HATI-HATI NGEGOSIP, KARENA LIDAH ITU TAK BERTULANG



Dapatkah kita menghitung setiap kata yang keluar dari mulut kita? Entah yang terucap atau tertulis diberbagai status sosialmedia atau lainnya. Mungkin dapat asal ada niat. Wanita mengeluarkan kata-kata 16000-21000 per hari secara rata-rata, sedangkan laki-laki hanya 5000-9000.” Waaahh, hebat juga ya mulut kita, siapa dulu penciptanya, Allahu Akbar.


Dari semua kata-kata yang keluar dari mulut kita itu, dapatkah kita memperkirakan yang lebih banyak keluar dari mulut kita, kebaikankah? Atau malah keburukan? Pantaslah apabila kita renungi setiap perkataan yang keluar dari mulut kita bahkan sudah semestinya kita berhati-hati pada mulut yang memang tidak bertulang tapi tajamnya bisa lebih dari pedang, melukai bahkan membunuh. 

Karena seperti kita akui bersama, bahwa acapkali kata-kata yang keluar dari mulut kita ini sulit terkontrol terlebih lagi kaum perempuan yang kalau sudah kumpul lebih dari dua orang mampu menghabiskan waktu berjam-jam untuk saling berkata-kata mulai dari saling bertukar cerita sampai menceritakan kebaikan ataupun keburukan orang lain, pokok kek semua dikupas tuntas! Bahkan setajam silet! Berarti benar juga ya? Kalau perempuan lebih banyak berkata-kata dibandingkan laki-laki. Pantaslah lebih banyak perempuan yang bawal eh maksudnya bawel daripada laki-laki.

“Maklum ibu-ibu, suka banyak bicara!” pernah dengar ungkapan itu kan? Padahal belum tentu juga seorang laki-laki mampu mengerem omongannya, ada saja kok laki-laki yang banyak bicara walaupun tak banyak yang berbicara banyak. Berbicara itu fitrah! Semua orang bahkan ketika bayi pun kita sudah mulai belajar mengoceh dan merespon sapaan! Akan tetapi kalau sudah sampai tahapan ngomongin orang sudah seperti tengah makan bangkai saudaranya sendiri.

“Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka, tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat Lagi Maha Penyanyang.” (QS. Al-Hujurat: 12).

Atau jangan sampai tanpa sengaja kita ikut mencicipi daging bangkai saudara kita, artinya terkadang mungkin kita tak mampu mengendalikan lidah hingga tanpa sadar membicarakan mereka yang membicarakan kita, na’udzubillah.

Peribahasa lainnya mengatakan, mulutmu harimaumu. Sungguh luar biasa mulut kita ini, dia dapat lebih mengaung daripada harimau, menerkam dan membahayakan orang lain dan bahkan diri kita sendiri. Mulut oh…mulut, jika tak kita jaga apa yang keluar daripadanya kita akan binasa! Setiap perkataan kita akan dicatat dan diperhitungkan. Allah SWT berfirman, “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaaf: 18)

Renungi ayat ini, dengan hati dan pikiran kita yang merindukan kebaikan selalu bahwasanya, semua perkataan baik maupun buruk telah terekam dan kelak akan diputar rekamananya di hadapan Allah kelak, kita akan menyaksikan sendiri setiap kata yang terlontar dari mulut. Pastinya kita akan ditanya kenapa kita mengatakan ini dan itu? Begitu mudahnya kita berkata-kata akan tetapi tak semudah mempertanggungjawabkan semuanya, dalam surat Al-Isra; 36 Allah kembali menjelaskan,

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.”.

Kita manusia yang memang tak luput dari dosa akan tetapi sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaga diri kita dari panasnya api neraka dengan menjaga lisan sebagaimana yang dikatakan Nabi tercinta Muhammad saw, dari Abu Hurairah bahwasanya ia mendengar Nabi bersabda, “ Sesungguhnya seorang hamba bisa jadi berbicara dengan suatu perkataan yang tidak ia pikirkan (terlebih dahulu) , padahal justru dengan sebab perkataannya itu ia akan dapat tergelincir ke neraka yang jaraknya lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat.” (Muttafaq’alaihi).

Mulut dapat menyeret kita ke dalam neraka, tenggelam dalam kobaran api yang membara, sungguh bahayanya mulut yang tak terjaga, oleh karena kita masih dapat mengusahakan mengeluarkan setiap kata yang baik dari mulut kita ini dan mencegah kata-kata kotor ataupun kasar dari mulut kita, jika kita kesulitan untuk itu ikutilah petuah Baginda Nabi Muhammad saw, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia mengatakan yang baik atau diam.”

Ada sebuah kisah bahwa suatu ketika sahabat Muadz bin Jabal bertanya pada tentang amal yang bisa memasukkannya ke surga atau menjauhkannya. Rasul menjawab, dan di ujung hadits yang menjelaskan,

“Tidakkah engkau mau aku beritahu dengan sesuatu yang sangat menentukan dengan itu semua?” Rasul lalu memegang lisannya dan mengatakan, “peliharalah ini.” Mu’adz kemudian mengatakan, “Ya Rasulullah, apakah kita kan dihukum dengan apa yang akan kita katakan?” Ia menjawab, “Wahai Mu’adz, apakah akan dijerumuskan ke neraka di hadapan mereka, kecuali karena apa yang diucapkan lisannya, “ (HR. Turmudzi). 

Sekali lagi, mari menjaga lisan dari segala macam perkataan karena mungkin ketika kita berbicara kepada orang lain tanpa sengaja kita melukai hatinya. Jikalau begitu pantaslah kita mengatur tutur kata kita, tidak meninggikan suara kita, dan lebih baik diam daripada khawatir tidak bisa menjaga lisan yang tak bertulang ini. Bukankah lebih baik menjaga daripada mencoba asap panasnya api neraka karena lisan yang tak terjaga?! Dari Abu Hurairah dia berkata,

“Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang dijaga oleh Allah dari keburukan yang ada di antara kedua rahangnya (mulut) dan keburukan yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan), maka ia masuk surga,” (HR. At-Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa in adalah hadits hasan shahih)

Semoga kita termasuk ke dalam orang-orang yang mampu menggapai surga dengan menjaga lisan kita. Aamiin.