bahan organik yang memiliki kandungan hara tinggi. Selain itu ketersediaan air dalam media persemaian harus mencukupi atau tingkat kelembaban yang relatif lebih tinggi dari areal tanam biasa.

Tanah yang baik untuk media persemaian diambil dari bagian atas (top soil). Sebaiknya ambil tanah dengan kedalaman tidak lebih dari 5 cm. Tanah yang baik merupakan tanah hutan, atau tanah yang terdapat di bawah tanaman bambu. Tanah tersebut memiliki karakteristik yang baik, terdiri dari campuran lempung dan pasir. Lempung benrmanfaat sebagai perekat media tanam sedangkan pasir bermanfaat untuk memberikan porositas yang baik.

Untuk memperkaya kandungan hara bisa ditambahkan dengan pupuk organik. Bisa berupa pupuk kandang yang telah matang atau pupuk kompos. Hal yang penting adalah haluskan pupuk tersebut dengan cara diayak. Struktur yang kasar tidak baik untuk pertumbuhan benih/biji yang baru berkecambah karena perakarannya masih terlalu lembut.

Campurkan bagian tanah dan pupuk organik dengan rasio 1:1. Atau bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Cirinya, setelah dicampurkan ditambah air teksturnya bisa solid (bisa dikepal tidak ambrol) namun tidak becek.

Membuat media persemaian
  • Campurkan tanah bagian atas (top soil) dengan pupuk organik (pupuk kompos atau pupuk kandang yang telah matang) komposisinya 1:1.
  • Untuk persemaian tray, masukkan campuran media tanam tersebut kedalamtray, padatkan secukupnya agar media bisa mencengkrap tanaman. Traysudah siap untuk media tanam.
  • Untuk persemaian polybag, campurkan media tanam yang telah dibuat dengan arang sekam dengan komposisi 1:1. Ambil polybag dengan ukuran yang disesuaikan dengan ukuran bibit tanaman. Media persemaian polybagsiap untuk ditanami.
  • Untuk persemaian cetak, siram campuran media tanam yang telah dibuat tersebut dengan air secukupnya. Air berfungsi untuk menyolidkan campuran agar mudah dibentuk dan tidak ambrol. Kemudian gunakan cetakan untuk membentuk adonan menjadi bentuk kotak-kotak kecil. Lubangi bagian atas kotak-kotak tersebut sedalam 1-2 cm untuk memasukkan benih. Media persemaian siap ditanami. 
Membuat media persemaian berbentuk bedengan
  • Campurkan tanah bagian atas (top soil) dengan pupuk organik dengan komposisi 1:1.
  • Kemudian bentuk bedengan dan letakan campuran tadi diatas permukaan bedengan. Ketebalan campuran hendaknya 5-7 cm, ketebalan ini optimal untuk tanaman yang baru tumbuh.
  • Siram bedengan dengan air secukupnya dan tebarkan benih di atas bedengan tersebut.
  • Buat tiang penyangga atau bambu yang dilengkungkan, kemudian tutup bedengan dengan paranet.
  • Penutup bedengan bisa dibuat permanen dengan paranet, atau dibuat dengan sistem tutup buka dengan plastik bening. Sistem tutup buka berguna pada musim hujan agar tanaman tidak terkena kucuran air hujan secara langsung. Benih yang cocok disemaikan di persemaian tipe bedengan adalah sayuran daun bersiklus pendek seperti sawi, caisim, pakchoi, dll.
Tiba-tiba Halim kedatangan tamu yang rupanya tamu tersebut sudah tidak asing lagi baginya maupun waga Bima khususnya yaitu Alan (sang sopir bus malam yang menginspirasi semua orang sejak dinobatkan menjadi pejuang pendidikan Indonesia tahun 2014 atau Dompet Duafa Award yang sudah ditayangkan oleh beberapa Media Nasional, seperti TVRI, Net TV dan Kick Andy MetroTV). 

Alan datang bersama petani cabe asal Belo yang memang sudah lama malang melintang di dunia tanaman  hortikultura, tentu saja kedatangan mereka menjadi suatu kehormatan bagi Halim untuk bertukar pikiran.

Kedatangan Alan adalah sesuai komitmennya;  ingin memajukan dunia pendidikan di-kampungnya dan memberdayakan seluruh masyarakat kampung untuk mengolah  lahan yang masih banyak nganggur  dengan tanaman hortikultura seperti  tomat, cabe dan sayur-sayuran dan lainnya.

