Islam Masuk Nusantara Saat Rasulullah Masih Hidup

ISLAM masuk ke Nusantara dibawa para pedagang dari Gujarat, India, di abad ke 14 Masehi. Teori masuknya Islam ke Nusantara dari Gujarat ini disebut juga sebagai Teori Gujarat. Demikian menurut buku-buku sejarah yang sampai sekarang masih menjadi buku pegangan bagi para pelajar kita, dari tingkat sekolah dasar hingga lanjutan atas, bahkan di beberapa perguruan tinggi.

Namun, tahukah Anda bahwa Teori Gujarat ini berasal dari seorang orientalis asal Belanda yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk menghancurkan Islam? Orientalis ini bernama Snouck Hurgronje, yang demi mencapai tujuannya, ia mempelajari bahasa Arab dengan sangat giat, mengaku sebagai seorang Muslim, dan bahkan mengawini seorang Muslimah, anak seorang tokoh di zamannya.



Menurut sejumlah pakar sejarah dan juga arkeolog, jauh sebelum Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, telah terjadi kontak dagang antara para pedagang Cina, Nusantara, dan Arab. Jalur perdagangan selatan ini sudah ramai saat itu.

Mengutip buku Gerilya Salib di Serambi Makkah (Rizki Ridyasmara, Pustaka Alkautsar, 2006) yang banyak memaparkan bukti-bukti sejarah soal masuknya Islam di Nusantara, Peter Bellwood, Reader in Archaeology di Australia National University, telah melakukan banyak penelitian arkeologis di Polynesia dan Asia Tenggara.

Bellwood menemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa sebelum abad kelima masehi, yang berarti Nabi Muhammad SAW belum lahir, beberapa jalur perdagangan utama telah berkembang menghubungkan kepulauan Nusantara dengan Cina. Temuan beberapa tembikar Cina serta benda-benda perunggu dari zaman Dinasti Han dan zaman-zaman sesudahnya di selatan Sumatera dan di Jawa Timur membuktikan hal ini.

Dalam catatan kakinya Bellwood menulis, “Museum Nasional di Jakarta memiliki beberapa bejana keramik dari beberapa situs di Sumatera Utara. Selain itu, banyak barang perunggu Cina, yang beberapa di antaranya mungkin bertarikh akhir masa Dinasti Zhou (sebelum 221 SM), berada dalam koleksi pribadi di London. Benda-benda ini dilaporkan berasal dari kuburan di Lumajang, Jawa Timur, yang sudah sering dijarah…” Bellwood dengan ini hendak menyatakan bahwa sebelum tahun 221 SM, para pedagang pribumi diketahui telah melakukan hubungan dagang dengan para pedagang dari Cina.

Masih menurutnya, perdagangan pada zaman itu di Nusantara dilakukan antar sesama pedagang, tanpa ikut campurnya kerajaan, jika yang dimaksudkan kerajaan adalah pemerintahan dengan raja dan memiliki wilayah yang luas. Sebab kerajaan Budha Sriwijaya yang berpusat di selatan Sumatera baru didirikan pada tahun 607 Masehi (Wolters 1967; Hall 1967, 1985). Tapi bisa saja terjadi, “kerajaan-kerajaan kecil” yang tersebar di beberapa pesisir pantai sudah berdiri, walau yang terakhir ini tidak dijumpai catatannya.

Di Jawa, masa sebelum masehi juga tidak ada catatan tertulisnya. Pangeran Aji Saka sendiri baru “diketahui” memulai sistem penulisan huruf Jawi kuno berdasarkan pada tipologi huruf Hindustan pada masa antara 0 sampai 100 Masehi. Dalam periode ini di Kalimantan telah berdiri Kerajaan Hindu Kutai dan Kerajaan Langasuka di Kedah, Malaya. Tarumanegara di Jawa Barat baru berdiri tahun 400-an Masehi. Di Sumatera, agama Budha baru menyebar pada tahun 425 Masehi dan mencapai kejayaan pada masa Kerajaan Sriwijaya.


Temuan G. R Tibbets

Adanya jalur perdagangan utama dari Nusantara—terutama Sumatera dan Jawa—dengan Cina juga diakui oleh sejarawan G. R. Tibbetts. Bahkan Tibbetts-lah orang yang dengan tekun meneliti hubungan perniagaan yang terjadi antara para pedagang dari Jazirah Arab dengan para pedagang dari wilayah Asia Tenggara pada zaman pra Islam. Tibbetts menemukan bukti-bukti adanya kontak dagang antara negeri Arab dengan Nusantara saat itu.
“Keadaan ini terjadi karena kepulauan Nusantara telah menjadi tempat persinggahan kapal-kapal pedagang Arab yang berlayar ke negeri Cina sejak abad kelima Masehi, ” tulis Tibbets. Jadi peta perdagangan saat itu terutama di selatan adalah Arab-Nusantara-China.

Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa menjelang seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M—hanya berbeda 15 tahun setelah Rasulullah menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah berdakwah terang-terangan kepada bangsa Arab—di sebuah pesisir pantai Sumatera sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam kekuasaan wilayah Kerajaan Budha Sriwijaya.

Di perkampungan-perkampungan ini, orang-orang Arab bermukim dan telah melakukan asimilasi dengan penduduk pribumi dengan jalan menikahi perempuan-perempuan lokal secara damai. Mereka sudah beranak–pinak di sana. Dari perkampungan-perkampungan ini mulai didirikan tempat-tempat pengajian al-Qur’an dan pengajaran tentang Islam sebagai cikal bakal madrasah dan pesantren, umumnya juga merupakan tempat beribadah (masjid).


Temuan ini diperkuat Prof. Dr. HAMKA yang menyebut bahwa seorang pencatat sejarah Tiongkok yang mengembara pada tahun 674 M telah menemukan satu kelompok bangsa Arab yang membuat kampung dan berdiam di pesisir Barat Sumatera. Ini sebabnya, HAMKA menulis bahwa penemuan tersebut telah mengubah pandangan orang tentang sejarah masuknya agama Islam di Tanah Air. HAMKA juga menambahkan bahwa temuan ini telah diyakini kebenarannya oleh para pencatat sejarah dunia Islam di Princetown University di Amerika.


Pembalseman Firaun Ramses II Menggunakan Kapur Barus dari Nusantara



Dari berbagai literatur, diyakini bahwa kampung Islam di daerah pesisir Barat Pulau Sumatera itu bernama Barus atau yang juga disebut Fansur. Kampung kecil ini merupakan sebuah kampung kuno yang berada di antara kota Singkil dan Sibolga, sekitar 414 kilometer selatan Medan. Di zaman Sriwijaya, kota Barus masuk dalam wilayahnya. Namun ketika Sriwijaya mengalami kemunduran dan digantikan oleh Kerajaan Aceh Darussalam, Barus pun masuk dalam wilayah Aceh.

Amat mungkin Barus merupakan kota tertua di Indonesia mengingat dari seluruh kota di Nusantara, hanya Barus yang namanya sudah disebut-sebut sejak awal Masehi oleh literatur-literatur Arab, India, Tamil, Yunani, Syiria, Armenia, China, dan sebagainya.

Sebuah peta kuno yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus, salah seorang Gubernur Kerajaan Yunani yang berpusat di Aleksandria Mesir, pada abad ke-2 Masehi, juga telah menyebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang dikenal menghasilkan wewangian dari kapur barus.

Bahkan dikisahkan pula bahwa kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke Mesir untuk dipergunakan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses II atau sekitar 5. 000 tahun sebelum Masehi!


Berdasakan buku Nuchbatuddar karya Addimasqi, Barus juga dikenal sebagai daerah awal masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad ke-7 Masehi. Sebuah makam kuno di kompleks pemakaman Mahligai, Barus, di batu nisannya tertulis Syekh Rukunuddin wafat tahun 672 Masehi. Ini memperkuat dugaan bahwa komunitas Muslim di Barus sudah ada pada era itu.

