Mengintip Masa Lalu Lewat Bangunan Bersejarah di Bima

Syekh Abdulgani Bima (Al-Bimawi).

Puncak musim panas di Bima biasanya berlangsung sampai November. Terkadang berkepanjangan hingga awal Desember. Dalam kurun waktu itu udara di siang hari menyengat. Kota Bima selain lewat udara, dapat juga dicapai lewat darat dari Poto Tano, Sumbawa dan jalur laut. Perjalanan dengan mobil dari lapangan terbang Sultan Muhammad Salahuddin hanya sekitar 20 menit menuju Kota Bima. Jarak antara lapangan terbang dan pusat kota sekitar 20 kilometer. Di barat ada pelabuhan laut, jaraknya sekitar satu kilometer dari pusat kota.

Tidak banyak pemandangan menarik di sepanjang perjalanan selama musim panas, kecuali alunan ombak pantai Teluk Bima. Selebihnya gunung-gunung yang diapit pantai dan bukit-bukit gundul. Beberapa kilometer sebelum memasuki kota, kita menjumpai pelabuhan dan depot minyak Pertamina dan tempat rekreasi, Pantai Lawata. Pantai tersebut panjangnya lebih kurang setengah kilometer yang dinaungi oleh bukit berbatu. Ada beberapa bangunan di atas bukit di dekat pantai. Pada hari-hari libur, tempat tersebut banyak didatangi masyarakat. Lawata ibarat sebuah gerbang “selamat datang”, memberi isyarat bahwa perjalanan akan segera memasuki Kota Bima. Di mulut kota terdapat sebuah terminal bus yang bernama Terminal Dara. Dinamakan demikian karena terletak di Desa Dara.

Juga tidak banyak hal menarik yang ditemui di dalam kota, kecuali sebuah bangunan kuno Istana Bima atau akrab dikenal dengan Asi Mbojo, bangunan berlantai dua hasil perpaduan arsitektur asli Bima dan Belanda. Istana ini menggantikan bangunan sebelumnya yang dibangun pada abad ke-19, yang bergaya Portugis. Ukurannya jauh lebih kecil dibanding istana sekarang. Kini bangunan Istana Bima menjadi museum dengan nama Museum Asi Mbojo.

 
Memandang Museum Asi Mbojo sekarang, kita seperti pergi ke masa lalu, ketika Kerajaan Bima berjaya. Bangunan yang pernah menjadi istana raja-raja Bima itu mampu bercerita banyak tentang masa lalu moyang orang Bima yang legendaris. Di sebelah timur areal istana berdiri Masjid Agung Bima. Dulu namanya Masjid Agung Al-Muwahidin. Sebelah barat adalah lapangan taman kota yang dulunya adalah lapangan sepak bola. Selebihnya adalah toko-toko, losmen-losmen dan pelabuhan laut. Kotoran kuda-kuda penarik “Benhur“, kendaraan tradisional Bima, bertebaran di jalan-jalan beraspal. Di musim panas kotoran itu menjadi debu yang menyapu kota.

Asi Mbojo di masa jayanya tidak sepi dari kegiatan sehari-hari kesultanan. Walaupun saat ini tersia-sia, pada masa lalu Asi Mbojo merupakan tempat sakral yang menjadi pusat pemerintahan, seni dan budaya, pusat penyiaran Islam dan Pengadilan Hadat. Asi Mbojo didampingi Asi Bou, sebuah rumah panggung asli Bima, merupakan tempat kediaman resmi sultan dan keluarganya. Tapi kini mereka menyendiri dan kesepian. Istana atau Asi dalam Bahasa Bima dikenal oleh masyarakat Bima pada sekitar abad ke-11 Masehi.

Istana Bima (Asi Mbojo) adalah bangunan bergaya Eropa. Mulai dibangun pada tahun 1927. Bangunan ini dirancang oleh seorang arsitek kelahiran Ambon, Rehatta, yang diundang ke Bima oleh penjajah Belanda. Ia dibantu oleh Bumi Jero. Istana yang kini telah beralih fungsi sebagai museum daerah itu adalah sebuah bangunan permanen berlantai dua yang merupakan paduan arsitek asli Bima dan Belanda. Istana tersebut resmi menjadi Istana Kesultanan Bima pada tahun 1929. Pembangunan istana dilakukan secara bergotong-royong oleh masyarakat, sedang sumber pembiayaan berasal dari anggaran belanja kesultanan dan uang pribadi sultan.