Alan mengajak petani muda berbakat itu, untuk memberikan pelatihan dan pembinaan masyarakat serta anak-anak di kampungnya tentang bagaimana mengelola dan memaksimalkan sumber daya alam, untuk apa jauh-jauh merantau sedangkan alam disekitar kita sangat menjanjikan, pungkas Alan. 

abunawarbima@gmail.com

BUDAK DI NEGERI ORANG, BOS DI NEGERI SENDIRI



Bekerja di luar negeri menjadi upayanya mendapatkan modal untuk berusaha di Indonesia.Hingga ia bisa mewujudkan citacitanya menjadi pengusaha.

“SAYA ingin jadi pengusaha, akan enak sepertinya kalau hidup seperti orang kaya,“ ucap Richa Susanti, 35. Kalimat itu meluncur dengan mulus dari mulut Richa saat ditanya `apa cita-citamu?'. Sayangnya, jalan yang dilalui Richa mewujudkan mimpinya tidak semulus ucapannya. ucapannya.

Besar di keluarga dengan ayahnya berprofesi sebagai sopir truk dan ibu buruh tani, Richa harus menelan pil pahit tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah setelah lulus SMEA karena kondisi ekonomi.Selain itu, adik-adiknya juga membutuhkan dana untuk pendidikan.

“Padahal waktu itu saya ingin sekali mengambil manajemen bisnis,“ ucap Richa, yang tahu jurusan yang hendak ditujunya merupakan jalur utama menggapai cita-citanya menjadi pengusaha.

Karena tidak berjalan sesuai harapan, Richa pun memutuskan untuk bekerja ke negeri orang. Ia kan untuk bekerja ke negeri orang. Ia menilai dirinya belum memiliki keahlian untuk dikembangkan menjadi modal usaha.

Di usia 19 tahun, Richa bertolak ke Hong Kong dan bekerja sebagai tukang cuci di sebuah restoran. Pa dahal, kontraknya menyatakan ia seharusnya bekerja sebagai baby sitter.

“Saya pun sebenarnya enggak tahu, baru ketahuan kalau saya enggak bekerja sesuai kontrak ketika saat itu ditahan polisi,“ ucap Richa.

Tiga tahun bekerja di Hong Kong, Richa ditangkap polisi karena pelanggaran kontrak. Ia pun dipaksa pulang ke Indonesia dan mengakhiri petualangannya sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI). Meski begitu, Richa tidak pulang dengan tangan kosong. Ia membawa pulang uang tunai Rp150 juta yang digunakannya sebagai modal jualan buah, membeli sawah, dan motor. Namun, asa kembali menghampirinya, usaha berjualan buah yang dijalankan orangtuanya terpaksa gulung tikar. Utang keluarga bertumpuk dan terakhir ia harus menjual sawahnya.

“Pada saat itu saya tahu, akhirnya saya harus kembali menjadi TKI untuk membantu orangtua saya,“ ucap Richa, meskipun saat itu dirinya sudah menikah dan memiliki seorang putri berusia 2 tahun.Pelatihan wirausaha Richa pun kembali ke Hong Kong dengan penga laman berbeda. Bila dulu ia sulit mendapatkan laman berbeda. Bila dulu ia sulit mendapatkan jatah libur dan cuti, kali ini semua haknya ia dapatkan. Tercatat, selama 8 tahun bekerja, Richa sudah 4 kali pulang ke Indo nesia dengan alasan yang berbedabeda.

Ironisnya, 2 dari 4 alasan kembalinya Richa ke Tanah Air karena ditinggal orang terkasihnya, suami dan ayahnya. Kehilangan dua lelaki yang dicintainya itu menjadi titik terendah mentalnya.

Kembali ke Hong Kong setelah cuti dan berduka, Richa akhirnya mendapat sesuatu untuk diaplikasikan saat dia kembali ke Indonesia.Yakni modal menjadi seorang wirausahawan yang didapatkannya dalam sebuah seminar.

Saat akhirnya kembali ke Indonesia, Richa memiliki ide membuka rumah makan. Meski hanya menyasar kalangan pelajar kampus di Malang, tapi manajemennya berbeda. Di warung bernama Wabah (Warung Barokah), se tiap orang bisa memiliki kartu anggota guna menda patkan penawaran, baik diskon atau promo khusus.Sehingga, dijamin menghilangkan rasa monoton dari para pengunjung.

