SHARE DAN BERBAGI DALAM KOMUNITAS SOSIAL MEDIA INDONESIA

SHARE DAN BERBAGI DALAM KOMUNITAS SOSIAL MEDIA INDONESIA

SHARE DAN BERBAGI DALAM KOMUNITAS SOSIAL MEDIA INDONESIA

SHARE DAN BERBAGI DALAM KOMUNITAS SOSIAL MEDIA INDONESIA

SHARE DAN BERBAGI DALAM KOMUNITAS SOSIAL MEDIA INDONESIA

KAKURU FARE MPESA - CARA TRADISIONAL BIMA MEMILAH GABAH


Angin adalah sekumpulan udara yang bergerak karena adanya tekanan udara hingga bergerak dari suhu rendah ke suhu tinggi. Tidak jarang, tiba-tiba kekuatan angin pun sangat kencang, membentuk angin topan yang mengobrak abrik hingga melululantahkan segalanya.

Meskipun demikian, Angin juga bermanfaat banyak bagi kehidupan manusia seperti , penggerak kincir angin hingga menghasilkan energi listirik, atau penggerak perahu layar hingga bisa mengarungi luasnya samudera dan masih banyak lagi manfaat lainnya.

Tiupan angin sepoi-sepoi yang menerpa pemukiman masyarakat bisa memberikan kesejukan tersendiri dari cuaca yang begitu panas berubah menjadi sejuk bahkan tidak kalah sejuknya dengan air conditioner (AC), namun bagi masyarakat di Desa Palama, Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima NTB, Angin menjadi berkah bagi mereka, terlebih pada saat musim panen padi.

Sebagian besar masyarakat Palama yang menggantungkan hidup dari bertani, memanfaatkan angin untuk memilah gabah secara tradisional guna mendapatkan gabah pilihan, karena tidak jarang pada saat panen, gabah yang berisi bercampur dengan gabah yang tidak berisi biji padi (Mpesa) Bahasa Bimanya.

Memanfaatkan angin untuk memilah gabah cukup sederhana yaitu, Sejumlah gabah yang dijemur sudah mengering, dikumpulkan dan ditaruh dalam penampik beras yang terbuat dari bambu kemudian diangkat sejajar dengan kepala, lalu sedikit demi sedikit di tuangkan pada terpal yang sudah disediakan dibawahnya, Pada saat penuangan inillah, gabah yang tidak berisi tadi akan tertiup angin, sehingga yang tersisa hanyalah gabah-gabah yang berisi biji padi.

Walau terlihat cukup mudah, pekerjaan Kakuru Fare membutuhkan Ketelitian, Ketekunan dan Kesabaran, Jika tidak, semuanya malah menjadi berantakan. Selain itu, salah satu faktor pendukung yang menjadikan pekerjaan ini lancar adalah tiupan angin, maka tidaklah heran, asal ada angin, mereka rela berlama-lama di tengah teriknya matahari hingga pekerjaannya selesai. Lantas bagaimana kalau tidak angin?
Salah seorang Ibu, Nurjana alias Ina Janu (40) mengatakan, Kalau tidak ada angin terpaksa menggunakan kipas angin yang berarti harus mengeluarkan biaya tambahan untuk bayar listrik, padahal gabah yang dihasilkan tidak seberapa, makanya kami selalu berharap pada saat panen padi, cuaca mendukung dan selalu ada angin, Imbuhnya.

Apakah Ina Janu tidak capek melakukan Kakuru Fare?
Capek ya sudah pasti capeklah, kata dia, Namun bagi kami sudah terbiasa dan inilah tantangan hidup yang harus dijalani, Asal jangan pernah mengeluh, Cintai saja pekerjaannya maka seberat apapun pekerjaan, semua akan menjadi ringan dan mudah, kata wanita yang terlihat lebih tua dari umur yang sebenarnya ini.

Apa harapan Ina Janu pada Pemerintah?