Sebuah Tim Arkeolog yang berasal dari Ecole Francaise D’extreme-Orient (EFEO) Perancis yang bekerjasama dengan peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) di Lobu Tua-Barus, telah menemukan bahwa pada sekitar abad 9-12 Masehi, Barus telah menjadi sebuah perkampungan multi-etnis dari berbagai suku bangsa seperti Arab, Aceh, India, China, Tamil, Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Bengkulu, dan sebagainya.

Tim tersebut menemukan banyak benda-benda berkualitas tinggi yang usianya sudah ratusan tahun dan ini menandakan dahulu kala kehidupan di Barus itu sangatlah makmur.

Di Barus dan sekitarnya, banyak pedagang Islam yang terdiri dari orang Arab, Aceh, dan sebagainya hidup dengan berkecukupan. Mereka memiliki kedudukan baik dan pengaruh cukup besar di dalam masyarakat maupun pemerintah (Kerajaan Budha Sriwijaya). 

Bahkan kemudian ada juga yang ikut berkuasa di sejumlah bandar. Mereka banyak yang bersahabat, juga berkeluarga dengan raja, adipati, atau pembesar-pembesar Sriwijaya lainnya. Mereka sering pula menjadi penasehat raja, adipati, atau penguasa setempat. Makin lama makin banyak pula penduduk setempat yang memeluk Islam. Bahkan ada pula raja, adipati, atau penguasa setempat yang akhirnya masuk Islam. Tentunya dengan jalan damai (Rz/eramuslim)

Sejarahwan T. W. Arnold dalam karyanya “The Preaching of Islam” (1968) juga menguatkan temuan bahwa agama Islam telah dibawa oleh mubaligh-mubaligh Islam asal jazirah Arab ke Nusantara sejak awal abad ke-7 M.

Setelah abad ke-7 M, Islam mulai berkembang di kawasan ini, misal, menurut laporan sejarah negeri Tiongkok bahwa pada tahun 977 M, seorang duta Islam bernama Pu Ali (Abu Ali) diketahui telah mengunjungi negeri Tiongkok mewakili sebuah negeri di Nusantara (F. Hirth dan W. W. Rockhill (terj), Chau Ju Kua, His Work On Chinese and Arab Trade in XII Centuries, St.Petersburg: Paragon Book, 1966, hal. 159).

Bukti lainnya, di daerah Leran, Gresik, Jawa Timur, sebuah batu nisan kepunyaan seorang Muslimah bernama Fatimah binti Maimun bertanggal tahun 1082 telah ditemukan. Penemuan ini membuktikan bahwa Islam telah merambah Jawa Timur di abad ke-11 M (S. Q. Fatini, Islam Comes to Malaysia, Singapura: M. S. R.I., 1963, hal. 39).

Dari bukti-bukti di atas, dapat dipastikan bahwa Islam telah masuk ke Nusantara pada masa Rasulullah masih hidup. Secara ringkas dapat dipaparkan sebagai berikut: Rasululah menerima wahyu pertama di tahun 610 M, dua setengah tahun kemudian menerima wahyu kedua (kuartal pertama tahun 613 M), lalu tiga tahun lamanya berdakwah secara diam-diam—periode Arqam bin Abil Arqam (sampai sekitar kuartal pertama tahun 616 M), setelah itu baru melakukan dakwah secara terbuka dari Makkah ke seluruh Jazirah Arab.

Menurut literatur kuno Tiongkok, sekitar tahun 625 M telah ada sebuah perkampungan Arab Islam di pesisir Sumatera (Barus). Jadi hanya 9 tahun sejak Rasulullah SAW memproklamirkan dakwah Islam secara terbuka, di pesisir Sumatera sudah terdapat sebuah perkampungan Islam.

Selaras dengan zamannya, saat itu umat Islam belum memiliki mushaf Al-Qur’an, karena mushaf Al-Qur’an baru selesai dibukukan pada zaman Khalif Utsman bin Affan pada tahun 30 H atau 651 M. Naskah Qur’an pertama kali hanya dibuat tujuh buah yang kemudian oleh Khalif Utsman dikirim ke pusat-pusat kekuasaan kaum Muslimin yang dipandang penting yakni (1) Makkah, (2) Damaskus, (3) San’a di Yaman, (4) Bahrain, (5) Basrah, (6) Kuffah, dan (7) yang terakhir dipegang sendiri oleh Khalif Utsman.

Naskah Qur’an yang tujuh itu dibubuhi cap kekhalifahan dan menjadi dasar bagi semua pihak yang berkeinginan menulis ulang. Naskah-naskah tua dari zaman Khalifah Utsman bin Affan itu masih bisa dijumpai dan tersimpan pada berbagai museum dunia. Sebuah di antaranya tersimpan pada Museum di Tashkent, Asia Tengah.




Mengingat bekas-bekas darah pada lembaran-lembaran naskah tua itu maka pihak-pihak kepurbakalaan memastikan bahwa naskah Qur’an itu merupakan al-Mushaf yang tengah dibaca Khalif Utsman sewaktu mendadak kaum perusuh di Ibukota menyerbu gedung kediamannya dan membunuh sang Khalifah.

Perjanjian Versailes (Versailes Treaty), yaitu perjanjian damai yang diikat pihak Sekutu dengan Jerman pada akhir Perang Dunia I, di dalam pasal 246 mencantumkan sebuah ketentuan mengenai naskah tua peninggalan Khalifah Ustman bin Affan itu yang berbunyi: (246) Di dalam tempo enam bulan sesudah Perjanjian sekarang ini memperoleh kekuatannya, pihak Jerman menyerahkan kepada Yang Mulia Raja Hejaz naskah asli Al-Qur’an dari masa Khalif Utsman, yang diangkut dari Madinah oleh pembesar-pembesar Turki, dan menurut keterangan, telah dihadiahkan kepada bekas Kaisar William II (Joesoef Sou’yb, Sejarah Khulafaur Rasyidin, Bulan Bintang, cet. 1, 1979, hal. 390-391).

Sebab itu, cara berdoa dan beribadah lainnya pada saat itu diyakini berdasarkan ingatan para pedagang Arab Islam yang juga termasuk para al-Huffadz atau penghapal al-Qur’an.

Menengok catatan sejarah, pada seperempat abad ke-7 M, kerajaan Budha Sriwijaya tengah berkuasa atas Sumatera. Untuk bisa mendirikan sebuah perkampungan yang berbeda dari agama resmi kerajaan—perkampungan Arab Islam—tentu membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum diizinkan penguasa atau raja. Harus bersosialisasi dengan baik dulu kepada penguasa, hingga akrab dan dipercaya oleh kalangan kerajaan maupun rakyat sekitar, menambah populasi Muslim di wilayah yang sama yang berarti para pedagang Arab ini melakukan pembauran dengan jalan menikahi perempuan-perempuan pribumi dan memiliki anak, setelah semua syarat itu terpenuhi baru mereka—para pedagang Arab Islam ini—bisa mendirikan sebuah kampung di mana nilai-nilai Islam bisa hidup di bawah kekuasaan kerajaan Budha Sriwijaya.

Perjalanan dari Sumatera sampai ke Makkah pada abad itu, dengan mempergunakan kapal laut dan transit dulu di Tanjung Comorin, India, konon memakan waktu dua setengah sampai hampir tiga tahun. Jika tahun 625 dikurangi 2, 5 tahun, maka yang didapat adalah tahun 622 Masehi lebih enam bulan. Untuk melengkapi semua syarat mendirikan sebuah perkampungan Islam seperti yang telah disinggung di atas, setidaknya memerlukan waktu selama 5 hingga 10 tahun.

Jika ini yang terjadi, maka sesungguhnya para pedagang Arab yang mula-mula membawa Islam masuk ke Nusantara adalah orang-orang Arab Islam generasi pertama para shahabat Rasulullah, segenerasi dengan Ali bin Abi Thalib r. a.

Kenyataan inilah yang membuat sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara sangat yakin bahwa Islam masuk ke Nusantara pada saat Rasulullah masih hidup di Makkah dan Madinah. Bahkan Mansyur Suryanegara lebih berani lagi dengan menegaskan bahwa sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul, saat masih memimpin kabilah dagang kepunyaan Khadijah ke Syam dan dikenal sebagai seorang pemuda Arab yang berasal dari keluarga bangsawan Quraisy yang jujur, rendah hati, amanah, kuat, dan cerdas, di sinilah ia bertemu dengan para pedagang dari Nusantara yang juga telah menjangkau negeri Syam untuk berniaga.

