SHARE DAN BERBAGI DALAM KOMUNITAS SOSIAL MEDIA INDONESIA

SHARE DAN BERBAGI DALAM KOMUNITAS SOSIAL MEDIA INDONESIA

SHARE DAN BERBAGI DALAM KOMUNITAS SOSIAL MEDIA INDONESIA

SHARE DAN BERBAGI DALAM KOMUNITAS SOSIAL MEDIA INDONESIA

SHARE DAN BERBAGI DALAM KOMUNITAS SOSIAL MEDIA INDONESIA

BUDIDAYA TANAMAN HORTIKULTURA

INSPIRASIMU SEMOGA MENJADI MOTIVASI BAGI SEMUA ORANG


Halim seorang petani muda yang saban hari waktunya dihabiskan di kebon yang ia garap dengan mode tanaman hortikultura walau pengetahuan tentang hortikultura itu sendiri masih relatif minim namun tidak mengurangi semangatnya untuk coba dan mencoba hingga membuahkan hasil seperti yang ia harapkan.

"Jangan takut gagal, katanya, karena dengan eksprimen yang gagal akan memberikan pembelajaran yang baik pada eksprimen berikutnya hingga tercipta inovasi baru yang ahirnya akan memetik hasil yang sempurna, Halim meyakinkan"

Hamparan tanaman tomat yang memenuhi kebon yang ia garap membuktikan ucapannya bahwa sesungguhnya alam ini memberi inspirasi dan menantang kita untuk memanfaatkannya dan jika mampu mengolahnya dengan baik akan menjadi sumber rejeki yang mensejahterakan kita semua, ujar Halim.

Mengelola tanaman hortikultura memang membutuhkan pengetahuan yang cukup, untungnya di era kemajuan tekhnologi saat ini, pengetahuan tentang hal tersebut sangat mudah kita dapatkan, browsing saja di-internet kemudian dipraktekin, asal kita telaten pasti bisa, tegasnya.

Tekhnologi bukan semata milik orang kota tapi sudah merambah di-pedesaan, bedanya kalau didesa masih banyak lahan yang bisa kita olah, katanya sembari menyodorkan catatan, ini lagi saya pelajari .

Catatan itu sebagai berikut :

Tanaman yang memerlukan tahap penyemaian biasanya yang mempunyai siklus panen menengah hingga panjang dan memiliki benih yang kecil-kecil. Untuk tanaman dengan siklus panen cepat seperti bayam dan kangkung, tahap penyemaian menjadi kurang ekonomis. 

Sedangkan untuk tanaman yang memiliki biji besar, sebaiknya ditanam dengan ditugal. Tanaman yang berbiji besar relatif tahan terhadap kondisi  lingkungan karena didalamnya telah terkandung zat yang berguna menopang awal pertumbuhan. Beberapa jenis hortikultura yang biasa disemaikan antara lain tomat, cabe, sawi, selada dan sebagainya.

Proses penyemaian memerlukan tempat dan perlakuan khusus yang berbeda dengan kondisi lapangan. Untuk itu diperlukan tempat persemaian yang terpisah dengan areal tanam. Tempat persemaian bisa dibuat permanen ataupun sementara. Media persemaian bisa berupa tray, tercetak, polybag atau bedengan biasa. Berikut ini tahapan-tahapan mempersiapkan media persemaian.

Menyiapkan media tanam

Hal pertama yang harus disiapkan adalah media tanam. Sebagai tempat benih/biji berkecambah media tanam ini harus terjamin dari segi ketersedian nutrisi, kelembaban dan struktur baik. Media persemaian yang alami terdiri dari campuran tanah dan bahan-bahan organik yang memiliki kandungan hara tinggi. Selain itu ketersediaan air dalam media persemaian harus mencukupi atau tingkat kelembaban yang relatif lebih tinggi dari areal tanam biasa.

Tanah yang baik untuk media persemaian diambil dari bagian atas (top soil). Sebaiknya ambil tanah dengan kedalaman tidak lebih dari 5 cm. Tanah yang baik merupakan tanah hutan, atau tanah yang terdapat di bawah tanaman bambu. Tanah tersebut memiliki karakteristik yang baik, terdiri dari campuran lempung dan pasir. Lempung benrmanfaat sebagai perekat media tanam sedangkan pasir bermanfaat untuk memberikan porositas yang baik.

Untuk memperkaya kandungan hara bisa ditambahkan dengan pupuk organik. Bisa berupa pupuk kandang yang telah matang atau pupuk kompos. Hal yang penting adalah haluskan pupuk tersebut dengan cara diayak. Struktur yang kasar tidak baik untuk pertumbuhan benih/biji yang baru berkecambah karena perakarannya masih terlalu lembut.