Sebenarnya kami tidak ingin terjebak dengan cengkaraman para tengkulak dan kami sadar dari segala sebab dan akibatnya tetapi bagaimana lagi? Tengkulak itu bagai dewa penolong tapi semuanya hanya sesaat dan selebihnya mereka menari-nari diatas penderitaan kami, Untuk itu kami mengharapkan pemerintah turun tangan, tidak sekedar wacana atau janji-janji, tetapi berbuatlah yang nyata dengan mengelola hasil panen kami entah bagaimanapun caranya, agar kami bisa menikmati hasil panen, cukup setimpal dengan jerih payah yang kami kerahkan, Pungkasnya. (AB)

Abunawar Bima
abunawarbima@gmail.com

GUBERNUR NTB, MINTA JK SELESAIKAN DPD


Gubernur NTB, Muhammad Zainul Majdi, meminta Wakil Presiden, Jusuf Kalla agar perselisihan Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) segera di selesaikan karena Ia menyakini proses pemilihan di DPD itu menyalahi Tatib DPD 1/2017 yang sebenarnya sudah dibatalkan oleh MA, akan tetapi MA malah melantik pimpinan terpilih, Ini jelas-jelas MA melanggar aturannya sendiri, Tegasnya.

Wakil Ketua DPD, Farouk Muhammad, sampai hari ini bagi kami masih Wakil Ketua DPD. Kepada Pak Wapres kami menekankan, agar kisruh yang terjadi di DPD dapat diselesaikan dan Farouk tetap menjadi Wakil Ketua DPD, karena ini merupakan kehormatan bagi warga NTB, kata Zainul.

Seperti diketahui, Farouk Muhammad adalah Wakil Ketua DPD periode 2014-2019 dari daerah pemilihan NTB. Namun, jabatannya tersebut terancam, setelah Wakil Ketua Bidang Nonyudisial MA Suwardi, melantik tiga Pimpinan DPD periode 2017-2019 dalam sidang paripurna DPD yang dipimpin AM Fatwa, lembaga senator itu terlebih dulu mengubah beberapa poin dalam Tata Tertib Nomor 1/2017, Rapat sempat kisruh hingga larut malam, Selasa (4/4/2017)

Dalam pandangan pengamat hukum tata negara Refly Harun mengatakan, Proses pemilihan itu ilegal, Seharusnya setelah ada putusan MA yang membatalkan Tatib DPD Nomor 1/2017 tidak boleh lagi ada pemilihan pimpinan , tetapi MA malah melegalisasinya sehingga runyam jadinya, ujar Refly.

Lebih lanjut Refly mengatakan, anggota DPD yang tidak menyetujui terpilihnya ketua baru DPD dapat menggugat ke MK dengan dasar sengketa kewenangan lembaga negara. MK harus menyelesaikan kasus ini sebagai terobosan hukum, Jadi MK mesti berijtihad menyelesaikan’ Pungkasnya. (AB)


abunawarbima@gmail.com

TANAH PUTIH, BERBENAH UNTUK MENJADI JUARA


Masyarakat Tanah Putih Sape secara gotong royong dan dengan semangat yang penuh kekompakan merias desa mereka hingga terlihat Bersih, Indah dan Menawan. Kesiapan Aparat desa sangat serius, hal itu terlihat ketika Tim Penilai yang diketuai oleh Drs. Sirajuddin berkunjung ke Desa Tanah Putih, Senin (27/03/2017) disambut dengan antusias dan attraksi kesenian yang sangat meriah.

Kades Tanah Putih, Khaeruddin, S.Hut menjelaskan, bahwa Tanah Putih dengan luas wilayah 1.720 Ha, dengan jumlah penduduk sebanyak 1.444 Jiwa yang terbagi dalam 384 Kepala Keluarga, tersebar di tiga dusun.

Tanah Putih lanjut Khaeruddin, memiliki sejarah panjang dan setiap huruf dari nama desa memiliki makna tersendiri yaitu T: Taqwa, A:Amanah, N: No Narkoba, A: Aman dan H: Humanis. Sedangkan pada kata Putih adalah P: Pacu Pembangunan, U: Ulet atau tidak mudah putus Asa.T: Taat, I: Indah dan H: Hikmah atau bijaksana. Silakan Anda menggabungkannya sendiri , namun yang pasti kami ingin membangun peradaban Desa Tanah Putih sesuai makna-makna yang terkandung dalam kata-kata tersebut, imbuhnya.