“Sebab itu, ketika Muhammad diangkat menjadi Rasul dan mendakwahkan Islam, maka para pedagang di Nusantara sudah mengenal beliau dengan baik dan dengan cepat dan tangan terbuka menerima dakwah beliau itu,” ujar Mansyur yakin.

Dalam literatur kuno asal Tiongkok tersebut, orang-orang Arab disebut sebagai orang-orang Ta Shih, sedang Amirul Mukminin disebut sebagai Tan mi mo ni’. Disebutkan bahwa duta Tan mi mo ni’, utusan Khalifah, telah hadir di Nusantara pada tahun 651 Masehi atau 31 Hijriah dan menceritakan bahwa mereka telah mendirikan Daulah Islamiyah dengan telah tiga kali berganti kepemimpinan. Dengan demikian, duta Muslim itu datang ke Nusantara di perkampungan Islam di pesisir pantai Sumatera pada saat kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan (644-656 M). Hanya berselang duapuluh tahun setelah Rasulullah SAW wafat (632 M).

Catatan-catatan kuno itu juga memaparkan bahwa para peziarah Budha dari Cina sering menumpang kapal-kapal ekspedisi milik orang-orang Arab sejak menjelang abad ke-7 Masehi untuk mengunjungi India dengan singgah di Malaka yang menjadi wilayah kerajaan Budha Sriwijaya.

Gujarat Sekadar Tempat Singgah

Jelas, Islam di Nusantara termasuk generasi Islam pertama. Inilah yang oleh banyak sejarawan dikenal sebagai Teori Makkah. Jadi Islam di Nusantara ini sebenarnya bukan berasal dari para pedagang India (Gujarat) atau yang dikenal sebagai Teori Gujarat yang berasal dari Snouck Hurgronje, karena para pedagang yang datang dari India, mereka ini sebenarnya berasal dari Jazirah Arab, lalu dalam perjalanan melayari lautan menuju Sumatra (Kutaraja atau Banda Aceh sekarang ini) mereka singgah dulu di India yang daratannya merupakan sebuah tanjung besar (Tanjung Comorin) yang menjorok ke tengah Samudera Hindia dan nyaris tepat berada di tengah antara Jazirah Arab dengan Sumatera.
Bukalah atlas Asia Selatan, kita akan bisa memahami mengapa para pedagang dari Jazirah Arab menjadikan India sebagai tempat transit yang sangat strategis sebelum meneruskan perjalanan ke Sumatera maupun yang meneruskan ekspedisi ke Kanton di Cina.

Setelah singgah di India beberapa lama, pedagang Arab ini terus berlayar ke Banda Aceh, Barus, terus menyusuri pesisir Barat Sumatera, atau juga ada yang ke Malaka dan terus ke berbagai pusat-pusat perdagangan di daerah ini hingga pusat Kerajaan Budha Sriwijaya di selatan Sumatera (sekitar Palembang), lalu mereka ada pula yang melanjutkan ekspedisi ke Cina atau Jawa.

Disebabkan letaknya yang sangat strategis, selain Barus, Bandar Aceh ini telah dikenal sejak zaman dahulu. Rute pelayaran perniagaan dari Makkah dan India menuju Malaka, pertama-tama diyakini bersinggungan dahulu dengan Banda Aceh, baru menyusuri pesisir barat Sumatera menuju Barus. Dengan demikian, bukan hal yang aneh jika Aceh inilah yang pertama kali disinari cahaya Islam yang dibawa oleh para pedagang Arab. Sebab itu, Aceh sampai sekarang dikenal dengan sebutan Serambi Makkah.

Sumber : http://www.atjehcyber.net

Tahukah Anda Bahwa Berdzikir Sambil Geleng-geleng Kepala Ternyata Ada Dalilnya ?


Dzikir adalah perintah Allah SWT yang harus kita laksanakan setiap saat, dimanapun dan kapanpun. Allah selalu mendengar apapun yang kita ucapkan oleh mulut atau hati kita. Dzikir merupakan salah satu sarana komunikasi antara makhluk dengan khaliqnya. Dengan berdzikir seseorang dapat meraih ketenangan, karena pada saat berdzikir ia telah menemukan tempat berlindung dan kepasrahan total kepada Allah SWT.
Dan Sesungguhnya dzikrullah memberikan pengaruh yang kuat didalam kehidupan ruh seorang muslim, kejiwaannya, jasmaninya dan kehidupan masyarakatnya. maka bersemangatlah wahai saudaraku untuk senantiasa berdzikir kepada Allah ta’ala, di setiap waktu dan keadaanmu. Allah ta’ala memuji hamba-hambanya yang mukhlis dalam firman-Nya:

” الذين يذكرون الله قياماً وقعوداً وعلى جنوبهم… ” (آل عمران: الآية 191).

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring…” (Ali imran:191)
Ibnu Mundzir dan Ibn Juraij Menegaskan tentang ayat diatas bahwasanya : ayat tersebut bukanlah perintah dzikir pada sholat saja melainkan perintah anjuran dzikir dari Allah SWT yang harus kita laksanakan setiap saat
Oleh karena itu, dzikir harus dilaksanakan dengan sepenuh hati, jiwa yang tulus, dan hati yang khusyu’ penuh khidmat. Untuk bisa berdzikir dengan hati yang khusyu’ itu diperlukan perjuangan yang tidak ringan, masing-masing orang memiliki cara tersendiri. Bisa jadi satu orang lebih khusyu’ kalau berdzikir dengan cara duduk menghadap kiblat, sementara yang lain akan lebih khusyu’ dan khidmat jika wirid dzikir dengan cara berdiri atau berjalan, ada pula dengan cara mengeraskan dzikir atau dengan cara dzikir pelan dan hampir tidak bersuara untuk mendatangkan konsentrasi dan ke-khusyu’-an. Ada juga dzikir dengan dibarengi mengeleng-geleng kepala. Maka cara dzikir yang lebih utama adalah melakukan dzikir pada suasana dan cara yang dapat medatangkan ke-khusyu’-an.
Untuk mencapai dzikir pada suasana dan cara yang dapat medatangkan ke-khusyu’-an, biasanya orang-orang yang dzikir dengan dibarengi mengeleng-geleng kepala. 
Ada sebagianorang yang mengklaim bahwa perbuatan tersebut adalah bid’ah, sebab tidak ada dalil yang menjelaskanya . Lalu bagaimana sebetulnya?
Dalam hal ini Imam Zainuddin al-Malibari dalam kitabnya Kifayatul Atqiya’ Ila Thariqil auliya’ berkata : Biasa kita lihat sewaktu berzikir ada yang mengeleng – gelengkan kepalanya ke kiri ke kanan dan sebagainya. Bagi sebahagian orang yang menerima baiah thoriqat, maka dalam ijazah zikir mereka diajar gaya-gaya tertentu sewaktu melaksanakan zikir tersebut dengan falsafahnya masing-masing. 
Ada yang mengajar agar tarikan kalimah “Laa” itu bermula dari bawah pusat, kemudian dibawa sehingga ke dahi kemudian diturunkan kalimah “ilaha” ke bahu kiri dan akhirnya dipalu kalimah “Allah” terus masuk ke dalam hati sanubari. Ada yang menarik kalimah “La ilaha” daripada hati sanubari sebagai isyarat mengeluarkan dan menafikan segala aghyar yang ada di dalamnya, kemudian dilontarkan ke belakang melalui bahu kanan, kemudian dikembalikan kalimah “illa” ke bahu kanan dan dipukul kalimah “Allah” ke dalam hati sanubari. Gaya-gaya ini biasanya diajar oleh syaikh yang mursyid kepada anak muridnya sewaktu menerima baiah thoriqat mereka. 
Bagi yang bukan ahlinya maka mereka memandang sinis perlakuan ini tanpa terlebih dahulu melihat dan mengkaji dalil dan alasan mereka berbuat sedemikian. Oleh itu, kalau nak tahu pergilah bertanya dengan mereka-mereka yang ahlinya,.
Bagi orang awam yang tidak berthoriqah seperti di atas, mereka juga apabila berzikir, kebiasaannya dan pada umumnya, bergerak-gerak dan tergeleng-geleng kepala mereka.Sebenarnya semua ini punya sebab, alasan dan dalil. Antaranya ialah riwayat daripada Sayyidina Ali r.a. yang mensifatkan perbuatan para sahabat antaranya:-