Asi Mbojo, bangunan paling indah dan megah pada masa kesultanan, memiliki halaman seluas 500 meter persegi yangditumbuhi pohon-pohon rindang dan taman bunga yang indah. Bangunan istana diapit oleh dua pintu gerbang timur dan barat yang senantiasa dijaga oleh anggota pasukan pengawal kesultanan.

Konsepsi tata letak bangunan istana tidak jauh berbeda dengan istana lain di tanah Air. Istana menghadap ke barat. Di depannya terdapat tanah lapang atau alun-alun namanya Serasuba. Di sinilah raja tampil secara terbuka di depan rakyat di saat-saat tertentu, misalnya saat diselenggarakan upacara-upacara penting atau perayaan hari besar keagamaan. Serasuba juga menjadi arena latihan pasukan kesultanan. Di sebelah alun-alun terdapat sebuah bangunan masjid, sebagai sarana kegiatan ritual keagamaan (Islam). Kini masjid itu bernama Masjid Sultan. Tanah lapang berbentuk segi empat (mendekati bujur sangkar). Satu sisi bersebelahan dengan bangunan masjid dan sisi yang lain menyatu dengan halaman istana. Jelaslah bahwa bangunan istana, alun-alun dan masjid merupakan satu kesatuan yang utuh.

Untuk memberi kesan sebagai bangunan monumental, istana bisa dipandang dari empat penjuru angin. Tampaknya pembangunan istana memperhatikan konsepsi filosofi sebuah istana yang di dalamnya mentyiratkan kesatuan unsur pemerintahan, agama dan rakyat (masyarakat). Namun, kini konsep filosofi itu telah sirna sejalan dengan dikapling-kaplingnya tanah di sekitar istana oleh segelintir orang untuk rumah dan kantor. Bukan saja istana menjadi kehilangan keanggunan dan kesan monumentalnya tapi konsep filosofinya menjadi berantakan. Masjid Raya Kesultanan, kini Menjadi Masjid Agung Bima, telah terpisah jauh dari Istana, seperti sudah keluar dari konteks. dari sini terbaca bahwa orang Bima mengalami krisis jati diri dan wawasan kebangsaan yang laten.

Bersamaan dengan berakhirnya masa kesultanan pada tahun 1952, maka berakhirlah peranan Asi Mbojo sebagai pusat pemerintahan, pusat pengembangan seni dan budaya, pusat penyiaran Islam dan pusat pengadilan hadat. Kini bangunan tersebut menjalani fungsi yang baru sebagai museum bagi barang-barang peninggalan raja-raja dan sultan-sultan Bima. Di kedua pintu gerbang tidak ada lagi anggota pasukan pengawal kesultanan. Alun-alun Serasuba telah beralih fungsi menjadi lapangan sepakbola. Halaman belakang Istana yang dulunya merupakan taman bunga yang indah, sejak tahun 1963 diperjual-belikan kepada masyarakat untuk pengembangan rumah-rumah pribadi. Ia seolah-olah harus sirna karena merupakan apa yang dikatakan — segelintir orang — sebagai lambang “feodalisme masa lalu”.

Keadaan istana betul-betul parah pada tahun 1966. Istana yang senantiasa bersih dan terawat dengan baik, berubah menjadi kotor dan beberapa bagian bangunan rusak dan runtuh. Bangunan termewah dikota Bima itu akhirnya merana. Istana kemudian beralih fungsi menjadi mess pegawai dan tentara. Usaha untuk mengembalikan keindahan istana dimulai tahun 1978. Pemerintah pusat melakukan pemugaran dan menjadikannya sebagai bangunan lama yang harus dilindungi dan dilestarikan.

 
Beberapa bangunan bersejarah bisa ditemukan di dalam lingkungan istana, yaitu pintu-pintu gerbang dan sebuah tiang bendera setinggi 50 meter. Pintu gerbang sebelah barat dan sebelah timur bernama Lare-lare merupakan pintu resmi kesultanan yaitu tempat masuknya sultan, para pejabat kesultanan dan tamu-tamu sultan. Lare-lare berbentuk masjid tiga tingkat. Tingkat atas (loteng merupakan tempat untuk menyimpan Tambur RasanaE dan dua buah lonceng. Tambur RasanaE dibunyikan sebagai tanda pemberitahuan adanya upacara kebesaran, sedangkan kedua lonceng dibunyikan untuk pemberitahuan tanda bahaya dan waktu.