BEBERAPA TRADISI DALAM MENYAMBUT LEBARAN

"MENJALIN KEBERSAMAAN LEWAT KETUPAT"
SEJUKNYA angin berhembus di tengah terik matahari di Kampung Kebon Danas yang terletak di sebelah utara Bogor. Fitri, 24, salah satu warga kampung tersebut, terlihat asyik duduk bersila beralas tikar.

Tangannya sibuk memilin janur atau kulit kelapa muda untuk dijadikan wadah ketupat. Sembari bekerja, Fitri berbincang dengan beberapa rekan yang punya kesibukan sama.



Pemandangan seperti itu biasa terjadi di Kampung Kebon Danas RT 03/RW 07, Kelurahan Cimahpar, Bogor, Jawa Barat. Membuat ketupat menjadi mata pencaharian sambilan ibu-ibu rumah tangga di kampung tersebut. “Biasanya saya mengerjakan kulit ketupat setelah pekerjaan rumah selesai,“ ujar Fitri yang mengaku hanya mengerjakan selama menjelang Ramadan.



Namun, ibu lain setiap hari rutin membuat kulit ketupat. Upah yang didapat sekitar Rp2.000 untuk 100 kulit ketupat. Dalam satu hari, rata-rata para ibu bisa menyelesaikan sekitar 500 wadah ketupat. Itu berarti Fitri dan para ibu lain ratarata mendapatkan Rp10.000 per hari.


Di dalam kampung tercatat ada 75 kepala keluarga, 8 di antaranya merupakan penjual ketupat yang telah menjalani usaha mereka selama berpuluh-puluh tahun. Di luar 8 keluarga itu, warga bahu-membahu memilin janur menjadi kulit ketupat. Utih, 37, salah seorang penjual ketupat, memiliki 4 keluarga yang biasa dia minta tolong untuk menganyam janur. Dalam satu hari, keluarga tersebut mulai dari bapak, ibu, hingga anak-anak bisa menghasilkan 5.000 kulit ketupat.

Utih memaparkan usaha ketupat di kampungnya telah berlangsung turuntemurun. Usaha yang dia geluti merupakan warisan keluarga. “Saya enggak tahu persis kapan dimulainya, tetapi sejak saya kecil pun orangtua saya sudah menjadi penjual ketupat,“ kisahnya.

Usaha ketupat telah mengakar dan menyebar di Kampung Danas. Bahkan Jai, 68, Ketua RT 03/RW 07 di kampung itu, ikut mencoba usaha berjualan ketupat sejak 10 tahun lalu.

“Usaha saya skalanya kecil, tapi sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga.“ tuturnya. Kampung ketupat Menurut Jai, lewat ketupat, kampung mereka menjadi tenar. Dikenal masyarakat Kota Bogor, sampai Banten dan Pelabuhan Ratu, Jawa Barat.

Di kampung ketupat, jalinan daun kelapa sudah menjadi tradisi. Bukan hanya dalam bentuk harfiah, tetapi juga kerukunan dan kerja sama semua warga. Mereka saling melengkapi, mulai dari penjual daun kelapa, pembuat kulit ketupat, pembuat ketupat jadi, hingga sopir angkot yang membawa ketupat ke pasar untuk dijual.

TRADISI LEBARAN DI BEBERAPA NEGARA


Tradisi mudik bisa dibilang hanya ada di Indonesia. Bagaimana dengan negara muslim lainnya? Lain budaya, lain pula kebiasaan, dalam memeriahkan atau melaksanakan Hari Iedul Fitri. Selama satu bulan lamanya, umat Muslim dunia menjalankan ibadah Ramadhan yang ditutup dengan Shalat Ied, sebagai simbol Kemenangan. Berikut 5 Tradisi Lebaran di berbagai negara:

1. Indonesia






Umat Islam di Indonesia menjadikan Idul Fitri sebagai hari raya utama, momen untuk berkumpul kembali bersama keluarga, apalagi keluarga yang karena suatu alasan, misalnya pekerjaan atau pernikahan, harus berpisah. Mulai dua minggu sebelum Idul Fitri, umat Islam di Indonesia mulai sibuk memikirkan perayaan hari raya ini, yang paling utama adalah Mudik atau Pulang Kampung, sehingga pemerintah pun memfasilitasi dengan memperbaiki jalan-jalan yang dilalui. Hari Raya Idul Fitri di Indonesia diperingati sebagai hari libur nasional, yang diperingati oleh sebagian besar masyarakat Indonesia yang memang mayoritas Muslim. Biasanya, penetapan Idul Fitri ditentukan oleh pemerintah, namun beberapa ormas Islam menetapkannya berbeda.