فإذا أصبحوا فذكروا الله مادوا كما يميد الشجر في يوم الريح

“fa idza ashbahuu fa dzakarUllah maaduu kamaa yamiidusy syajar fi yawmir riih” yang bermaksud: “para sahabat apabila mereka berpagi-pagi mereka berzikrullah dalam keadaan bergerak (bergoyang) seperti goyangan pokok-pokok pada hari berangin.” Perkara ini juga disebut oleh Mufti Syaikh Ahmad bin Muhammad Sa`id Linggi dalam kitabnya “Faraa-idul Maatsir al-Marwiyyah lith Thoriqah al-Ahmadiyyah” di mana pada mukasurat 56 sebagai berikut:-
Al-Hafidz Abu Nu`aim meriwayatkan bahawa as-Sayyid al-Jalil al-Fudhail bin ‘Iyyadh berkata:- “Sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w. apabila berzikir mereka menggerakan badan condong ke kiri ke kanan seperti pohon kayu yang condong ditiup angin kuat.” 
Inilah di antara cara berzikir untuk keterangan lanjut mengenai cara ini, hendaklah ia menggerakkan tubuh badannya condong ke sebelah kanan memulakan dengan perkataan nafi “La” (daripada ayat tahlil La ilaha illa Allah) di sebelah kanan kerana nafsu yang condong kepada kejahatan ada di sebelah kanan. Kemudian menyebut lafaz “Allah” ketika badannya condong ke sebelah kiri, supaya hati menerima segala cahaya dan rahsia lafaz “Allah”.
Sebenarnya tidak ada keharusan (peringatan: “harus” di sini mengikut pengertian bahasa Indonesia yang bererti “wajib atau mesti” dalam bahasa kita, jadi makna “tidak ada keharusan” artinya “tidak ada kewajipan atau kepastian”, fahami betul-betul jangan salah faham. kurang faham bisa sesat jalan) menggerak-gerakkan kepada ke kanan dan ke kiri dalam tatacara membaca kalimat tahlil.Akan tetapi jika cara itu dapat menambah kekhusyu’an pembaca dalam menghayati makna kalimat, maka hukumnya sunnah. Sedangkan cara yang umum adalah menoleh ke kanan pada kalimah nafi (la ilaha) dan menoleh ke kiri pada kalimah itsbat (illaAllah). Cara ini berdasarkan riwayat hadits:

- فتاوى الخليلى على مذهب الامام الشافعى .ص. 26.

(سئل ) فيما يفعله الناس من الميل والتحريك فى حال القرأة والذكر وشبههماكما هو مشاهد من جميع الناس هل لذلك أصل فى السنة أولا ؟ وهل هو حرام أو مكروه أو مندوب وهو يثاب عليه وهو ثبت أنه من التشبه باليهود أولا ؟ ( أجاب ) اذا تأملت قوله الله عز وجل:” الذين يذكرون الله قياما وقعودا وعلى جنوبهم – آل عمران .101-وقوله تعالى:” والذاكرين الله كثيرا والذاكرات”. -الأحزاب.25- مع آية كثيرة غيرهما ومع قول الأصوليين وعموم الأشخاص يستلزم عموم الأحوال والأزمنة والبقاع مع مالهم من الأمثلة الدالة على ذلك مع ما ورد فى تفسير الآيات المذكورة وغيرها, علمت أن الحركة فى الذكر و القرأة ليست محرمة ولا مكروهة بل هى مطلوبة فى جملة أحوال الذاكرين من قيام وقعود وجنوب وحرمة وسكون وسفر وحضر وغنى وفقر فقد أخرج ابن المنذر وابن أبى حاتم عن ابن عباس فى قوله :” اذكروا الله ذكرا كثيرا”.يقول لا يفرض الله تعالى على عباده فريضة الا جعل لها حدا معلوما ثم عذر أهلها فى حال عذر غير الذكر فان الله تعالى لم يجعل له حدا ينتهى اليه ولم يعذر أحدا فى تركه الا مغلوبا إلى عقله.فقال: اذكروا الله قياما وقعودا وعلى جنوبكم بالليل والنهار فى البحر والبر فىالسفر والحضر فى الغنى والفقر والصحة والسقم والسر والعلانية وعلى كل حال – الى ان قال- فرب ذاكر ورب ذاكر متحرك.الحركة تذهب خشوعه فالسكون أولى, ورب ذاكر أو قارئ يستوى عنده الحالان فيفعل ما شاء و الله يهدى من يشاء الى صراط مستقيم, ولكل وجهة هو موليها فاستبقوا الخيرات.اهـ

Ada sebuah riwayat hadits yang artinya:- “Berkata Rasulullah s.a.w. kepada ‘Ali kw.: “Dengarkan perkataanku tiga kali, kemudian tirukan tiga kali dan aku mendengarkannya”. Lalu Rasulullah s.a.w. mengucapkan ‘La ilaha illa Allah’ tiga kali dengan menoleh ke kanan pada kalimah nafi dan menoleh ke kiri dalam kalimah itsbat sambil memejamkan matanya.
Demikian juga tentang gerakan badan secara spontan yang biasa dijumpai pada saat berdzikir, hukumnya adalah boleh. Karena gerakan itu merupakan reaksi spontan yang wajar ketika perasaan sedang terbawa oleh bacaan dzikir. Lihat: Bariqoh Mahmudiyah juz IV hal. 139 – 140, Mausu`ah Yusufiah hal 175.
Wallhu’alam
Sumber : http://www.islam-institute.com.

MERUGI KARENA ATURAN, DILEMA PENGUSAHA HIBURAN MALAM DI BULAN RAMDHAN



Marhaban ya Ramdhan, Ramadan sudah di depan mata. Semua umat muslim mulai bersiap menyambut bulan suci yang jatuh tiap satu tahun sekali itu.

Tak hanya fisik, batin pun harus dipersiapkan agar bulan penuh rahmat itu tak sia-sia. Untuk mendukung kekhusyukan umat muslim Jakarta beribadah di bulan puasa, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mewajibkan seluruh tempat hiburan malam tutup selama Bulan Ramadan dan jika tetap membandel akan disegel.


Tempat-tempat tersebut meliputi diskotek, bar, spa, dan panti pijat. Perintah itu dituangkan dalam Surat Edaran Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Nomor 35/SE/2013 tentang Waktu Penyelenggaraan Industri Pariwisata pada Bulan Suci Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri Tahun 1434 Hijriah/2013.


Meski mengaku berat menjalankan aturan tersebut, tempat hiburan malam di Jakarta akan mentaatinya. Sebab, aturan tersebut sudah tiap tahun dijalankan di Ibu Kota.


"Kita akan ikuti, karena surat edaran dari Dinas Pariwisata itu merupakan turunan dari Perda No 10 Tahun 2004. Kita sudah sepakat itu harus seperti itu," kata Ketua Asosiasi Hiburan Malam Adrian Maulite.


Menurutnya, dari total 1.799 tempat hiburan di Jakarta, 898 lokasi atau 50 persennya masuk kategori ditutup selama satu bulan penuh. Sementara, sekitar 540 tempat hiburan atau sekitar 30 persen, masuk kategori diatur jam operasionalnya, yakni buka mulai pukul 20.30 WIB hingga 01.30 WIB.