Campurkan bagian tanah dan pupuk organik dengan rasio 1:1. Atau bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Cirinya, setelah dicampurkan ditambah air teksturnya bisa solid (bisa dikepal tidak ambrol) namun tidak becek.

Membuat media persemaian
  • Campurkan tanah bagian atas (top soil) dengan pupuk organik (pupuk kompos atau pupuk kandang yang telah matang) komposisinya 1:1.
  • Untuk persemaian tray, masukkan campuran media tanam tersebut kedalamtray, padatkan secukupnya agar media bisa mencengkrap tanaman. Traysudah siap untuk media tanam.
  • Untuk persemaian polybag, campurkan media tanam yang telah dibuat dengan arang sekam dengan komposisi 1:1. Ambil polybag dengan ukuran yang disesuaikan dengan ukuran bibit tanaman. Media persemaian polybagsiap untuk ditanami.
  • Untuk persemaian cetak, siram campuran media tanam yang telah dibuat tersebut dengan air secukupnya. Air berfungsi untuk menyolidkan campuran agar mudah dibentuk dan tidak ambrol. Kemudian gunakan cetakan untuk membentuk adonan menjadi bentuk kotak-kotak kecil. Lubangi bagian atas kotak-kotak tersebut sedalam 1-2 cm untuk memasukkan benih. Media persemaian siap ditanami. 
Membuat media persemaian berbentuk bedengan
  • Campurkan tanah bagian atas (top soil) dengan pupuk organik dengan komposisi 1:1.
  • Kemudian bentuk bedengan dan letakan campuran tadi diatas permukaan bedengan. Ketebalan campuran hendaknya 5-7 cm, ketebalan ini optimal untuk tanaman yang baru tumbuh.
  • Siram bedengan dengan air secukupnya dan tebarkan benih di atas bedengan tersebut.
  • Buat tiang penyangga atau bambu yang dilengkungkan, kemudian tutup bedengan dengan paranet.
  • Penutup bedengan bisa dibuat permanen dengan paranet, atau dibuat dengan sistem tutup buka dengan plastik bening. Sistem tutup buka berguna pada musim hujan agar tanaman tidak terkena kucuran air hujan secara langsung. Benih yang cocok disemaikan di persemaian tipe bedengan adalah sayuran daun bersiklus pendek seperti sawi, caisim, pakchoi, dll.
Tiba-tiba Halim kedatangan tamu yang rupanya tamu tersebut sudah tidak asing lagi baginya maupun waga Bima khususnya yaitu Alan (sang sopir bus malam yang menginspirasi semua orang sejak dinobatkan menjadi pejuang pendidikan Indonesia tahun 2014 atau Dompet Duafa Award yang sudah ditayangkan oleh beberapa Media Nasional, seperti TVRI, Net TV dan Kick Andy MetroTV). 

Alan datang bersama petani cabe asal Belo yang memang sudah lama malang melintang di dunia tanaman  hortikultura, tentu saja kedatangan mereka menjadi suatu kehormatan bagi Halim untuk bertukar pikiran.

Kedatangan Alan adalah sesuai komitmennya;  ingin memajukan dunia pendidikan di-kampungnya dan memberdayakan seluruh masyarakat kampung untuk mengolah  lahan yang masih banyak nganggur  dengan tanaman hortikultura seperti  tomat, cabe dan sayur-sayuran dan lainnya.

Alan mengajak petani muda berbakat itu, untuk memberikan pelatihan dan pembinaan masyarakat serta anak-anak di kampungnya tentang bagaimana mengelola dan memaksimalkan sumber daya alam, untuk apa jauh-jauh merantau sedangkan alam disekitar kita sangat menjanjikan, pungkas Alan. 

abunawarbima@gmail.com

BUDAK DI NEGERI ORANG, BOS DI NEGERI SENDIRI



Bekerja di luar negeri menjadi upayanya mendapatkan modal untuk berusaha di Indonesia.Hingga ia bisa mewujudkan citacitanya menjadi pengusaha.

“SAYA ingin jadi pengusaha, akan enak sepertinya kalau hidup seperti orang kaya,“ ucap Richa Susanti, 35. Kalimat itu meluncur dengan mulus dari mulut Richa saat ditanya `apa cita-citamu?'. Sayangnya, jalan yang dilalui Richa mewujudkan mimpinya tidak semulus ucapannya. ucapannya.

Besar di keluarga dengan ayahnya berprofesi sebagai sopir truk dan ibu buruh tani, Richa harus menelan pil pahit tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah setelah lulus SMEA karena kondisi ekonomi.Selain itu, adik-adiknya juga membutuhkan dana untuk pendidikan.