Idul Fitri di Indonesia disebut dengan Lebaran, dimana sebagian besar masyarakat pulang kampung (mudik) untuk merayakannya bersama keluarga. Selama perayaan, berbagai hidangan disajikan. Hidangan yang paling populer dalam perayaan Idul Fitri di Indonesia adalah ketupat, yang memang sangat familiar di Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Singapura. Bagi anak-anak, biasanya para orang tua memberikan uang raya kepada mereka. Selama perayaan, biasanya masyarakat berkunjung ke rumah-rumah tetangga ataupun saudaranya untuk bersilaturahmi, yang dikenal dengan “halal bi-halal”, memohon maaf dan keampunan kepada mereka. Beberapa pejabat negara juga mengadakan open house bagi masyarakat yang ingin bersilaturahmi.


2. Turki


Di Turki, Idul Fitri dikenal dengan sebutan Bayram (dari bahasa Turki). Biasanya setiap orang akan saling mengucapkan “Bayram?n?z Kutlu Olsun”, “Mutlu Bayramlar”, atau “Bayram?n?z Mübarek Olsun”. Pada Idul Fitri, masyarakat biasanya menggunakan pakaian terbaik mereka (dikenal sebagai Bayramlik) dan saling kunjung mengunjungi ketempat orang-orang yang mereka kasihi seperti keluarga, tetangga, dan teman-teman mereka serta menziarahi kuburan keluarganya yang telah tiada.

Pada masa itu, orang yang lebih muda akan mencium tangan kanan mereka yang lebih tua dan menempatkannya di dahi mereka selagi mengucapkan salam Bayram. Para anak-anak kecil juga biasa mendatangi rumah-rumah disekitar lingkungannya untuk mengucapkan salam, dimana mereka biasanya diberikan permen, cokelat, permen tradisional seperti Baklava dan Lokum, atau sejumlah kecil uang.

3. Arab Saudi


Di Arab Saudi, tepatnya di Riyadh, umat Islam mendekorasi rumah saat Idul Fitri tiba. Sejumlah perayaan digelar seperti pagelaran teater, pembacaan puisi, parade, pertunjukan musik, dan sebagainya. Soal menu Lebaran, umat Islam di sana menyantap daging domba yang dicampur nasi dan sayuran tradisional. Hal ini juga terjadi di Sudan, Suriah, dan beberapa negara Timur Tengah lainnya.

4. Nigeria


Nigeria adalah negara sekuler yang dihuni oleh sejumlah besar umat Islam dan Kristen. Oleh karena itu, sebagian Muslim merayakan perayaan Idul Fitri, dimana banyak pula orang Kristen turut berpartisipasi. Di Nigeria, Idul Fitri dikenal sebagai “Sallah Kecil” dan umumnya orang saling menyapa dengan ucapan tradisional: “Barka Da Sallah,” yang berarti “Salam di Sallah” dalam bahasa Hausa. Umumnya di Nigeria, ketika Ied ditetapkan sebagai hari libur nasional yang ditetapkan selama dua hari. Banyak keluarga Muslim pulang ke kampung halaman masing-masing untuk mengunjungi keluarga dan kerabat.

5. China


Di Republik Rakyat Cina, dari 56 kelompok etnis yang diakui secara resmi, 10 kelompok etnis diantaranya adalah mayoritas beragama Islam. Kelompok-kelompok Muslim ini secara total tercatat berjumlah 18 juta jiwa lebih menurut statistik resmi. Di Cina, tepatnya di Xinjiang, perayaan Lebaran justru tampak meriah. Kaum pria mengenakan jas khas dan kopiah putih, sementara wanita memakai baju hangat dan kerudung setengah tutup. Seusai salat Idul Fitri, pesta makan dan bersilaturahim pun dilakukan. Lebaran atau Iedul Fitri berhak dan ditetapkan sebagai hari libur.


Di propinsi Yunnan, beberapa umat Muslim pada Idul Fitri, mengunjungi makam leluhur dan makam tokoh Muslim setempat. Di sana, mereka akan melakukan pembacaan dari Al Qur’an dan membersihkan makam. Hal ini mengingatkan festival tahunan bersejarah Qingming Cina, di mana orang pergi kuburan nenek moyang mereka, menyapu dan membersihkan daerah itu dan membuat persembahan makanan. Ritual doa ini dilakukan doa khusus untuk menghormati ratusan ribu Muslim tewas selama Dinasti Qing, dan ratusan tewas selama Revolusi Kebudayaan.