Selain rumah makan, bisnis Richa juga saat ini men cakup usaha bakso yang dinamakan bakso tersenyum, serta bubble drink bernama Rich Tea.
“Rich itu kan nama saya, pemberian ayah saya, yang artinya kaya,“ pungkas Richa sambil tersenyum.
(M-4) miweekend@mediaindonesia.com

MENCARI DANA UNTUK MENIKAH


Nur Cholis Bekerja sebagai TKI ia pilih untuk mengumpulkan modal untuk menikah. Pasalnya, lulusan pendidikan agama di sebuah universitas di Yogyakarta itu sulit mendapatkan pekerjaan. Padahal, ia didesak untuk segera menikahi sang kekasih yang kini menjadi istrinya, Siti Nur Qomariyah. Ia pun memutuskan untuk ke Arab Saudi untuk mencoba peruntungan mendapatkan modal menikah.

Malang bagi Nur, pekerjaan yang dijanjikan sebagai operator komputer hanya bualan belaka. Setibanya di Arab Saudi, ia harus bekerja sebagai cleaning service di sebuah hotel. “Pada waktu itu saya shocked, karena saat itu saya berangkat kerja menggunakan dasi,“ ucap Nur.

Hal itu tidak lantas membuat Nur patah semangat. Ia menjadikan tujuan utamanya sebagai pemecut semangatnya. Kerja keras Nur berbuah manis. Ia mendapatkan promosi berkali-kali hingga posisi terakhir yang ia tempati ialah manager marketing hotel.

Merasa sudah memiliki cukup modal, Nur kembali ke Indonesia dan menikahi Siti.Uniknya, setelah 1 tahun menikah, justru sang istri menjadi TKI ke Taiwan demi mengumpulkan modal usaha.

Sebenarnya Nur pun mengajukan diri untuk berangkat ke Taiwan. Apa daya, hanya sang istri yang diterima untuk bekerja di luar negeri. Di tengah rasa gatal harus tinggal di Indonesia, ia pun memutuskan untuk membuat usaha. Tidak disangka, usahanya berkembang pesat. Kini Nur dan Itong, panggilan akrab sang istri, berhasil memiliki sebuah toko tekstil yang tersebar di Jawa Tengah hingga Jawa Timur.

Tidak semata usaha, mereka pun membuat sekoalh taman kanak-kanak (TK) dan pesantren. Nur berharap para pelajar yang lulus pesantren nantinya bisa langsung bekerja. “Ke depannya saya ingin mengajarkan bagaimana membuat usaha bagi para lulusan pesantren saya,“ pungkas Nur. (Ric/M-4)

Thenk's share by :  miweekend@mediaindonesia.com

BERBAGI KASIH DARI JEPANG

MENDAPATKAN fasilitas dan pendidikan yang baik menjadi impian semua orang.Tidak terkecuali Megarini Puspasari yang beruntung mendapatkan beasiswa ke Jepang.Namun, ia memilih meninggalkan beasiswanya untuk membantu anak-anak kurang mampu yang terancam putus sekolah.

Bermula saat Mega pulang ke Tanah Air dan mendapatkan inisiatif dari obrolan bersama sang ibu mengenai anak di dekat tempat tinggalnya yang sulit untuk membayar SPP. Tergerak hatinya, Mega menawarkan membantu anak tersebut menggunakan dana pribadi yang didapatkannya dari menyisihkan uang sakunya selama di `Negeri Sakura'.
Tidak disangka perempuan berhijab itu ada banyak anak yang membutuhkan pertolongan serupa. Karena itu, Mega mengajak semua mahasiswa Indonesia yang berada satu kampus dengannya untuk melakukan hal yang sama.Respons positif pun didapatkan. Banyak rekan yang ikut ambil bagian dalam pola orangtua asuh tersebut.

“Bahkan teman-teman saya dari luar negeri pun ada yang ambil bagian,“ ucap Mega.

Mega pun memberi nama komunitasnya Hoshizora, dalam bahasa Jepang berarti `langit yang berbintang'. Sebuah kata yang mengandung filo sofi anak-anak Indonesia harus berani bermimpi dan mewujudkan impian mereka.

Gerakan Mega dalam Komunitas Hoshizora terus berlanjut hingga Mega memiliki pekerjaan di Jepang. Ia akhirnya melepaskan pekerjaannya demi mendirikan kantor pusat Hoshizora di Indonesia.

“Tapi alasan yang utama ialah karena pada saat itu saya sudah menikah dan suami saya berada di Indonesia,“ terang Mega.

Hoshizora merangkul para pelajar di tingkat SD, SMP, dan SMA. Guna memajukan generasi muda yang ingin melanjutkan ke bangku kuliah, sebuah bimbingan dan pengarahan bagi anak didik untuk mendapatkan beasiswa diberikan Mega dan 10 staf yang berada di Hoshizora.