“Padahal waktu itu saya ingin sekali mengambil manajemen bisnis,“ ucap Richa, yang tahu jurusan yang hendak ditujunya merupakan jalur utama menggapai cita-citanya menjadi pengusaha.

Karena tidak berjalan sesuai harapan, Richa pun memutuskan untuk bekerja ke negeri orang. Ia kan untuk bekerja ke negeri orang. Ia menilai dirinya belum memiliki keahlian untuk dikembangkan menjadi modal usaha.

Di usia 19 tahun, Richa bertolak ke Hong Kong dan bekerja sebagai tukang cuci di sebuah restoran. Pa dahal, kontraknya menyatakan ia seharusnya bekerja sebagai baby sitter.

“Saya pun sebenarnya enggak tahu, baru ketahuan kalau saya enggak bekerja sesuai kontrak ketika saat itu ditahan polisi,“ ucap Richa.

Tiga tahun bekerja di Hong Kong, Richa ditangkap polisi karena pelanggaran kontrak. Ia pun dipaksa pulang ke Indonesia dan mengakhiri petualangannya sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI). Meski begitu, Richa tidak pulang dengan tangan kosong. Ia membawa pulang uang tunai Rp150 juta yang digunakannya sebagai modal jualan buah, membeli sawah, dan motor. Namun, asa kembali menghampirinya, usaha berjualan buah yang dijalankan orangtuanya terpaksa gulung tikar. Utang keluarga bertumpuk dan terakhir ia harus menjual sawahnya.

“Pada saat itu saya tahu, akhirnya saya harus kembali menjadi TKI untuk membantu orangtua saya,“ ucap Richa, meskipun saat itu dirinya sudah menikah dan memiliki seorang putri berusia 2 tahun.Pelatihan wirausaha Richa pun kembali ke Hong Kong dengan penga laman berbeda. Bila dulu ia sulit mendapatkan laman berbeda. Bila dulu ia sulit mendapatkan jatah libur dan cuti, kali ini semua haknya ia dapatkan. Tercatat, selama 8 tahun bekerja, Richa sudah 4 kali pulang ke Indo nesia dengan alasan yang berbedabeda.

Ironisnya, 2 dari 4 alasan kembalinya Richa ke Tanah Air karena ditinggal orang terkasihnya, suami dan ayahnya. Kehilangan dua lelaki yang dicintainya itu menjadi titik terendah mentalnya.

Kembali ke Hong Kong setelah cuti dan berduka, Richa akhirnya mendapat sesuatu untuk diaplikasikan saat dia kembali ke Indonesia.Yakni modal menjadi seorang wirausahawan yang didapatkannya dalam sebuah seminar.

Saat akhirnya kembali ke Indonesia, Richa memiliki ide membuka rumah makan. Meski hanya menyasar kalangan pelajar kampus di Malang, tapi manajemennya berbeda. Di warung bernama Wabah (Warung Barokah), se tiap orang bisa memiliki kartu anggota guna menda patkan penawaran, baik diskon atau promo khusus.Sehingga, dijamin menghilangkan rasa monoton dari para pengunjung.

Selain rumah makan, bisnis Richa juga saat ini men cakup usaha bakso yang dinamakan bakso tersenyum, serta bubble drink bernama Rich Tea.
“Rich itu kan nama saya, pemberian ayah saya, yang artinya kaya,“ pungkas Richa sambil tersenyum.
(M-4) miweekend@mediaindonesia.com

MENCARI DANA UNTUK MENIKAH


Nur Cholis Bekerja sebagai TKI ia pilih untuk mengumpulkan modal untuk menikah. Pasalnya, lulusan pendidikan agama di sebuah universitas di Yogyakarta itu sulit mendapatkan pekerjaan. Padahal, ia didesak untuk segera menikahi sang kekasih yang kini menjadi istrinya, Siti Nur Qomariyah. Ia pun memutuskan untuk ke Arab Saudi untuk mencoba peruntungan mendapatkan modal menikah.

Malang bagi Nur, pekerjaan yang dijanjikan sebagai operator komputer hanya bualan belaka. Setibanya di Arab Saudi, ia harus bekerja sebagai cleaning service di sebuah hotel. “Pada waktu itu saya shocked, karena saat itu saya berangkat kerja menggunakan dasi,“ ucap Nur.

Hal itu tidak lantas membuat Nur patah semangat. Ia menjadikan tujuan utamanya sebagai pemecut semangatnya. Kerja keras Nur berbuah manis. Ia mendapatkan promosi berkali-kali hingga posisi terakhir yang ia tempati ialah manager marketing hotel.