Tunisia

Umat Islam Tunisia merayakan Idul Fitri selama tiga hari dengan persiapan selama beberapa hari sebelumnya. Masyarakat Tunisia membuat biskuit spesial untuk diberikan kepada keluarga dan teman-teman mereka, termasuk Baklawa dan beberapa jenis kaak, yaitu makanan asli Pakistan yang berbentuk roti keras.

Para lelaki akan berangkat ke masjid lebih dulu, sementara para perempuan boleh ikut bersama mereka atau tinggal di rumah. Di rumah mereka mempersiapkan rumah untuk perayaan dengan meletakkan pakaian dan mainan baru untuk anak-anak mereka. Setelah itu, mempersiapkan makan siang di rumah keluarga besar. Biasanya makan siang dilaksanakan di rumah orang yang dituakan.

Membagi-bagikan kado adalah bagian dari tradisi. Berbagai hidangan disajikan. Setiap keluarga saling mengunjungi sanak family. Biasanya anak-anak menemani ayah mereka untuk berkunjung ke paman, bibi, kakek dan nenek serta teman-teman mereka untuk mengucapkan selamat hari raya. Mereka akan ditawari minuman dan kue-kue. Para wanita dan beberapa anak tinggal di rumah untuk menyambut para keluarga yang datang berkunjung ke rumah dan mengucapkan selamat Idul Fitri.

Afrika Selatan
Di kota Cape Town, Afrika Selatan, sebagian kaum Muslim akan berkumpul di Green Point pada malam hari di akhir Ramadhan untuk mengamati bulan. Mereka berasal dari tokoh-tokoh Islam di wilayah itu. Setelah mengamati bula, maka mereka akan mengumumkan 1 Syawal sebagai Hari Raya Idul Fitri.

Setelah shalat Id, kaum Muslim saling mengunjungi sanak saudara dan tetangga. Anak-anak memperoleh hadiah dan uang dari yang lebih tua, baik orangtua, tetangga, maupun famili yang lain. Kebanyakan orang memakai pakaian baru dengan warna-warna cerah. Biskuit, kue, dan samosa, kacang, dan kue tart disuguhkan untuk tamu di rumah. Makan siang dilaksanakan bersama sekelompok besar keluarga di satu tempat.
Nigeria

Meski tergolong negara sekuler, perayaan Idul Fitri di Nigeria juga amat meriah. Di negara itu, pemeluk Kristen pun ikut berpartisipasi. Idul Fitri dikenal sebagai Sallah kecil atau Lebaran kecil. Setiap orang saling menyapa dan mengucapkan selamat Idul Fitri, ‘’Barka da Sallah”.

Kaum Muslim melaksanakan shalat Id di lapangan yang ditetapkan. Sebelum pulang ke rumah, mereka makan bersama keluarga yang telah disiapkan oleh para ibu. Hari libur ini dilaksanakan selama dua hari di Nigeria. Apabila Idul Fitri jatuh pada akhir pekan atau berlanjut dengan akhir pekan orang-orang Nigeria akan memanfaatkan hari libur tersebut dengan pulang ke daerah masing-masing untuk mengunjungi sanak saudara.

Arab Saudi
Islam adalah agama resmi di Arab Saudi, karena di sinilah Islam pertama kali diturunkan. Idul Fitri dirayakan dengan meriah di Negara yang memiliki dua kota suci, Makkah dan Madinah itu. Menjelang Idul Fitri tiba, orang Arab akan menghiasi rumah mereka dan para ibu memasak untuk dihidangkan di hari raya ini.
Festival Idul Fitri di Arab Saudi sangatlah beragam, tergantung daerahnya. 

Di hari nan fitri itu, kedermawanan dan keramahtamahan tampak dengan jelas. Keluarga Arab memiliki tradisi berkumpul bersama keluarga besar seusai shalat Idul Fitri. Sebelum masakan khas Idul Fitri dihidangkan, anak-anak akan berbaris di depan setiap orang dewasa di dalam keluarga yang membagi-bagikan riyal kepada mereka. 

Anggota keluarga juga memberikan hadiah kepada anak-anak yang hadir. Hadiah yang berbentuk tas ini biasanya berisi mainan dan permen yang telah dibungkus dengan indah. Bahkan pemilik toko pun menunjukkan kemurahan hati mereka dengan memberikan hadiah gratis pada pembelinya. 