“Selama ini kan beasiswa banyak, tapi pengetahuan mereka akan informasi tersebut sangat sedikit,“ pungkas Mega. (Ric/M-4)

Sumber : MI/15/02/2015/Halaman 16
533 orang dijangkau

DOKTER TELADAN YANG BETAH DI-PEDALAMAN


Bertugas di tempat terpencil tanpa fasilitas elektronik dan internet jauh dari bayangan Catrice Sheyang. Maklum, dokter muda itu sejak kecil tinggal di kota besar.

"Shock, pasti. Begitu lulus kuliah kedokteran, saya memang mendaftar dokter PTT di Bulungan. Sebab, ada saudara jauh di Tarakan. Tapi, saya pikir masih di perkotaan meski kota kecil," kata Catrice.

Karena itu, dia langsung shock saat kali pertama menginjakkan kaki di Desa Long Bang, Kecamatan Peso, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara), pada 2010. Desa Long Bang berada di hulu Sungai Kayan. Untuk sampai di desa tersebut, perlu tiga jam perjalanan dari Tanjung Selor, ibu kota Kabupaten Bulungan, atau sekitar 4 jam dari Bandara Juwata, Tarakan.

Tiga atau empat jam perjalanan bisa jadi bukan persoalan di kota besar yang berjalan mulus. Masalahnya, perjalanan di Desa Long Bang dapat ditempuh lewat jalur sungai dengan perahu cepat dan perahu kecil milik warga.

"Waktu awal bertugas, rasanya memang berat. Sejak lahir hingga lulus kuliah, saya tinggal di Surabaya. Kini tiba-tiba saya harus hidup di desa terpencil. Handphone tidak bisa digunakan, laptop tidak berfungsi. Listrik di sana hanya hidup tiga jam sehari, mulai pukul 18.00 hingga pukul 21.00 Wita. Setelah itu, saya harus menggunakan lampu teplok atau lilin untuk penerangan," ujar gadis kelahiran Surabaya, 22 September 1984, tersebut.

Toh, Catrice berusaha menikmati hari-harinya dengan penuh kesabaran. Hingga akhirnya dia mulai dekat dengan warga di Long Bang dan beberapa desa di sekitarnya yang mayoritas dihuni Suku Dayak.

"Saya akhirnya betah juga. Bahkan, rasanya berat meninggalkan desa itu. Warga di sana sudah menganggap saya seperti keluarga," tutur alumnus Universitas Hang Tuah, Surabaya tersebut.

Satu hal yang membuat Catrice betah, dirinya menganggap bertugas di pedalaman merupakan hal yang wajar bagi seorang dokter. "Selain itu, saya hobi traveling. Jadi, saya anggap ini jalan-jalan lama yang dibayar," jelasnya.

Tentu, banyak suka duka yang Catrice alami selama bertugas di pedalaman Kalimantan. Salah satu yang tidak terlupakan, saat tengah malam, rumahnya diketuk warga yang meminta tolong karena ada pasien yang pingsan.

"Begitu dapat kabar, saya langsung menyiapkan peralatan. Tak tahunya, pasien itu berada di desa lain. Saya harus menggunakan perahu kecil untuk sampai ke sana. Jadi, saya balik ke rumah ambil perlengkapan tambahan," ungkap Catrice.

Selama bertugas di Long Bang, tidak jarang Catrice dibayar sayuran atau ayam. "Mirip di sinetron ya. Tapi, saya benar-benar mengalami. Ternyata memang ada yang begitu," terangnya.

Menurut dia, 80 persen warga Desa Long Bang dan sekitarnya merupakan warga kurang mampu dan peserta Jamkesmas. "Jangan kaget, untuk bayar biaya berobat yang hanya Rp 3 ribu, mereka kadang tidak bisa, apalagi kalau belum panen. Karena itu, saat panen, kadang saya dikasih beras atau ayam. Sebab, waktu berobat, mereka tidak bisa bayar," paparnya.

Medan yang berat juga harus diatasi Catrice dalam bertugas. Puskesmas tempatnya bertugas membawahi enam desa di Kecamatan Peso. Hampir semua desa itu hanya bisa dilalui dengan perahu kecil atau ketinting. Tidak jarang, sungai yang dilaluinya berarus deras, bahkan ada jeram.