Ditempat yang sama, Ketua Tim penilai, Drs Sirajuddin AP, MM menjelaskan, Sesuai Kepmendagri Nomor 81 tahun 2015, ada 14 indikator penilaian dalam lomba desa tahun 2017 ditambah dua indikator yang terbaru baru yaitu siaga bencana dan pemanfaatan tekhnologi informasi atau e government.

Lebih lanjut Sirajuddin mengatakan, Pemerintah desa dan masyarakat dituntut kesigapannya dalam menghadapi bencana, se iring dengan seringnya terjadi berbagai bencana, untuk itu kesigapan menghadapi bencana menjadi salah satu unsur penilaian. Demikian juga dengan penerapan tekhonologi informasi, mutlak diperlukan dalam rangka publikasi dan transparansi program dan kegiatan pembangunan di desa, Pungkasnya (AB)


abunawarbima@gmail.com

DESA PIONG, PENINGGALAN KERAJAAN SANGGAR BIMA NTB


Perpaduan birunya laut dengan hamparan hijaunya dedaunan dari aneka ragam pepohonan yang rindang dipesisir pantai Desa Piong, Kecamatan Sanggar, Kabupaten Bima NTB menyajikan pesona alam yang indah dan sangat menakjubkan.

Desa Piong memiliki aneka potensi alam seperti nener, rumput laut, Mutiara, Peternakan Sapi, Rusa, Madu dan sebagainya. Maka tidaklah heran sebagian besar masyarakatnya cukup terkenal dengan keahlian berburu rusa atau pawang Madu.

Sayangnya potensi alam yang cukup menjanjikan di Desa bekas kerajaan Sanggar ini, tidak didukung dengan pengembangan maupun perbaikan infrastruktur yang memadai, misalnya sepanjang Piong dan Labuan Kananga, jalanannya rusak parah, Sarana komunikasipun tidak ada.

Alokasi Dana Desa (ADD) untuk Desa yang berada di pesisi utara dan timur Gunung Tambora ini terus meningkat. Tahun 2015 mendapatkan alokasi Rp 1,1 miliar, 2016 Rp 1, 28 miliar dan tahun 2017 Rp 1, 48 miliar. Dana yang cukup besar, namun sarana dan prasarana masih jauh dari yang diharapkan. Mengapa?

Kepala Desa Piong, Mokhdalil HB mengakui, Desa Piong termasuk salah satu desa tertinggal, dan mendapatkan ADD tertinggi dari sejumlah desa lainnya yang ada di Kecamatan Sanggar, dengan jumlah penduduk 2.144 jiwa, yang terdiri dari empat dusun.

Sebagian besar penduduk menggantungkan hidup dari bertani, beternak, nelayan, mencari madu dan berburu rusa. Faktor cuaca menjadi penentu kelancaran hidup, jika cuaca terus menerus memburuk, dapur kamipun tidak bisa mengepul, barangkali itulah penyebabnya desa ini terus tertinggal, imbuhnya.

Jalur Akses Menuju Desa Piong.

Untuk akses ke Desa Piong, Bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua (Motor) dari Kota Bima, jarak tempuh sekitar satu setengah jam atau menggunakan Bus menuju Kore yang menghabiskan waktu sekitar dua jam lebih, dengan ongkos Rp.20 ribu/orang.

Dalam perjalanan menuju Kore pun tidak akan membosankan, sebab sepanjang perjalanan terpajang hamparan berbagai keindahan alam yang cukup mempesona, Lelah yah tetap lelah memang, tapi semuanya akan terobati setelah tiba di Desa Piong, segera nikmati gurihnya daging rusa plus minuman khusus dari Madu, Segala kepenatan yang dirasa, segera pulih kembali (AB)


abunawarbima@gmail.com

RIMPU, HIJAB ALA BIMA YANG MEMPESONA


Tamu BDSLcom Minggu ini, adalah Trio Ntika Bima, Tampilan mereka yang mempesona dengan Busana Hijab Ala Bima (Rimpu) menarik perhatian mata camera hingga membidiknya, Setelah di unggah, foto ini menjadi viral di Sosial Media. Siapa gerangan Trio Ntika?