Orang-orang turun ke jalan dan menunjukkan kemurahan hati mereka. Kadang-kadang orang asing memberikan hadiah kepada anak-anak yang tidak mereka kenal. Di Arab juga terdapat tradisi pria Arab pergi membeli beras dan bahan pokok lain dalam jumlah besar, lalu menaruhnya di depan pintu orang-orang dhuafa secara acak.

Turki
Di Turki libur hari raya ini disebut dengan Bayram dan Idul Fitri disebut dengan Seker Bayrami dan Ramazan Bayrami. Hari Idul Fitri adalah hari libur nasional, yaitu ketika seluruh kantor pemerintah dan sekolah ditutup selama tiga hari berturut-turut untuk memeriahkan perayaan ini.

Perayaan ini diresapi dengan tradisi tradisional. Biasanya orang-orang bertemu dengan orang lain dan mengucapkan, ‘’Bayraminiz kutlu olsun’’ atau ‘’Mutlu Baylamar’’. Di hari itu orang-orang datang ke masjid dengan pakaian terbaik mereka, mengunjungi orang-orang yang mereka cintai seperti saudara, teman, dan tetangga. 

Mereka juga melayat ke pemakaman untuk mendoakan saudara yang telah meninggal. Di pemakaman terdapat sebuah bazaar sementara tempat orang menjual bunga, air dan buku doa bagi pelayat. Bazaar ini berlangsung selama tiga hari Idul Fitri. Hari pertama adalah hari yang paling penting karena orang-orang datang ke masjid untuk melaksanakan shalat.

Hari ini juga menjadi kehormatan bagi orangtua karena yang lebih muda menyalami yang lebih tua dan mencium tangan kanan orangtua. Biasanya anak-anak juga pergi ke sekitar lingkungan rumahnya, dari pintu ke pintu, dan memberikan ucapan selamat Bayram. Dari para tetangga yang dikunjungi mereka memperoleh permen, coklat dan permen tradisional seperti baklava dan penganan Turki. Mereka juga memperoleh uang meskipun tidak banyak.

Mesir
Idul Fitri dirayakan selama tiga hari di Mesir dan menjadi hari libur nasional. Sama seperti di Turki, seluruh sekolah, universitas, dan kantor pemerintahan libur. Beberapa toko dan restoran pun tutup pada Idul Fitri dan baru buka beberapa hari kemudian.

Hari yang fitri ini dimulai dengan penganan kecil, diikuti dengan shalat Idul Fitri yang diikuti oleh laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang mengingatkan orang-orang Mesir akan kebaikan yang harus mereka lakukan pada orang lain.

Setelah shalat Idul Fitri umat Muslim engunjungi tetangga, teman, dan saudara mereka untuk mengucapkan selamat hari raya. Biasanya mereka mengucapkan, “Eid Mubarak”. 
Pada hari pertama lebaran seluruh warga wajib mengunjungi sanak saudara mereka sehingga pada hari kedua dan ketiga warga dapat menikmati liburan dengan pergi ke taman, pantai, aau bioskop. Beberapa warga pergi ke Sungai Nil, namun Sharm El Sheikh juga menjadi titik favorit warga Mesir.

Anak-anak biasanya diberi baju baru pada hari Idul Fitri. Mereka memperoleh Eid-ey-yah dari orang dewasa, yaitu sejumlah uang yang dapat mereka pakai di hari raya tersebut. Para perempuan juga diberi hadiah spesial dari orang yang mereka sayangi. Berkumpul keluarga juga menjadi tradisi di hari yang suci ini. Mereka memasak makanan seperti fata, khaka, yaitu penganan yang diisi kacang dan ditutupi oleh taburan gula.

Qatar
Momen Idul Fitri menjadi hal yang penting bagi masyarakat Qatar, karena di hari ini seluruh keluarga berkumpul dan merayakan Idul Fitri bersama-sama. Persiapan Idul Fitri dilakukan sekitar seminggu hingga sepulu hari sebelum Ramadhan berakhir. Akhir Ramadhan adalah hari-hari sibuk bagi perempuan Qatar karena merekalah yang melakukan hampir seluruh persiapan. 

Para penjahit kelebihan pesanan karena banyaknya perempuan yang menjahitkan pakaian untuk Idul Fitri. Sepuluh hari menjelang Idul Fitri di ibu kota Qatar, Doha, lalu lintas menjadi mimpi buruk bagi orang-orang di sana. Bak banjir melanda, orang-orang datang ke toko baju, penjahit, dan pasar untuk membeli keperluan Idul Fitri mereka. Akhir Ramadhan polisi disiagakan di tempat-tempat tertentu untuk mengatur lalu lintas.