Tempat itu meliputi tempat karaoke dan live music. Sedangkan sisanya, 361 tempat hiburan atau sekitar 20 persen tetap buka seperti biasa. Tempat itu antara lain, hotel, restoran, penginapan, restoran, bioskop, dan karaoke. Seringkali kategori yang dimaksud tidak difahami oleh sebagian ormas yang melakukan sweeping (sweeping liar) karena aparat Kepolisianlah yang berwewenang untuk melakukan sweeping, tapi diberbagai media ormas sudah mengancam : jika kepolisian mandul,  ormas yang akan melakukan sweeping


Berdasarkan pengalaman di tahun-tahun yang lalu, dia mengakui masih ada pengusaha hiburan malam yang membandel. Namun, menurutnya pelanggaran tersebut tidak disengaja. Misalnya beroperasi melebihi waktu yang telah ditentukan.


"Biasanya lalai saja, karena melanggar jam tayang. Kalau sudah satu jam, dua jam, itu sudah pelanggaran," katanya.


Pihaknya berjanji akan menindak tegas tempat hiburan yang membandel tidak mengikuti aturan Pemprov DKI di bulan Ramadhan akan disegel.


"Ada sanksi berdasarkan kategori pelanggarannya dan akan diproses setelah Ramadhan. Kalau pelanggarannya berat, kita bisa minta izinnya dicabut," katanya.


Dia mengaku selama Ramadan, omset yang diperoleh akan menurun secara drastis. Namun, apa boleh buat, pihaknya harus mengikuti aturan yang ada. "Itu risiko bisnis," katanya.


Sementara, mengenai nasib para karyawan tempat hiburan malam yang tutup selama Ramadan, pihaknya akan meliburkannya selama sebulan penuh. Namun, dia berjanji para karyawan tersebut akan tetap mendapatkan haknya.


"Mereka akan tetap diberikan gaji satu bulan penuh, selain itu mereka juga akan diberikan THR ke semua karyawan," katanya ".

GUBERNUR NTB INTRUKSIKAN PENERTIPAN TEMPAT HIBURAN MALAM




Mataram (ANTARA News) - Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) TGH M Zainul Majdi menginstruksikan pengaturan penertiban tempat hiburan malam sehubungan dengan bulan suci Ramadhan agar tidak memunculkan masalah, seperti konflik antarkelompok di masyarakat.


"Gubernur menyampaikan instruksi itu saat memimpin rapat koordinasi dengan seluruh pimpinan SKPD (satuan kerja perangkat daerah) lingkup Pemprov NTB, Jumat (5/7)," kata Kabag Humas dan Protokol Setda NTB Tri Budiprayitno di Mataram, Minggu.

Ia mengatakan gubernur menghendaki SKPD terkait meningkatkan koordinasi dengan aparat keamanan jika hendak melakukan penertiban tempat hiburan malam, sehubungan dengan ibadah puasa.

Gubernur NTB periode 2008-2013 yang terpilih kembali untuk periode keduanya pada pilkada 13 mei 2013 itu tidak menghendaki organisasi massa (ormas) dan pihak lain selain aparat yang berwenang melakukan "sweeping" tempat hiburan malam, karena rentan konflik sosial.

Karena itu, dipandang penting untuk mengatur tata cara penertiban tempat hiburan malam terkait puasa di bulan Ramadhan, agar terhindar dari kemungkinan konflik antarkelompok masyarakat.

"Itu sedang ditindaklanjuti pimpinan SKPD terkait, seperti Satpol PP dan Kesbangpoldagri, dan diharapkan dukungan dari berbagai pihak demi kenyaman dan ketentraman hidup masyarakat di daerah ini," ujarnya.

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, kelompok mahasiswa atau organisasi kepemudaan berbasis keagamaan, sering melakukan unjuk rasa menuntut penertiban tempat hiburan malam selama pelaksanaan ibadah puasa.

Kelompok mahasiswa yang tergabung dalam Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) NTB merupakan salah satu ormas yang bersikeras menuntut penertiban tempat hiburan malam itu. 

JIKA APARAT MANDUL, FPI AKAN SWEEPING TEMPAT HIBURAN MALAM



Sweeping tempat-tempat hiburan malam di saat bulan puasa kerap kali dilakukan oleh organisasi massa (Ormas). Cara itu dilakukan karena ormas merasa gerah dengan aktivitas di bulan suci.

Jauh-jauh hari pihak kepolisian sudah mewanti-wanti agar ormas tidak main hakim sendiri. Jika memang masih ada tempat hiburan bandel, ormas diminta melaporkannya kepada pihak berwajib.

"Diharapkan kepada ormas-ormas untuk tidak melakukan langkah-langkah sendiri, harus diserahkan kepada petugas kita yang berada di lapangan. Berikan kesempatan kepada petugas aparatur negara untuk melakukan itu," kata Karo Penmas Mabes Polri, Brigjen Boy Rafli Amar.

Salah satu ormas yang getol melakukan sweeping adalah Front Pembela Islam. Bahkan, sering kali sweeping dilakukan secara anarkis dengan melakukan perusakan dan kekerasan.

Ketua DPP Front Pembela Islam (FPI) DKI Jakarta, Habib Salim Alatas mengatakan, jika FPI mengambil tindakan bukan berarti tanpa ada langkah sebelumnya. Biasanya, kata Salim, FPI sudah melaporkan hal tersebut, namun tak direspons.

"Jika Polri dan Pemda mandul, maka FPI akan tetap monitor dan sweeping," katanya kepada merdeka.com, Sabtu (6/7).

Menurut Salim, sudah ada peraturan daerah yang melarang tempat hiburan malam untuk tidak beroperasi selama bulan suci Ramadan. Tetapi, sering kali larangan itu dilanggar karena tak ada sikap tegas dari aparat. 

"Kalau pejabat dan penjahat berkolaborasi dan kerjasama dalam maksiat, maka wajib disikat," tegas Habib Selon sapaan akrab Salim.

Beberapa kali FPI mengambil tindakan, kata Habib Selon, karena banyak masyarakat yang resah dengan tempat maksiat, judi dan dan panti pijat. "Masyarakat bergerak, ya FPI mendukung," tuturnya.

Untuk itu, Habib Selon meminta agar para pengusaha hiburan malam lebih menghormati datangnya bulan suci Ramadan. Pasalnya, di bulan-bulan biasa FPI tidak mengusik mereka.

"Tolong jangan bikin masalah. 11 Bulan kita diam, satu bulan hormatilah," tandasnya.

[has]


"MARZUKI ALIE" STOP HIBURAN MALAM SELAMA BULAN RAMADHAN













Ketua DPR Marzuki Alie menghimbau Pengusaha hiburan malam STOP sementara usahanya selama Bulan Puasa Ramadhan sebagai bentuk toleransi antar umat beragama dan meminta Ormas maupun LSM tidak melakukan kegiatan Sweeping liar. Selamat Datang Ramadhan, Marhaban ya Ramadhan.

 

KLAYAKAN JUDUL PENELIAN & KAJIAN PUSTAKA



A.     Kelayakan Judul Penelitian

Judul dapat ditetapkan sebelum segala sesuatu dipersoalkan. Tetapi umumnya judul ini baru ditetapkan setelah peneliti mengetahui seluk beluk persoalannya sesudah mengadakan orientasi baik secara literar maupun secara empirik (Margono, 2003: 59). Pemilihan judul akan menggambarkan tingkat kedalaman dan cakupan dari sebuah penelitian yang akan dibahas. Bagi pembaca judul akan dianggap mewakili bobot sebuah hasil penelitian yang akan ditulis, bahkan merupakan gambaran mutu tulisan yang akan digarap. Akan tetapi terlepas dari mana judul itu dimulai, yang sangat penting adalah sebagai berikut:

  • Bahwa judul harus sesuai dengan keseluruhan isi dari kegiatan penelitian yang dilakukan.
  • Judul penelitian hendaknya ditulis dalam bentuk kalimat yang efektif, ringkas, padat, berisi masalah, menarik, serta jelas maksudnya. Hendaknya dihindarkan penggunaan kata-kata yang kabur, bertele-tele, tidak runtut, lebih dari satu kalimat, judul yang terlalu ringkas dan terlalu panjang
  • Judul penelitian diungkapkan dalam kalimat yang simpel, tetapi mampu menunjukkan dengan jelasindependent variable dan dependent variable-nya Disamping variabel yang biasanya ada dalam judul penelitian adalah subjek, lokasi dan tahun penelitian.
  • Judul yang dipilih hendaknya memiliki signifikansi sebagai karya ilmiah, baik dilihat dari segi kebutuhan akademis (menjanjikan temuan teoritis) maupun dari segi praktis (sebagai problem solving). Jangan sampai sebuah penelitian kurang memberikan janji atas kontribusi baik dalam wacana pemikiran ataupun deskripsi empiris yang membutuhkan verifikasi kajian sejarah misalnya. Judul penelitian “Haji Indonesia Suatu Kajian 


Sejarah Tentang Perjalanan dan Pengaruhnya pada Abad Pertengahan Pertama Abad XX”, misalnya meskipun kajian seperti ini masih juga ada gunanya tetapi bobot kebutuhan informasi yang dijanjikan kurang memuat tema yang menantang atau urgen. Dengan kata lain, judul harus singkat, memikat, informatif, menjanjikan tema-tema aktual dalam bidangnya, dan disampaikan dalam bahasa yang jernih.
Judul penelitian merupakan gambaran dari “conceptual frame work” suatu penelitian bisa juga dikatakan bahwa judul merupakan kompas dalam penyusunan tulisan, dan judul penelitian merupakan satu kalimat pernyataan (statement), yang menggambarkan fenomena (kejadian) yang dipikirkan (dipermasalahkan), maksud, tujuan, metode penelitian dan situasi kondisi dimana masalah  itu terjadi.

B.       Kajian Pustaka

1.         Pengertian
Setelah masalah dirumuskan, maka selanjutnya adalah mencari teori-teori, konsep-konsep, generalisasi-generalisasi yang dapat dijadikan landasan teoretis bagi penelitian yang akan dilakukan. Landasan itu perlu ditegakkan agar penelitian itu mempunyai dasar yang kokoh, dan bukan sekedar perbuatan coba-coba. Oleh karena itu, untuk mendapatkan informasi mengenai berbagai hal yang disebutkan tersebut maka harus melakukan penelaahan kepustakaan. Pengertian kajian pustaka secara umum adalah bahasan atau bahan-bahan bacaan yang terkait dengan suatu topik atau temuan dalam penelitian (Setyosari, 2010: 72).
Dengan demikian sebuah kajian pustaka merupakan uraian atau deskripsi tentang literatur yang relevan dengan bidang atau topik tertentu. Ia memberikan tinjauan mengenai apa yang telah dibahas atau dibicarakan oleh peneliti atau penulis, teori-teori dan hipotesis yang mendukung, permasalahan penelitian yang diajukan atau ditanyakan, metodologi yang sesuai.

Secara garis besar dalam kajian pustaka sumber bacaan dapat dibedakan menjadi dua yaitu: 1) sumber acuan umum dan 2) sumber acuan khusus (Lufri, 2007: 47). Teori-teori dan konsep-konsep yang melandasi kajian pustaka ini pada umumnya dapat ditemukan dalam sumber acuan umum. Sumber acuan umum ini berupa kepustakaan yang berwujud buku teks, ensiklopedia dan sejenisnya. Di samping itu, peneliti dapat menggunakan generalisasi-generalisasi yang didapatkan dari hasil penelitian terdahulu. Hasil-hasil penelitian itu pada umumnya ditemukan dalam sumber acuan khusus, misalnya: skripsi, tesis, disertasi, jurnal, buletin penelitian. Penggunaa sumber acuan atau summber pustaka itu harus berssifat selektif, artinya tidak semua bahan pustaka itu ditelaah untuk menjadi landasan dalam penelitian.

2.        Tujuan Kajian Pustaka
Melakukan kajian pustaka merupakan salah satu cara atau saranauntuk menunjukkan pengetahuan penulis tentang suautu bidang kajian tertentu, yang mencakup kosakata, metode, dan asal usulnya. Di samping itu, sebuah kajian pustaka memberikan informasi kepada para pembaca tentang peneliti dan kelompok peneliti yang mempunyai pengaruh dalam suatu bidang tertentu, misalnya dalam bidang pembelajaran, evaluasi, teknologi pembelajaran, sains dan seterusnya.
Dalam kaitannya dengan kajian pustaka Hart memberikan pandangan lebih jauh tentang alasan-alasan perlunya melakukan kajian pustaka, yaitu sebagai berikut:
  • Membedakan apa yang telah dilakukan dan apa yang perlu dilakukan
  • Menemukan variabel-variabel penting yang relevan dengan masalah
  • Mengidentifikasi hubungan antara gagasan dan praktek
  • Menyintesis dan memperoleh suatu perspektif baru
  • Menentukan onteks topik atau permasalahan
  • Merasionalisasikan pentingnya masalah
  • Memahami struktur isi
  • Mengaitkan ide dan teori dengan penerapan


3.        Kriteria Pemilihan Kajian Pustaka
Untuk menilai sumber-sumber pustaka yang akan dipakai sebagai acuan dalam tinjauan kepustakaan, peneliti dapat menggunakan suatu kriteria.kriteria untuk menilai penggunaan dan kehadiran kajian pustaka menurut Tuckman (1988) tersebut mencakup sebagai berikut:

Ketepatan
Sumber pustaka yang menjadi pijakan pembahasan yang dipilih harus memiliki kriteria ketepatan, artinya sumber tersebut dipilih sesuai dengan derajat kesesuaian antara masalah dengan sumber pendukungnya, atau variabel penelitian yang sedang dikaji sesuai betul dengan referensi yang menjadi rujukan.

Kejelasan
Hal kejelasan ini sangat terkait dengan apakah si peneliti dapat memahami betul hal-hal yang menjadi perhatiannya. Dalam hal ini peneliti memahami masalah atau variabel penelitian.
Empiris Atau Alamiah

Berkenaan dengan kriteria empiris ini sangat terkait dengan temuan aktual (temuan lapangan) yang didapatkan bukan pendapat semata. Dukungan empiris yang berasal dari lapangan secara reliabel dan shahih dapat meningkatkan keakuratan kajian.

Kemutakhiran
Kemutakhiran ini terkait dengan penutipan dari sumber-sumber yang terbaru, up to date. sumber-sumber terbaru biasanya berdasarkan pada hasil-hasil penelitian terkini pula.

Relevansi
Relevansi ini terkait dengan kutipan-kutipan yang berhubungan dengan variabel-variabel dan hipotesis-hipotesis yang jadi perhatian peneliti.

Organisasi
Kriteria penilaian yang terkait dengan organisasi ini adalah berkenaan dengan keberadaan kajian pustaka atau literatur itu disusun secara baik yang mencakup pendahuluan, bagian dan ringkasan. Penataan atau penyusunan tata tulis dilakukan secara sistematis sehingga terjadi hubungan logis.

Meyakinkan
Perihal ini berkenaan dengan apakah kajian pustaka itu membantu peneliti atau penulis memahami benar masalahnya sehingga mampu menyakinkan orang lain.

4.        Klasifikasi Kajian Pustaka
Berkenaan dengan kriteria pemilihan sumber pustaka, Cooper (1998) mengajukan 6 kriteria penilaian kajian literatur dalam suatu taksonomi sebagaimana yang tertera pada tabel berikut:

Karakteristik
Kategori
Fokus (focus)
Hasil Penelitian (research outcomes)
Metode Penelitian (research methods)
Teori (theories)
Praktik atau pelaksanaan (practies or applications)
Tujuan (Goals)
Integrasi:
Generalisasi (generalization)
Penyelesaian Konflik ( conflict resolution)
Kritik (critism)
Identifikasi Isu-Isu Sentral (Identification of central issues)
Perspectif (perspective)
Representasi (neutral representation)
Dukungan (espousal of position)
Cakupan (Coverage)
Kelengkapan atau kedalaman (exhaustive)
Kelengkapan selektif (exhaustive with selective citation)
Representasi (representative)
Pusat perhatian (central of pivotal)
Organisasi (organization)
Bersifat historis (historical)
Bersifat kenseptual (conceptual)
Berkenaan dengan metodologi (methodological)
Audiensi (Audience)
Pakar dalam bidang khusus (specialized scholars)
Pakar dalam bidang umum (general scholars)
Praktisi datu pembuat kebijakan (practitioners or policymakers)
Mayarakat umum (general public)

Fokus
Berkenaan dengan fokus ini ada 4 hal penting yaitu: 1). Hasil penelitian, yang berorientasi pada hasil yang membantu dalam mengidentifikasi kekurangan atau kelemahan informasi pada hasil tertentu. 2). Metode penelitian, hal ini bermaksud untuk mengidentifikasi variabel utama atau kunci, pengukuran dan metode analisis, dan menginformasikan hasil-hasil penelitian. 3). Teori, yang menentukan teori-teori mana yang ada, yang berhubungan dengan pustaka yang ada, dan seberapa besar sumbangan teori yang ada pada penelitian.