Masih segar dalam ingatan saya, beberapa bulan lalu, di Tangerang City (11/12/2016) Aktor ternama Bung Rano Karno, sempat bisik-bisik cukup serius dengan Bung Hamdan Zoelva (Mantan Ketua MK), Apa yah gerangan yang mereka bisikin? Tidak harus menunggu lama untuk konfermasi ke Bung Rano, Pada saat menyampaikan sambutan dalam acara “Pawai Rimpu dan Pegelaran Seni Budaya Mbojo” Rano menyapa Warga Bima dengan ucapan, Bune Haba? Sontak seluruh hadirin menjawab ‘Haba Tahoooooo” Luar biasa, dan hanya itu yang saya tahu, kata Rano.

Saya juga baru tahu, itu juga setelah bisik-bisik dengan Bang Zoelva Lanjut Rano, bahwa kalau Rimpu hanya terlihat mata (sembari memperagakannya sendiri) itu tandanya masih perawan, tetapi kalau terlihat semua muka, itu tandanya sudah berkeluarga, Sayang yah, Tadinya saya mau cari gadis, ternyata semuanya sudah berkeluarga, Canda Rano membuat para undangan tak kuasa menahan tawa.

Sukses penyelengaraan acara tersebut, tidak lepas dari kerja keras Panitia Forum Komunikasi Kasabua Ade (FOKKA) yang berdarah-darah mengumpulkan dana demi terselenggaranya acara. Saya juga jadi teringat keangkuhan seorang penyanyi ternama asal Bima (tidak perlu saya sebutkan namanya) namun yang pasti, sosok yang sombong itu saat ini sedang trend dengan #AmpelaAyam.

Waktu itu Panitia berencana mendatangkan artis tersebut, nyatanya panitia harus gigit jari, Hanya tampil membawakan satu dua lagu, dipatok harga cukup mahal dan harus dibayar dimuka alias tunai. Benar-benar keterlaluan dan matanya benar-benar sudah buta, padahal acara tersebut jelas-jelas untuk mengangkat citra budaya Bima. Apa ia tidak ingat, alias lupa, lupa, lupa... betapa Masyarakat Dana Mbojo ramai-ramai mendukung pada saat ia menjadi kontestan D’Academy Indosiar? Air susu dibalas air Tuba, Sungguh terlalu.

Saya pun terseret emosi pada saat itu, hingga membuat tulisan keterkaitan dengan keangkuhan atau kesombongan Artis tersebut, Namun mempertimbangkan masukan dari berbagai tokoh dan saya pun menyadari, jangan karena mengurus satu orang, malah merusak citra seluruh Masyarakat Mbojo, Ahirnya tulisan yang sempat trend saat itu saya hapus. Selesaikah? Ternyata belakangan ini bikin ulah lagi, hingga menjadi viral dengan hastag #AmpelaAyam.

Maaf Pemirsa, Saya pun jadi ikutan buta hingga melenceng dari topik utama dengan tamu-tamu kita yang cantik, "Trio Ntika Bima", Siapakah Mereka? Biar tidak penasaran, Saya perkenalkan dulu yang paling kiri namanya Hani Incedolla, Jika anda sudah mengenal Hani, yang lainnya so pasti anda akan mengenalnya juga dan yang pasti, Hani adalah satu alumni dengan saya SMA1 Bima, saat ini bekerja di Balai Kota DKI (masih anak buahnya Ahok).

Ada banyak cerita sebenarnya, tetapi sengaja Hani pendam dan telan sendiri. Pernah Ia mau berbagi cerita, tetapi ceritanya malah menjadi blur karena Hani selalu menangis. Penasaran kan? Sepertinya cerita itu mengharu birukan, tunggu saja episode selanjutnya dan yang pasti... Hani Incedolla adalah Wanita Super yang cukup tabah, sabar dan tawakal dalam mewarnai hari-harinya di Kota Metropolitan.

Wassalam
Abunawar Bima

abunawarbima@gmail.com