Merasa sudah memiliki cukup modal, Nur kembali ke Indonesia dan menikahi Siti.Uniknya, setelah 1 tahun menikah, justru sang istri menjadi TKI ke Taiwan demi mengumpulkan modal usaha.

Sebenarnya Nur pun mengajukan diri untuk berangkat ke Taiwan. Apa daya, hanya sang istri yang diterima untuk bekerja di luar negeri. Di tengah rasa gatal harus tinggal di Indonesia, ia pun memutuskan untuk membuat usaha. Tidak disangka, usahanya berkembang pesat. Kini Nur dan Itong, panggilan akrab sang istri, berhasil memiliki sebuah toko tekstil yang tersebar di Jawa Tengah hingga Jawa Timur.

Tidak semata usaha, mereka pun membuat sekoalh taman kanak-kanak (TK) dan pesantren. Nur berharap para pelajar yang lulus pesantren nantinya bisa langsung bekerja. “Ke depannya saya ingin mengajarkan bagaimana membuat usaha bagi para lulusan pesantren saya,“ pungkas Nur. (Ric/M-4)

Thenk's share by :  miweekend@mediaindonesia.com

BERBAGI KASIH DARI JEPANG

MENDAPATKAN fasilitas dan pendidikan yang baik menjadi impian semua orang.Tidak terkecuali Megarini Puspasari yang beruntung mendapatkan beasiswa ke Jepang.Namun, ia memilih meninggalkan beasiswanya untuk membantu anak-anak kurang mampu yang terancam putus sekolah.

Bermula saat Mega pulang ke Tanah Air dan mendapatkan inisiatif dari obrolan bersama sang ibu mengenai anak di dekat tempat tinggalnya yang sulit untuk membayar SPP. Tergerak hatinya, Mega menawarkan membantu anak tersebut menggunakan dana pribadi yang didapatkannya dari menyisihkan uang sakunya selama di `Negeri Sakura'.
Tidak disangka perempuan berhijab itu ada banyak anak yang membutuhkan pertolongan serupa. Karena itu, Mega mengajak semua mahasiswa Indonesia yang berada satu kampus dengannya untuk melakukan hal yang sama.Respons positif pun didapatkan. Banyak rekan yang ikut ambil bagian dalam pola orangtua asuh tersebut.

“Bahkan teman-teman saya dari luar negeri pun ada yang ambil bagian,“ ucap Mega.

Mega pun memberi nama komunitasnya Hoshizora, dalam bahasa Jepang berarti `langit yang berbintang'. Sebuah kata yang mengandung filo sofi anak-anak Indonesia harus berani bermimpi dan mewujudkan impian mereka.

Gerakan Mega dalam Komunitas Hoshizora terus berlanjut hingga Mega memiliki pekerjaan di Jepang. Ia akhirnya melepaskan pekerjaannya demi mendirikan kantor pusat Hoshizora di Indonesia.

“Tapi alasan yang utama ialah karena pada saat itu saya sudah menikah dan suami saya berada di Indonesia,“ terang Mega.

Hoshizora merangkul para pelajar di tingkat SD, SMP, dan SMA. Guna memajukan generasi muda yang ingin melanjutkan ke bangku kuliah, sebuah bimbingan dan pengarahan bagi anak didik untuk mendapatkan beasiswa diberikan Mega dan 10 staf yang berada di Hoshizora.

“Selama ini kan beasiswa banyak, tapi pengetahuan mereka akan informasi tersebut sangat sedikit,“ pungkas Mega. (Ric/M-4)

Sumber : MI/15/02/2015/Halaman 16
533 orang dijangkau

DOKTER TELADAN YANG BETAH DI-PEDALAMAN


Bertugas di tempat terpencil tanpa fasilitas elektronik dan internet jauh dari bayangan Catrice Sheyang. Maklum, dokter muda itu sejak kecil tinggal di kota besar.

"Shock, pasti. Begitu lulus kuliah kedokteran, saya memang mendaftar dokter PTT di Bulungan. Sebab, ada saudara jauh di Tarakan. Tapi, saya pikir masih di perkotaan meski kota kecil," kata Catrice.

Karena itu, dia langsung shock saat kali pertama menginjakkan kaki di Desa Long Bang, Kecamatan Peso, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara), pada 2010. Desa Long Bang berada di hulu Sungai Kayan. Untuk sampai di desa tersebut, perlu tiga jam perjalanan dari Tanjung Selor, ibu kota Kabupaten Bulungan, atau sekitar 4 jam dari Bandara Juwata, Tarakan.