 4). Yang berkaitan dengan praktek atau aplikasi

Tujuan
Tujuan dari berbagai macam kajian literatur adalah ingin mengintegrasikan dan menggeneralisasikan temuan-temuan yang ada. Dalam penelitian lain kajian mungkin bertujuan untuk menganalisis secara kritis penelitian sebelumnya, mengidentifikasi isu-isu sentral, atau secara eksplisit menjelaskan keselarasan argumen dalam suatu bidang kajian tertentu.

Perspektif
Dalam penelitian kualitatif, kajian yang dilakukan oleh peneliti sering kali dipakai untuk mengungkapkan subjektivitas yang dimiliki oleh peneliti dan mendiskusikan seberapa jauh subjektivitas mempengaruhi kajian atau penelitian.

Cakupan Isi
Berkenaan dengan cakupan isi, Cooper mengajukan 4 hal yaitu: 1). Kajian menyeluruh atau lengkap, artinya kajian yang memberikan tempat pada satu topik tertentu. 2). Kajian secara lengkap dan selektif. 3). Cakupan isi mempertimbangkan rujukan artikel yang diambil secara sampel representatif. 4). Sentral kajian.

Organisasi
Ada banyak format untuk diorganisasikan dalam sebuah kajian pustaka diantaranya adalah: 1). Format historis, kajian diorganisasikan menurut urutan waktu. 2) format konseptual, artinya kajian diorganisasikan menurut konsep tertentu. 3) format yang berkenaan dengan metodologi

Audiensi
5.        Peranan Kajian Pustaka Dalam Penelitian
Penelusuran atau pencarian kepustakaan yang relevan seyogyanya dilakukan sebelum kegiatan atau pelaksanaan penelitian itu berjalan. Kepustakaan atau literatur yang dijadikan landasan dalam kajian teori ini akan memilikii arti dalam mempertimmbangkan cakupan penelitian yang sedang dilakukan.studi kepustakaan ini memiliki peranan (Iskandar, 2009: 51) sebagai berikut:
Pengetahuan tentang penelitian yang berkaitan memungkinkan peneliti menetapkan batas-batas bidang penelitiannya.

Pemahaman teori dalam suatu bidang memungkinkan peneliti itu menempatkan masalah dalam perspektifnya
Melalui kajian pustaka yang relevan, para peneliti dapat mengetahui prosedur dan instrumen mana yang telah terbukti berguna dan mana yang kurang
Pengkajian atau studi yang cermat terhadap kajian pustaka yang relevan dapat menghindarkan terjadinya pengulangan studi sebelumnya
Pengkajian pustaka yang berkaitan menempatkan si peneliti pada posisi yang baik untuk menafsirkan arti pentingnya hasil penelitiannya sendiri.

KEPUSTAKAAN
  • Iskandar. 2009. Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial. Jakarta: Gaung Persada Press
  • Lufri. 2007. Kiat Memahami Metodologi dan Melakukan Penelitian. Padang: UNP Press
  • Margono. 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta
  • Punaji Setyosari. 2010. Metode Penelitian Pendidikan dan Pengembangan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Sumber : http://tepenr06.wordpress.com