"Pernah saya mendapat laporan bahwa ada pasien persalinan di salah satu desa. Untuk ke sana, kami harus menyusuri sungai dengan ketinting selama tiga jam. Di kanan-kiri sungai itu terdapat hutan lebat. Perjalanan juga tidak muslus. Kadang saya harus turun dan berjalan di air karena perahu kandas. Saya harus membantu mendorong perahu," tuturnya.

Ditanya keinginan berpindah tempat tugas, Catrice menyatakan tidak berniat mengajukan pindah ke kota. "Saya merasa sudah nyaman. Memang, tidak munafik ya, kalau dipindahkan ke kota, saya mau. Tapi, untuk meminta pindah, tidak ada dalam benak saya," ujarnya.

Tentu, Catrice ingin melanjutkan kuliah untuk mengambil spesialisasi. Namun, dia terasa berat meninggalkan tempat bertugas sekarang. "Kalau diberi kesempatan ambil spesialis, saya masih ingin kembali ke Bulungan," kata dokter yang bercita-cita menjadi ahli bedah tersebut.

Karena kemampuannya bertahan, apalagi dianggap berhasil membina warga, Catrice mendapat penghargaan dari Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi pada puncak Hari Kesehatan Nasional (HKN) di JI Expo Kemayoran Jumat (15/11). Dia dinilai berhasil membina warga daerah terpencil untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

"Di sana kami bantu satu desa untuk menjadi percontohan Desa Sehat. Kami bersyukur desa itu menjadi juara di tingkat kabupaten dan provinsi," lanjutnya. 

Sumber: JPNN

LABIRIN TAK BERTEPI


Perjalanan hidup manusia  bagaikan bentangan langit.  Kadang tampak indah membiru tersaput putihnya awan,  Namun langit bisa menjadi begitu menakutkan tatkala gumpalan awan hitam memberatinya, terlebih bila percik kilat menghantarkan bahana petir yang menggelegar.

 Langit hidup Rendra pun tak selalu membiru.  Sewaktu berhasil lulus tes CPNS Guru SD, hari Rendra terasa cerah.  Namun awan mendung sejurus kemudian menggelayuti langit Rendra, saat ia menerima SK penempatan mengajar di sebuah desa terpencil.

Tempat tugas pertama Rendra berlokasi di lembah subur berpagar bebukitan. Ketiadaan BTS menyebabkan  sinyal telepon genggam hilang timbul bagai pesut berenang. Anehnya, remaja di sana banyak yang memiliki telepon genggam, Rupanya telepon genggam jadi aksesoris semata. 

Listrik baru masuk desa beberapa tahun yang lalu. Jangan berharap ada mall di sana.  Pasar tradisional pun hanya ada di kota kecamatan.  Untuk menuju pasar tradisional itu,  penduduk desa menumpang mobil bak terbuka yang biasa mengangkut hasil bumi ke pasar induk di Kota Bogor.  Kalau kurang beruntung, mereka terpaksa berbagi angkutan dengan kambing dan ayam yang buang kotoran sembarangan. Demikianlah tantangan karier baru Rendra.  Sungguh, ini bukanlah karier impian lulusan terbaik Fakultas Ilmu Pendidikan yang seumur hidupnya tinggal di kota.

Rendra merayu ibunya agar sudi menggelontorkan dana demi penempatan di SD yang lebih dekat dengan rumah mereka. Tapi, ibu menolak tegas keinginannya.

“Itu namanya KKN, Rendra.  Mama tidak mau kamu terlibat KKN.  Sudah, terima saja takdirmu bertugas di tempat terpencil!  Pasti ada hikmahnya. Mama tidak takut sendirian di rumah selama kamu bertugas.  Ada Allah, sebaik-baiknya penjaga,” nasehat ibunya.

Rendra pasrah. Dengan perasaan nelangsa, Rendra memulai perjalanan pertama menuju tempat tugas.  Akhirnya, Rendra tiba di sana dengan menjinjing tas laptop dan koper berisi pakaian.  Pak Kepala Desa bersedia menampung Rendra di rumahnya.  Biaya kost berikut makan dua kali sehari terbilang murah, Rp. 300.000,00 perbulan.  Isteri Kepala Desa sangat baik terhadap Rendra. Beliau menganggap Rendra sebagai pengganti anaknya yang sudah 5 tahun bekerja di Malaysia.

Ternyata ibunda Rendra benar.  Penempatan di desa terpencil ini menuai hikmah.  Rendra berjumpa gadis memesona.  Namanya Yuliana, atau  Ibu Ana sapaan akrabnya.  Dialah gadis paling berbahagia yang pernah Rendra kenal.  Bibirnya nan tersaput lipstik warna salem, selalu menyunggingkan senyum.  Tawa renyahnya memeriahkan ruang guru yang  bobrok.  