Afghanistan
Di negara berbudaya Islam Sunni, Idul Fitri memegang peranan yang sangat penting. Masyarakat Afghanistan mulai mempersiapkan Idul Fitri sepuluh hari sebelumnya dengan membersihkan rumah mereka. Hal ini dikenal dengan Khana Takani. Masyarakat pergi ke bazaar dan membeli baju baru, permen, dan kue yang dihidangkan untuk para tamu.
Pada hari Idul Fitri mereka melaksanakan shalat berjamaah dan pulang ke rumah untuk makan bersama kelarga besar. Mereka saling mengunjungi rumah saudara dan tetangga sambil mengucapkan “Eid Mubarak”.

Asia Selatan
Malam sebelum Idul Fitri di Pakistan, India, Bangladesh, Sri Lanka, dan Nepal disebut Chaand Raat yang artinya malam sebelum bulan. Muslim di negara-negara ini mengunjungi pasar dan toko untuk membeli keperluan lebaran. Anak-anak gadis akan memakai henna di tangan dan kaki mereka dan memakai gelang berwarna-warni.

Mereka mengucapkan “Eid Mubarak” dan diikuti dengan pemberian hadiah dan baju. Setelah mereka melaksanakan shalat Idul Fitri biasanya masyarakat berkunjung ke pemakaman untuk mendoakan keluarga yang telah meninggal.

Di India masjid-masjid terkenal penuh oleh Muslim yang ingin melaksanakan shalat Idul Fitri. Di Bangladesh Sholakia menjadi pusat shalat Idul Fitri. Sekitar 300 ribu Muslim melaksanakan shalat Idul Fitri di sana setiap tahunnya. Kebanyakan masyarakat di Asia Selatan merayakan Idul Fitri selama tiga hari.

Amerika Serikat
Kebanyakan Muslim di Amerika Serikat melaksanakan shalat Idul Fitri di pusat kebudayaan Islam di kota besar. Muslim dari budaya dan negara yang berbeda datang untuk merayakan Idul Fitri bersama-sama. Di beberapa kota shalat dilakukan beberapa kali untuk mengakomodasi jamaah yang ada. Secara umum mereka mengunjungi setiap rumah Muslim atau komunitas.

Inggris
Meskipun Idul Fitri tidak menjadi hari libur nasional di Inggris, Muslim di sana diwajibkan untuk mengikuti shalat Idul Fitri pada pagi hari. Di wilayah yang mayoritas berpenduduk Muslim , sekolah dan bisnis lokal sering memberikan keringanan bagi Muslim untuk merayakan hari ini dengan memberi mereka libur.

Setelah shalat, biasanya umat Muslim mengunjungi pemakaman lalu pulang ke rumah. Mereka akan memberikan selamat pada keluarga, mengunjungi keluarga terdekat dan tetangga Muslim. mereka juga sering memasak masakan tradisional daerah masing-masing.

Asia Tenggara
Idul Fitri menjadi hari terbesar di Indonesia dan Brunei Darussalam. Sedangkan di Malaysia dan Singapura Idul Fitri menjadi salah satu hari besar yang dirayakan masyarakat setempat.

Mudik menjadi tradisi di Indonesia. Mudik dilakukan oleh mayoritas masyarakat yang tinggal di Jakarta dan Surabaya. Biasanya pemudik kembali ke daerah mereka di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Jawa. Hal itu mereka lakukan hanya untuk berkumpul bersama keluarga di hari besar tersebut. Pemerintah menyediakan jasa transportasi dan mempersiapkan infrastruktur sebelum tradisi mudik ini dilaksanakan. Tradisi mudik ini menyebabkan kemacetan luar biasa di beberapa tempat.

Myanmar
Idul Fitri hanya dilaksanakan satu hari oleh umat Muslim di Burma. Selama Ramadhan kota kecil dengan komunitas Muslim mengorganisir acara yang disebut ‘Jago’ yang artinya ‘bangun’. Jago berkeliling menyanyikan lagu popular dari film Hindi yang diubah menjadi lirik berbahasa Burma dan berisi tentang puasa.

Meskipun Idul Fitri bukan hari libur nasional di Burma, kebanyakan pegawai di sana sangat mengerti arti Idul Fitri bagi umat Muslim. Para pemilik perusahaan memberi keringanan bagi masyarakat Muslim untuk merayakan Idul Fitri. Beberapa di antara mereka bahkan mengunjungi pegawai mereka yang Muslim.