ANALISIS KONTEN DAN TUJUAN



Disain pembelajaran adalah suatu prosedur yang terdiri dari langkah-langkah,dimana langkah-langkah tersebut di dalamnya terdiri dari analisis, merancang, mengembangkan, menerapkan dan menilai hasil belajar (Seels & Richey, AECT 1994). Hal tersebut juga dikemukakan oleh Morisson, Ross & Kemp (2007) yang mendefinisikan desain pembelajaran sebagai suatu proses desain yang sistematis untuk menciptakan pembelajaran yang lebih efektif dan efisien, serta membuat kegiatan pembelajaran lebih mudah, yang didasarkan pada apa yang kita ketahui mengenai teori-teori pembelajaran, teknologi informasi, sistematika analisis, penelitian dalam bidang pendidikan, dan metode-metode manajemen.Tujuan sebuah desain pembelajaran adalah untuk mencapai solusi terbaik dalam memecahkan masalah dengan memanfaatkan sejumlah informasi yang tersedia.
Dengan demikian, suatu desain muncul karena kebutuhan manusia untuk memecahkan suatu persoalan yang  dihadapi. Menurut Morisson, Ross & Kemp (2007) terdapat empat komponen dasar dalam perencanaan desain pembelajaran. Keempat hal tersebut mewakili pertanyaanpertanyaan berikut:
1. Untuk siapa program ini dibuat dan dikembangkan? (karakteristik siswa atau
peserta ajar)
2. Anda ingin siswa atau peserta ajar mempelajari apa? (tujuan)
3. Isi pembelajaran seperti apa yang paling baik untuk dipelajari? (strategi
pembelajaran)
4. Bagaimanakah cara anda mengukur hasil pembelajaran yang telah dicapai?
(prosedur evaluasi)
Lembar Informasi
B. Identifikasi masalah
Sebelum kita memulai desain pembelajaran, kita harus bertanya terlebih dahulu mengapa kita memerlukan pengajaran? Dalam kondisi seperti apakah yang disarankan untuk melakukan pengajaran itu? untuk lebih jelasnya, mari kita tinjau contoh berikut: Nilai rata-rata yang diperoleh kelas tujuh dalam mata pelajaran Teknologi Informasi dan komunikasi di kota Padang di bawah rata-rata nilai yang telah ditetapkan. Situasi seperti ini menunjukkan bahwa siswa tidak memperoleh hasil seperti yang diharapkan. Oleh sebab itu, untuk membantu meningkatkan nilai mereka, banyak cara yang bisa dilakukan, salah satunya yaitu dengan menambahkan satu atau dua unit pengajaran lagi. Tetapi, apakah dengan menambah pengajaran itu dapat
memecahkan permasalahan yang sedang dihadapi?
Disinilah tahap pengidentifikasian masalah dilakukan, untuk mengetahui apakah pengajaran yang dilakukan bisa dijadikan bagian dari solusi masalah yang ada. Sekali kita tahu akar permasalahannya, maka kita dapat mengetahui pengajaran seperti apakah yang dapat memecahkan persoalan tadi, dan seorang desainer
pembelajaran harus sudah dapat menentukan cara yang paling sesuai dan tepat. Untuk itu para desainer dapat menggunakan salah satu atau kombinasi dari ketiga bentuk pendekatan yang berbeda-beda berikut dalam mengidentifikasi masalah, yaitu:
a. Analisis Kebutuhan
Dalam konteks pengembangan kurikulum, John McNeil (1985) mendefinisikan analisis kebutuhan sebagai suatu proses yang menentukan kebutuhan dalam pendidikan dan apa yang menjadi prioritasnya. Kebutuhan yang diartikan sebagai suatu kondisi dimana terdapat suatu kesenjangan antara apa yang
diterima oleh siswa dengan apa yang diharapkan diterima oleh siswa.
Pengertian tersebut sejalan dengan apa yang dijelaskan oleh Seels dan Glasgow (1990) yang menyatakan bahwa analisis kebutuhan adalah proses mengumpulkan informasi tentang kesenjangan dan menentukan prioritas dari kesenjangan tersebut untuk dipecahkan. Berdasarkan pengertian di atas disebutkan bahwa analisis kebutuhan adalah suatu proses artinya ada rangkaian kegiatan dalam pelaksanaannya. Proses
yang diawali dengan perencanaan, mengumpulkan data, menganalisa, dan berakhir pada mempersiapkan laporan akhir.
fungsi, diantaranya adalah:
1. Proses untuk mengidentifikasi kebutuhan yang relevan dengan tugas-tugas tertentu, yaitu masalah apa yang mempengaruhi performance.
2. Proses untuk mengidentifikasi kebutuhan yang bersifat kritis, termasuk kebutuhan yang mempengaruhi dari segi financial, keselamatan, atau mengganggu stabilitas lingkungan pendidikan.
3. Proses untuk menyusun prioritas guna menyeleksi suatu intervensi.
4. Proses yang menyediakan data dasar untuk menguji efektifitas suatu pembelajaran.
Tahap 1:
>>>Perencanaan
Tahap 2:
>>>Mengumpulkan data
Tahap 3:
>>>Menganalisa
Tahap 4:
>>>Laporan Akhir
b. Analisis Tujuan
Kadang-kadang pendekatan analisis kebutuhan tidak praktis dan realistis, oleh sebab itu biasa digunakan pendekatan alternatif lainnya untuk mendefinisikan masalah, yaitu analisis tujuan. Mager (1984a) mendeskripsikan analisis tujuan sebagai suatu metode untuk mendefinisikan yang tidak terdefinisikan. Beberapa desainer menganggap analisis tujuan sebagai suatu bagian penting dalam proses analisis kebutuhan. Tidak seperti analisis kebutuhan yang dimulai dengan mengidentifikasi masalah, analisis tujuan dimulai dengan memberikan saran berupa suatu permasalahan. Misalnya, seorang kepala sekolah memintamu untuk mengatur suatu pelatihan internet bagi guru di sekolahnya. Ketika anda tidak mengenal para guru, anda dapat menghadiri pertemuan fakultas keguruan misalnya dan mengadakan analisis tujuan untuk menentukan apa yang para guru inginkan dalam pelatihan itu.
Analisis tujuan juga dapat menggunakan data dari analisis kebutuhan untuk menyusun prioritas. Misalnya, analisis kebutuhan mengidentifikasi kebutuhan untuk melaksanakan pelatihan internet bagi para guru. Dari data tersebut, analisis tujuan akan menggunakan kebutuhan tersebut serta mewawancara kegiatan pelatihan itu untuk menentukan tujuan pengajaran. Sejalan dengan Klein, dkk (1971) dan Mager (1984a), Morisson dkk (2007) memaparkan ada enam tahapan dalam analisis tujuan, diantaranya:
(1) identifikasi tujuan, dengan mengikutsertakan para ahli yang memahami permasalahan yang sedang dihadapi untuk menentukan satu atau dua tujuan yang berhubungan dengan kebutuhan tadi. Suatu tujuan yang mengarahkan kita pada permasalahan yang ada;
(2) menyusun hasil yang ingin dicapai, artinya membiarkan para ahli tadi untuk membuat sejumlah hasil yang ingin dicapai untuk setiap tujuan yang sudah dibuat. Hasil tersebut harus mengidentifikasikan sikap yang ditunjukkan siswa;
(3) memperbaiki hasil, tahap ini adalah tahap utama penyeleksian, seperti sorot semua hasil yang ada dan hapus jika ada yang double, kombinasikan hasil yang serupa dan lain sebagainya untuk memperjelas pernyataan hasil akhirnya;
(4) mengurutkan hasil, urut dan pilihlah hasil yang paling penting. Mengurutkannya itu bisa berdasarkan manfaatnya, hal-hal yang dapat menyebabkan masalah jika hal tersebut diabaikan, atau criteria-kriteria yang
relevan lainnya.
(5) memperbaiki hasil kembali, tahap ini memverifikasi kebutuhan yang ada dan hasil yang ingin dicapai memiliki saling keterkaitan dengan tugasnya, yaitu dengan cara mengidentifikasikan kesenjangan antara
hasil yang ingin dicapai dengan kenyataan yang ada.
(6) membuat final ranking, maksudnya mengurutkan kembali urutan hasil yang ingin dicapai dengan mempertimbangkan seberapa penting hasil yang ingin dicapai itu dapat mendukung pengajaran, kemudian mempertimbangkan pula efek secara keseluruhan dari hasil tadi.
Dalam konteks pendidikan, tujuan merupakan persoalan tentang misi dan visi suatu lembaga pendidikan. Artinya, tujuan penyelenggaraan pendidikan diturunkan dari visi dan misi lembaga, dan sebagai arah yang harus dijadikan rujukan dalam proses pembelajaran. Komponen ini memiliki fungsi yang sangat penting dalam sistem pembelajaran. Kalau diibaratkan, tujuan pembelajaran adalah jantungnya, dan suatu proses pembelajaran terjadi manakala terdapat tujuan yang harus dicapai.
Setiap guru perlu memahami dan terampil dalam merumuskan tujuan pembelajaran, karena rumusan tujuan yang jelas dapat digunakan untuk mengevaluasi efektifitas keberhasilan proses pembelajaran. Suatu proses
pembelajaran dikatakan berhasil manakala siswa dapat mencapai tujuan secara optimal. Keberhasilan pencapaian tujuan merupakan indikator keberhasilan guru merancang dan melaksanakan proses pembelajaran. Tujuan pembelajaran juga dapat digunakan sebagai pedoman dan panduan kegiatan belajar siswa dalam
melaksanakan aktifitas belajar. Berkaitan dengan hal tersebut, guru juga dapat merencanakan dan mempersiapkan tindakan apa saja yang harus dilakukan untuk membantu siswa belajar.
Tujuan pembelajaran membantu dalam mendesain sistem pembelajaran. Artinya, dengan tujuan yang jelas dapat membantu guru dalam menentukan materi pelajaran, metode atau strategi pembelajaran, alat, media dan sumber belajar, serta dalam menentukan dan merancang alat evaluasi untuk melihat keberhasilan belajar siswa. Selain itu, tujuan pembelajaran juga dapat digunakan sebagai control dalam menentukan batas-batas dan kualitas pembelajaran. Artinya, melalui penetapan tujuan, guru dapat mengontrol sampai mana siswa
telah menguasai kemampuan-kemampuan sesuai dengan tujuan dan tuntutan kurikulum yang berlaku. Lebih jauh dengan tujuan dapat ditentukan daya serap siswa dan kualitas suatu sekolah.
c. Analisis performance
Mager (1984b) mendeskripsikan analisis performance sebagai suatu bantuan untuk mengidentifikasi masalah performance. Rosetti (1999) mendeskripsikan proses ini sebagai pencarian sumber masalah. Analisis ini membantu untuk memutuskan apakah hasil pelatihan itu benar-benar dialamatkan pada masalah agar diselenggarakannya pelatihan atau karena adanya intervensi lain yang lebih mengena. Kebutuhan atau masalah individu ataupun suatu organisasi sering berubahubah, masalah hari ini belum tentu sama dengan masalah yang akan dihadapi satu atau enam bulan yang akan datang. Oleh sebab itu, analisis kebutuhan, analisis tujuan dan analisis performance sering dibatasi oleh waktu dan harus selalu diperbaharui.

Pertanyaan selanjutnya, kapan desainer pembelajaran melakukan analisis terhadap permasalahan yang ada? Roseti (1999) mengidentifikasi ada 4 peluang untuk mengidentifikasi masalah yang muncul, diantaranya pada saat memperkenalkan atau menyambut suatu produk baru. Kesempatan kedua yaitu pada saat merespon permasalahan yang terjadi. Ketiga, pada saat menyadari adanya kebutuhan untuk mengembangkan kompetensi sumber daya manusia, sehingga mereka selalu dapat berkontribusi kepada pertumbuhan suatu
organisasi. Dan yang keempat adalah pengembangan strategi, dimana suatu analisa dapat memberikan informasi yang bermanfaat untuk membuat keputusan dalam merencanakan suatu strategi.
Sumber : http://tepenr06.wordpress.com