Rendra langsung jatuh hati pada gadis periang itu. Tapi, perasaan cinta Rendra bagaikan bara terkena hujan.  “Jangan coba-coba dekati Ibu Ana deh!  Setahun  lalu, guru muda sepantaran anda jatuh hati padanya.  Dia menyatakan perasaannya pada Ibu Ana.  Tahu apa jawaban Ibu Ana? ‘Maaf Pak, saya belum berniat ke arah sana, silakan cari wanita lain yang lebih baik daripada saya’.  Ahirnya Guru muda itu patah hati dan pindah dari Sekolah ini.  Nah, Pak Rendra, saya tidak mau kehilangan guru lagi.  Jadi, saya tegaskan kembali, Janga coba-coba dekatin Ibu Ana!” saran Pak Gandi, kepala sekolah mereka.

Pria tampan itu akhirnya memutuskan untuk menjadi rekan kerja yang baik bagi Ibu Ana.  Rendra meminjamkannya laptop dan infocus  untuk memutar film edukasi di kelasnya.  Bersama mereka rumuskan mata ajaran tematik.  Mereka padukan berbagai pelajaran yang bertema sama dengan memperbanyak praktek dan pengamatan di luar kelas. Tujuannya agar para murid memahami pelajaran, bukan sekedar menghapalkannya. Sungguh, cinta mampu meningkatkan kreativitas. Hal yang mereka lakukan itu melampaui kebijakan pemerintah yang baru menerapkan sistem tematik beberapa tahun kemudian.

Peristiwa yang terjadi saat  Rendra telah mengajar selama enam bulan di sekolah itu, mempererat persahabatan mereka.  Ana yang mengajar di kelas 6, memiliki murid jelita bernama Arum. Tubuh Arum terbilang bongsor untuk anak usia 12 tahun.  Hal ini menarik perhatian seorang bandot tua, pemilik puluhan hektar lahan yang ditanami kelapa sawit dan buah-buahan.  

Suatu hari, bandot tua ini melamar Arum untuk dijadikan isteri keempatnya.  Bila Arum mau menikah dengannya, ia akan mengongkosi orang tua Arum ke tanah suci.  Tentu saja lamaran ini disambut hangat orangtua Arum yang berprofesi sebagai buruh tani.  Di desa itu, gelar haji adalah suatu kebanggaan.

Orang tua Arum memaksa anaknya berhenti sekolah.  Sebagai aksi protes, Arum kabur ke pondokan Ana.  Bapak Arum yang kalap memburu anaknya ke pondokan Ana. Kebetulan saat itu Rendra sedang berkunjung ke sana.

Tangkurak sia, mana anak aing?” (mana anak saya) hardik bapak yang kalap itu sambil mengacungkan goloknya ke wajah Ana.  Guru muda itu gemetar ketakutan. 
“Pak, jangan bicara begitu dengan wanita, Bu Ana tidak salah!” tegur Rendra, sopan.

Saha maneh? ulah ikut campur!” (siapa kamu..! jangan ikut campur) tegas Bapak Arum sambil mengarahkan goloknya ke wajah Rendra.  

Bapak itu salah sasaran.  Dalam sekejap, goloknya telah berpindah ke tangan Rendra, sementara bapak itu tergolek kaku di teras pondokan. Rendra telah menotok saraf pusatnya hingga ia tak bisa bergerak. Ternyata ilmu silat cimande yang Rendra dalami sejak kanak-kanak berguna di desa terpencil ini.  “Ampun...ampun...Pak...! ” rintih Bapaknya Arum.

“Saya bisa bikin Bapak lebih sakit lagi kalau Bapak paksa Arum menikah dini.  Arum anak pintar.  Biarkan dia menggapai cita-citanya menjadi guru!”

 “Ampun Pak, saya janji "moal maksakeun Arum nikah jeung Kang Haji" (tidak akan memaksa arum nikah dengan Kang Haji) tapi tolong bebaskan saya!”

Akhirnya, Arum urung menikah dan mempertahankan prestasinya sebagai juara kelas.  Ana sangat berterima kasih kepada Rendra.  Hubungan mereka kian akrab.  Di luar jam mengajar, mereka sering melewatkan waktu bersama. Rekan-rekan guru mulai menggosipkan mereka.