Tiga atau empat jam perjalanan bisa jadi bukan persoalan di kota besar yang berjalan mulus. Masalahnya, perjalanan di Desa Long Bang dapat ditempuh lewat jalur sungai dengan perahu cepat dan perahu kecil milik warga.

"Waktu awal bertugas, rasanya memang berat. Sejak lahir hingga lulus kuliah, saya tinggal di Surabaya. Kini tiba-tiba saya harus hidup di desa terpencil. Handphone tidak bisa digunakan, laptop tidak berfungsi. Listrik di sana hanya hidup tiga jam sehari, mulai pukul 18.00 hingga pukul 21.00 Wita. Setelah itu, saya harus menggunakan lampu teplok atau lilin untuk penerangan," ujar gadis kelahiran Surabaya, 22 September 1984, tersebut.

Toh, Catrice berusaha menikmati hari-harinya dengan penuh kesabaran. Hingga akhirnya dia mulai dekat dengan warga di Long Bang dan beberapa desa di sekitarnya yang mayoritas dihuni Suku Dayak.

"Saya akhirnya betah juga. Bahkan, rasanya berat meninggalkan desa itu. Warga di sana sudah menganggap saya seperti keluarga," tutur alumnus Universitas Hang Tuah, Surabaya tersebut.

Satu hal yang membuat Catrice betah, dirinya menganggap bertugas di pedalaman merupakan hal yang wajar bagi seorang dokter. "Selain itu, saya hobi traveling. Jadi, saya anggap ini jalan-jalan lama yang dibayar," jelasnya.

Tentu, banyak suka duka yang Catrice alami selama bertugas di pedalaman Kalimantan. Salah satu yang tidak terlupakan, saat tengah malam, rumahnya diketuk warga yang meminta tolong karena ada pasien yang pingsan.

"Begitu dapat kabar, saya langsung menyiapkan peralatan. Tak tahunya, pasien itu berada di desa lain. Saya harus menggunakan perahu kecil untuk sampai ke sana. Jadi, saya balik ke rumah ambil perlengkapan tambahan," ungkap Catrice.

Selama bertugas di Long Bang, tidak jarang Catrice dibayar sayuran atau ayam. "Mirip di sinetron ya. Tapi, saya benar-benar mengalami. Ternyata memang ada yang begitu," terangnya.

Menurut dia, 80 persen warga Desa Long Bang dan sekitarnya merupakan warga kurang mampu dan peserta Jamkesmas. "Jangan kaget, untuk bayar biaya berobat yang hanya Rp 3 ribu, mereka kadang tidak bisa, apalagi kalau belum panen. Karena itu, saat panen, kadang saya dikasih beras atau ayam. Sebab, waktu berobat, mereka tidak bisa bayar," paparnya.

Medan yang berat juga harus diatasi Catrice dalam bertugas. Puskesmas tempatnya bertugas membawahi enam desa di Kecamatan Peso. Hampir semua desa itu hanya bisa dilalui dengan perahu kecil atau ketinting. Tidak jarang, sungai yang dilaluinya berarus deras, bahkan ada jeram.

"Pernah saya mendapat laporan bahwa ada pasien persalinan di salah satu desa. Untuk ke sana, kami harus menyusuri sungai dengan ketinting selama tiga jam. Di kanan-kiri sungai itu terdapat hutan lebat. Perjalanan juga tidak muslus. Kadang saya harus turun dan berjalan di air karena perahu kandas. Saya harus membantu mendorong perahu," tuturnya.

Ditanya keinginan berpindah tempat tugas, Catrice menyatakan tidak berniat mengajukan pindah ke kota. "Saya merasa sudah nyaman. Memang, tidak munafik ya, kalau dipindahkan ke kota, saya mau. Tapi, untuk meminta pindah, tidak ada dalam benak saya," ujarnya.

Tentu, Catrice ingin melanjutkan kuliah untuk mengambil spesialisasi. Namun, dia terasa berat meninggalkan tempat bertugas sekarang. "Kalau diberi kesempatan ambil spesialis, saya masih ingin kembali ke Bulungan," kata dokter yang bercita-cita menjadi ahli bedah tersebut.

Karena kemampuannya bertahan, apalagi dianggap berhasil membina warga, Catrice mendapat penghargaan dari Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi pada puncak Hari Kesehatan Nasional (HKN) di JI Expo Kemayoran Jumat (15/11). Dia dinilai berhasil membina warga daerah terpencil untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

"Di sana kami bantu satu desa untuk menjadi percontohan Desa Sehat. Kami bersyukur desa itu menjadi juara di tingkat kabupaten dan provinsi," lanjutnya. 

Sumber: JPNN