“Selamat, Anda berhasil menaklukan hati Ibu Ana,” goda Pak Gandi sambil tertawa jahil kepada Rendra. “Ayo, jangan buang waktu! Segera lamar bu Ana!” Rendra menyetujui ide Pak Gandi. Mereka merancang acara lamaran nan romantis. Rendra berharap Ana akan menangis terharu kala menerima lamaran itu, Ternyata salah...!

*********membaca surat Ana membuat haru biru************

Ibu Ana telah mengetahui rencana lamaran Rendra dan dia tidak menginginkan hal itu terjadi walau sesungguhnya Ibu Ana jatuh cinta, tapi ada rahasia masa lalu yang disimpan rapat-rapat, Aku tidak ingin mengecewakan Rendra, Aku harus menjauhi Rendra, kata Ana..! sembari membereskan semua perlengkapannya dan segera minggat dari pemondokannya dengan meninggal sepucuk surat bersampul biru..!

Assalamualaikum wr.wb.

Teruntuk pemuda tampan yang aku kagumi setelah kanjeng Rasul. Bang Rendra, ijinkan aku memanggilmu demikian.  Aku  terpikat pada ketulusan hatimu sewaktu berhasil membebaskan Arum dari jerat pernikahan dini. Kamu tahu, pengalaman Arum mirip dengan pengalamanku sendiri.  Dulu, aku adalah warga desa terpencil nun jauh di pedalaman Pulau Sumatera. Orang tua memaksaku menikah saat baru lulus SD. Suamiku adalah lintah darat berwatak serigala. Dia tega menjualku pada sahabatnya sendiri.  Maka, aku putuskan kabur ke Jakarta dengan menumpang truk kelapa sawit. Di Jakarta, aku menjual diri untuk menafkahi hidupku, juga melanjutkan pendidikan. Karena aku tak punya keterampilan lain untuk bertahan hidup. Akhirnya, aku berhasil menjadi Sarjana Pendidikan dan lulus tes CPNS dua tahun lalu. Mengapa aku meminta ditempatkan di desa terpencil ini? Karena aku mau melepaskan diri dari  jerat masa laluku nan nista.

Dari petugas kebersihan, aku tahu kamu akan melamarku. Seandainya aku dulu mencari nafkah secara halal, tentunya aku berbunga hati dan menangis terharu saat menerima lamaranmu Tapi, dosa masa silam menyurutkan hasratku menjadi pendamping hidupmu. aku tak ingin mengecewakanmu.
Bang Rendra, kamu adalah sosok suami ideal bagi setiap wanita. Sayangnya, aku bukan wanita yang pantas untukmu. Karena itu, relakan kepergianku.  Aku bertekad merintis hidup baruku di pedalaman kalimantan. Jangan mencariku, karena aku pun masih mencari hakikat keberadaanku di bumi ini


Wassalamualaikum wr.wb.
Yuliana binti Nasrul, pengagum setiamu.

Kini, Rendra tengah dirajam perihnya kehilangan.  Kemelut hidupnya bagai labirin tak bertepi.  
Rendra percaya, bila Tuhan menakdirkan Ana sebagai jodohnya, mereka akan dipertemukan dengan cara yang ajaib.  Namun, bila Yuliana bukan jodohnya, Rendra bermohon pada Tuhan untuk melumpuhkan ingatannya akan sosok manis Yuliana.

Sumber : ibufabina.blogspotcom

TAMPANG RAMBO HATI RINTO


BERBADAN besar, rambut gondrong, dan tampang sangar terkadang bisa menipu orang. Tampang boleh sangar, tapi M Saleh Yusuf memiliki hati lembut.

Sekilas tidak ada yang mewah dari laki-laki kelahiran Desa Mawu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini. Sehari-harinya, pria yang akrab disapa Alan itu bekerja sebagai sopir bus malam AKAP dengan rute Bima-Mataram.

 Siapa sangka, di balik penampilannya yang garang, Alan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Berawal dari keprihatinan menyaksikan anak-anak di desanya yang tidak bersekolah dan kurangnya pengetahuan akan agama, sebuah ide membuat sekolah terlintas di benaknya. Dengan tekad kuat dan dukungan keluarga, Alan berhasil membangun sekolah tingkat taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD) di desanya.

Guna mewujudkan tekadnya, pria berusia 42 tahun itu menyisihkan penghasilannya dari profesi yang digelutinya selama 20 tahun terakhir.

Berdasarkan pengalamannya melewati beberapa wilayah di Indonesia, ia sadar desanya tertinggal jauh. “Pada waktu itu saya melihat perbandingan kualitas hidup beserta pendidikan selama saya menyetir bus dari Bima ke Jakarta. Saya melihat anak-anak di sekolah dan kampung saya perlu mengubah pola pikirnya. Saya melihat perbandingan itu dan saya sadar kualitas hidup di kampung saya sangat jauh tertinggal,“ ungkapnya.

Pada 2008, ia mendirikan sekolah gratis bernama Madrasah Ibtidaiyah Swasta Darul Ulum di desa kelahirannya di Dusun Tololai. Meski hanya terbuat dari kayu dan bilik, madrasah itu sangat dirasakan manfaatnya bagi warga sekitar, terutama anak-anak. Kini, Madrasah Darul Ulum telah memiliki 100 siswa dan 15 staf pengajar.

Di sini mereka dapat sekolah tanpa mengeluarkan biaya alias gratis. Seluruh biaya dan fasilitas sekolah bahkan gaji guru ditanggung Alan.

Seiring dengan berjalannya waktu, Alan memiliki mimpi agar madrasah yang dibangunnya itu dapat terus berkembang dan dapat membantu lebih banyak warga di tanah kelahirannya. Harapannya hanya satu, yaitu melalui pendidikan itu saya berharap agar anak-anak Desa Tololai tumbuh menjadi anak-anak cerdas dan bisa meraih segala mimpinya.

“Saya tahu banyak orang yang lebih mampu secara ekonomi dari saya, tapi saya yakin bahwa sayalah yang ditunjuk oleh Allah untuk menjalani semua ini,“ pungkas dia. (Rio/M-4)

Sumber : MI/22/02/2015/Halaman 16

TIDAK DIAM KALA TUA



MENJADI tua, pensiun, dan tidak melakukan aktivitas apa pun bukan pilihan Fransisco Ximenes. Pensiunan TNI itu memiliki kesibukan dengan kegiatan sosial membantu pengungsi dari Timur Leste yang dikenal dengan nama Warga Baru.

“Dulu pekerjaan saya sebagai Tropas atau Tentara Portugis. Namun, setelah Timor Timur (Timur Leste) pecah, saya lebih memilih untuk menjadi warga negara Indonesia karena sejak dulu, rasa nasionalis sebagai WNI (warga ne gara Indonesia) sudah mengalir di darah saya,“ tegasnya. Meski berdampak harus berpisah dengan putri pertamanya yang memilih tetap berada di Timour Leste.

Pascapisahnya Timor Leste, bantuan untuk pengungsi pun berhenti pada 2003. Pria yang akrab disapa Bapak Sico itu pun berinisiatif untuk menggerakkan masyarakat agar bisa mandiri dan produktif.

Ia mengusahakan tersedianya air bersih me lalui sumur bor serta memberdayakan masyarakat dalam kegiatan pertanian, peternakan, hingga kewirausahaan.

Contohnya ialah pemberdayaan masyarakat dalam bidang pendidikan. Saat ini Bapak Sico menjadi telah men jadi komite dalam empat sekolah sekaligus yang berada di wilayah Kupang. Keempat sekolah itu ialah SD Katolik Naibonat, SMP 4 Kupang, SMA 2 Kupang Timur, dan SMA Perikanan Kupang Timur.

Ia masih ingat pada 2011, saat tahun ajaran baru dimulai, ada 32 pelajar yang tidak bisa ditampung di salah satu SMA negeri karena tidak ada ruang kelas. Tidak mau pangku tangan, Bapak Sico memiliki ide setelah melihat ada satu rumah kosong di samping sekolah. Ia berinisiatif memperbaiki rumah kosong itu dan diubahnya menjadi ruang kelas guna menampung para siswa itu.

“Cuma karena rumah kosong itu kecil dan atapnya pendek, sesekali ketika cuaca panas sangat terik, anak-anak di sana bersama gurunya keluar dan belajar di bawah pohon dulu,“ kata dia.

Tidak hanya itu, Bapak Sico juga aktif memberdayakan kelompok tani. Ia mendorong sektor ekonomi dengan pengelolaan lahan atau sawah, pengadaan air bersih, pengelolaan kain tenun lokal, hingga pengembangan peternakan kambing dan sapi.

Baginya, masih banyak tugas yang perlu dilakukan untuk menyadarkan generasi muda, khususnya Warga Baru untuk meninggalkan budaya negatif seperti minum-minuman keras, berjudi, dan bentuk-bentuk tindakan tidak baik lainnya. (Rio/M-4)

Sumber : MI/22/02/2015/Halaman 16